Peninggalan Tradisi Megalitik Garut Masih “Diterlantarkan”

0
163 views

Fotografer : John Doddy Hidayat

Garut News ( Ahad, 10/04 – 2016 ).

Ilustrasi, Lisung (Penumbuk Padi), Juga Menjadi Koleksi Museum Disbudpar Kabupaten Garut.
Ilustrasi, Lisung (Penumbuk Padi), Juga Menjadi Koleksi Museum Disbudpar Kabupaten Garut.

Kabupaten Garut, Jawa Barat, selama ini memiliki juga dikenal dengan ragam kawasan wisatanya. Lantaran terdapat potensi wisata alam maupun artificial (buatan).

Mulai wisata sejarah, budaya, hutan, gunung, belanja, hingga wisata bahari. Termasuk sejumlah situs cagar budaya juga berpotensi menjadi obyek wisata dengan pelbagai temuan arkeologinya.

Tetapi sangat ironis. Sejauh ini, perhatian pemerintah terhadap keberadaan situs-situs cagar budaya di kabupaten setempat terbilang masih minim. Sehingga banyak keberadaan situs tersebut masih jarang diketahui orang bahkan masyarakat Garut sendiri.

Padahal eksistensinya sangat penting lantaran berkaitan erat dengan sejarah peradaban bangsa, khususnya masyarakat Garut. Salah satunya Situs Pasir Lulumpang di Desa Cimareme Kecamatan Banyuresmi.

Situs itu merupakan sebuah bukit, dalam bahasa Sunda disebut pasir, berada di antara beberapa bukit sekitar dataran bekas daerah rawa. Bukit ini dinilai sejumlah ahli kepurbakalaan merupakan peninggalan tradisi “megalitik” merupakan pula bangunan megalitik punden berundak dilengkapi lulumpang atau lumpang-lumpang batu.

Disebut punden berundak sebab bentuknya berundak-bundak. Sedangkan lulumpang atau lumpang merupakan wadah terbuat dari kayu atau batu untuk menumbuk padi, biji-bijian atawa bahan olahan lainnya, dengan alat penumbuk terbuat dari kayu disebut halu atau alu. Keberadaan lumpang batu pun dinilai kalangan ahli kepurbakalaan, ada sejak zaman prasejarah.

Situs Pasir Lulumpang dapat dijangkau dengan roda dua maupun empat karena letaknya tak begitu jauh dari Jalan Raya Garut-Balubur Limbangan. Dari arah kota Garut, Pasir Lulumpang berjarak sekitar 11 kilometer melewati kawasan obyek wisata Situ Bagendit bisa ditempuh hingga simpang pertigaan Desa Cimareme, dan dilanjutkan melalui jalan desa beraspal hingga simpang pertigaan menuju situs.

Dari arah Bandung, lokasi situs dapat ditempuh melalui jalan alternatif Leles-Leuwigoong, atau melalui Pasar Balubur Limbangan menuju arah kota Garut.

Sedangkan sari Jalan Raya Garut-Balubur Limbangan betulan simpang pertigaan Desa Cimareme, perjalanan hanya dapat ditempuh dengan roda dua atau berjalan kaki karena lebar jalan menuju situs tak memadai. Selain menanjak dan terdapat kelokan cukup tajam, keadaan jalan juga terbilang rusak parah. Sehingga cukup berbahaya jika dipaksakan dilintasi kendaraan roda empat.

Juga ironis, sepanjang jalan menuju lokasi tak terdapat papan penunjuk lokasi situs. Hanya ada satu papan penunjuk keberadaan situs yakni pada simpang pertigaan jalan Desa Cimareme menuju lokasi. Itu pun ukuran media dan tulisannya sangat kecil.

Sehingga para pengunjung harus sering bertanya kepada warga yang ditemui di jalan agar tak kebablasan berjalan ke arah lain.

Situs Pasir Lulumpang sebenarnya cukup nyaman bagi mereka yang menyukai keheningan. Banyaknya pohon jati serta tumbuhan lain termasuk tanaman bambu membuat suasana terasa sejuk. Menafakuri serta menelaah lingkungan situs berikut sejumlah peninggalan peradaban prasejarah bisa dilakukan dengan lebih fokus, dan tenang.

