Peninggalan Peradaban “Megalitik” Garut Kian Mendesak Dibenahi

by

Fotografer : John Doddy Hidayat

Garut News ( Sabtu, 23/04 – 2016 ).

Suhada Bersihkan Batu Lumpang.
Suhada Bersihkan Batu Lumpang.

Foto berita akhir pekan ini, Sabtu (24/04-2016), Garut News detail memotret kondisi peninggalan tradisi “megalitik” di Kabupaten Garut, Jawa Barat, yang kini kian mendesak dilakukan ragam pembenahan serta penataan pada lingkungan sekitarnya.

Lantaran pelbagai artefak atawa benda arkeologi peningalan peradaban sejarah bangsa tersebut, sebagian besar masih utuh bersemayam pada Situs Pasir Lulumpang Desa Cimareme di Kecamatan Banyuresmi.

Tenaga Kerja Kontrak pada “Balai Pelestarian Cagar Budaya” (BPCB) Provinsi Banten yang bertugas di situs ini, Suhada(30) katakan, seluruh kawasan situs ini seluas sekitar 2.458 m2 namun masih diperlukan upaya pembebasan tanah sekitar 2.800 m2 guna memerluas kawasan sekaligus memerluas jangkauan pandangan.

Peninggalan Sejarah Lainnya.
Peninggalan Sejarah Batu Lumpang Lainnya.

Kemudian semakin mendesak pembangunan keermer seputar perbukitan situs, sepanjang 200 meter lebih berketinggian tujuh meter, dimaksudkan melindungi kawasan situs dari ancaman longsoran.

Selain itu pula, diperlukan pembangunan gafura pintu masuk dari lintasan Jalan Desa Cimareme, serta pos pengamanan, imbuhnya Sabtu (24/04-2016).

Dikemukakan, selain Situs Pasir Lulumpang, terdapat pula potensi Rawa Ranca Gabus seluas delapan hektar lebih, dan Makam Pahlawan KH. Hasan Arif, ungkap Suhada yang berstatus TKK sejak 2009 kini dikarunia satu anak kandung laki-laki.

Masih Terdapat Artefak Berukuran Lebih Kecil.
Masih Terdapat Artefak Berukuran Lebih Kecil.

Situs yang terhampar bisu pada sebuah perbukitan, bahasa Sundanya dikenal dengan sebutan pasir itu, dikepung di antara beberapa bukit sekitar dataran bekas daerah rawa.

Namun bukit ini dinilai sejumlah ahli kepurbakalaan merupakan peninggalan tradisi “megalitik” juga merupakan bangunan megalitik punden berundak dilengkapi lulumpang maupun lumpang-lumpang batu.

Disebut punden berundak, sebab bentuknya berundak-undak. Sedangkan lulumpang atau lumpang merupakan wadah terbuat dari kayu maupun batu untuk menumbuk padi, biji-bijian atawa bahan olahan lain, dengan alat penumbuk terbuat dari kayu disebut halu atau alu.

Temuan Terbaru Berukuran Lebih Kecil.
Temuan Terbaru Berukuran Lebih Kecil.

Keberadaan lumpang batu pun dinilai kalangan ahli kepurbakalaan, ada sejak zaman prasejarah.

Situs Pasir Lulumpang bisa dijangkau dengan roda dua maupun empat karena letaknya tak begitu jauh dari Jalan Raya Garut-Balubur Limbangan.

Dari arah kota Garut, Pasir Lulumpang berjarak sekitar 13 kilometer melintasi kawasan obyek wisata Situ Bagendit dapat ditempuh hingga simpang pertigaan Desa Cimareme, dilanjutkan melalui jalan desa beraspal hingga simpang pertigaan menuju situs.

Dari arah Bandung, lokasi situs dapat ditempuh melalui jalan alternatif Leles-Leuwigoong, atau melalui Pasar Balubur Limbangan menuju arah kota Garut.

Kondisi Artefak Diluar Kawasan Situs.
Kondisi Artefak Diluar Kawasan Situs.

Sedangkan dari Jalan Raya Garut-Balubur Limbangan betulan simpang pertigaan Desa Cimareme, perjalanan hanya dapat ditempuh dengan roda dua atau berjalan kaki karena lebar jalan menuju situs tak memadai. Selain menanjak dan terdapat kelokan cukup tajam, kondisi jalan juga terbilang rusak parah. Sehingga cukup berbahaya jika dipaksakan dilintasi kendaraan roda empat.

Juga ironis, sepanjang jalan menuju lokasi tak terdapat papan penunjuk lokasi situs. Hanya ada satu papan penunjuk keberadaan situs yakni pada simpang pertigaan jalan Desa Cimareme menuju lokasi. Itu pun ukuran media dan tulisannya sangat kecil.

Kawasan Situs.
Kawasan Situs.

Sehingga para pengunjung harus sering bertanya kepada warga ditemui sepanjang jalan agar tak kebablasan berjalan ke arah lain.