Sekali-kali, pengunjung dapat memperhatikan aktivitas warga bertani di sekitar lingkungan situs dari arah Pasir Lulumpang dengan jelas.

Dari keadaannya, lokasi situs terlihat jarang sekali dikunjungi, bahkan tak terawat. Pengamanan situs juga mengkhawatirkan karena rentan terhadap kemungkinan aksi tangan-tangan jahil.

Meski lingkungan situs dikelilingi pagar pengaman dari kawat, namun pada beberapa titik, berkondisi rusak. Bahkan pintu masuk pun hanya terbuat dari kerangka kayu usang tanpa dikunci atau digembok.

Tak ada pos penjagaan, apalagi pos tiket masuk. Keadaannya nyaris menyerupai komplek makam tanpa penjaga. Kendati di sana terpampang plang berukuran cukup besar menandakan Situs Pasir Lulumpang merupakan Cagar Budaya di bawah pengelolaan Balai Pengelolaan Kepurbakalaan Sejarah dan Nilai Tradisional Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat, dan papan informasi mengenai Undang Undang Cagar Budaya.

Padahal Situs Pasir Lulumpang memiliki nilai penting dari aspek kesejarahan, kebudayaan, dan ilmu pengetahuan. Sehingga situs tersebut juga sangat laik dikembangkan sebagai objek wisata budaya unggulan memiliki daya tarik terutama bagi kalangan pelajar, atau mahasiswa berminat di bidang sejarah, dan purbakala.

“Ya, sekalipun ini kewenangan Pemprov atau Balai Arkeologi, tetapi Pemkab Garut juga tak bisa hanya berpangku tangan. Tetap mestinya Pemkab lebih bisa “ngamumule” serta selalu koordinasi, termasuk penataan dan pengembangannya. Mana yang bisa ditangani Garut, dan mana memang hanya bisa ditangani Pemprov. Sebab selain lokasinya ada di Garut, yang menerima manfaat, multiplayer efeknya juga masyarakat Garut,” imbuh pegiat Forum Komunikasi Kelompok Penggerak Pariwisata Kabupaten Garut Irno Sukarno, Sabtu (09/04-2016).

Dia menilai keberadaan Situs Pasir Lulumpang bisa dijadikan obyek wisata sejarah minat khusus diuntaikan dengan obyek wisata Cangkuang, Bagendit, dan lainnya. “Sejauh ini, hanya untuk mencegah hal tak diinginkan, batu Pasir Lulumpang sudah direplika dan disimpan di Musium RAA Adiwidjaya Garut,” katanya.

Keberadaan lumpang batu pada punden berundak itu membuat Situs Pasir Lulumpang terbilang unik dibandingkan situs punden berundak lainnya yang biasanya dilengkapi menhir atau batu tegak diduga untuk pemujaan. Karenanya keberadaan lumpang tersebut diduga merupakan pengganti menhir sebagai artefak simbolik berkaitan ritual religi megalitik masyarakat di sana erat dengan budaya pertanian.

Di Situs Pasir Lulumpang terdapat dua punden berundak dengan 13 teras bersusunkan batu-batu membentuk trap. Di sana juga terdapat satu buah lumpang batu ukuran besar di teras paling atas, dan dua buah lumpang batu berukuran kecil di bagian bawahnya. Namun berbeda dengan lumpang biasa, lumpang batu di Situs Pasir Lulumpang lebih menyerupai meja batu pemujaan atau dolmen dengan di bagian tengahnya terdapat cekungan cukup dalam.

Kurangnya perawatan terhadap Situs Pasir Lulumpang juga terlihat dari adanya undakan mengalami kerusakan terkesan dibiarkan, serta salah satu lumpang batu tampak terbenam atau tertutupi tanah. Sehingga jika dilihat sekilas, orang takkan menyangka jika batu tersebut merupakan lumpang batu tak ternilai harganya.

*******

( nz ).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here