Situs Pasir Lulumpang sebenarnya cukup nyaman bagi mereka menyukai keheningan. Banyaknya pohon jati serta tumbuhan lain termasuk tanaman bambu membuat suasana terasa sejuk. Menafakuri serta menelaah lingkungan situs berikut sejumlah peninggalan peradaban prasejarah bisa dilakukan dengan lebih fokus, dan tenang.

Sekali-kali, pengunjung dapat memperhatikan aktivitas warga bertani di sekitar lingkungan situs dari arah Pasir Lulumpang dengan jelas.

Masih Hanya Bisa Dijangkau Sepeda Motor.
Masih Hanya Bisa Dijangkau Sepeda Motor.

Dari keadaannya, lokasi situs terlihat jarang sekali dikunjungi, bahkan tak maksimal terawat. Pengamanan situs juga mengkhawatirkan karena rentan terhadap kemungkinan aksi tangan-tangan jahil.

Meski lingkungan situs dikelilingi pagar pengaman kawat, namun pada beberapa titik, berkondisi rusak. Bahkan pintu masuk pun hanya terbuat dari kerangka kayu usang tanpa dikunci atau digembok.

Tak ada pos penjagaan, apalagi pos tiket masuk. Keadaannya nyaris menyerupai komplek makam tanpa penjaga. Kendati di sana terpampang plang berukuran cukup besar menandakan Situs Pasir Lulumpang merupakan Cagar Budaya di bawah pengelolaan Balai Pengelolaan Kepurbakalaan Sejarah dan Nilai Tradisional Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat, serta papan informasi mengenai Undang Undang Cagar Budaya.

Kondisi Sarana Jalan Masih Memprihatinkan.
Kondisi Sarana Jalan Masih Memprihatinkan.

Padahal Situs Pasir Lulumpang memiliki nilai penting dari aspek kesejarahan, kebudayaan, dan ilmu pengetahuan. Sehingga situs tersebut juga sangat laik dikembangkan sebagai objek wisata budaya unggulan memiliki daya tarik terutama bagi kalangan pelajar, atau mahasiswa berminat di bidang sejarah, dan purbakala.

“Ya, sekalipun ini kewenangan Pemprov atau Balai Arkeologi, tetapi Pemkab Garut juga tak bisa hanya berpangku tangan. Tetap mestinya Pemkab lebih bisa ‘ngamumule’ serta selalu koordinasi, termasuk penataan dan pengembangannya. Mana yang bisa ditangani Garut, dan mana memang hanya bisa ditangani Pemprov. Sebab selain lokasinya ada di Garut, yang menerima manfaat, multiplayer efeknya juga masyarakat Garut,” imbuh pegiat Forum Komunikasi Kelompok Penggerak Pariwisata Kabupaten Garut Irno Sukarno, Sabtu.

Makam Pahlawan KH. Hasan Arif.
Makam Pahlawan KH. Hasan Arif.

Dia menilai keberadaan Situs Pasir Lulumpang bisa dijadikan obyek wisata sejarah minat khusus diuntaikan dengan obyek wisata Cangkuang, Bagendit, dan lainnya. “Sejauh ini, hanya untuk mencegah hal tak diinginkan, batu Pasir Lulumpang sudah direplika dan disimpan di Musium RAA Adiwidjaya Garut,” katanya.

Keberadaan lumpang batu pada punden berundak itu membuat Situs Pasir Lulumpang terbilang unik dibandingkan situs punden berundak lainnya yang biasanya dilengkapi menhir atau batu tegak diduga untuk pemujaan.

Karena itu keberadaan lumpang tersebut diduga merupakan pengganti menhir sebagai artefak simbolik berkaitan ritual religi megalitik masyarakat di sana erat dengan budaya pertanian.

Rawa Ranca Gabus.
Rawa Ranca Gabus.

Di Situs Pasir Lulumpang terdapat dua punden berundak dengan 13 teras bersusunkan batu-batu membentuk trap. Di sana juga terdapat satu buah lumpang batu ukuran besar di teras paling atas, dan dua buah lumpang batu berukuran kecil di bagian bawahnya.

Tetapi beda dengan lumpang biasa, lumpang batu di Situs Pasir Lulumpang lebih menyerupai meja batu pemujaan atau dolmen dengan di bagian tengahnya terdapat cekungan cukup dalam.

Kurang maksimalnya perawatan terhadap Situs Pasir Lulumpang juga terlihat dari adanya undakan mengalami kerusakan terkesan masih terkesan dibiarkan.

Hasil Memancing di Rawa Ranca Bagus.
Hasil Memancing di Rawa Ranca Bagus.

Serta termasuk salah satu lumpang batu tampak terbenam atau tertutupi tanah. Sehingga jika dilihat sekilas, orang takkan menyangka jika batu tersebut merupakan lumpang batu, yang tak ternilai harganya itu.

 

*******

 

( nz, jdh ).