Peninggalan Nabi Sulaiman

0
1,685 views
peninggalan nabi sulaiman

peninggalan nabi sulaiman

Misteri Harta Karun Peninggalan Nabi Sulaiman `Hampir Terkuak`

Garut News – Peninggalan Nabi Sulaiman, King Solomon atau Raja Salomo atau Nabi Sulaiman tidak hanya dikenal dengan kebijaksanaannya. Namun juga harta kekayaannya. Banyak arkeolog dan sejarawan menghabiskan banyak waktunya hanya untuk menemukan harta karun yang ditinggalkan Nabi Sulaiman itu.

Tabut Perjanjian diduga menjadi salah satu harta karun yang ditinggalkan Nabi Sulaiman. Tabut Perjanjian adalah sebuah wadah yang digambarkan berisi 2 loh batu bertuliskan 10 perintah Allah ketika Nabi Musa mendaki Gunung Sinai.

Baru-baru ini, seorang profesor dari Universitas St Andrew, James Davila, berhasil menerjemahkan sebuah teks berbahasa Ibrani bernama Treatise of the Vessels. Berdasar teks itu, Davila mengklaim Kuil Solomon tempat penyimpanan harta karun tersebut kemungkinan tersebar di wilayah Timur Tengah, Peninggalan Nabi Sulaiman.

Namun sayang, lokasi pasti harta karun itu tetap saja masih misterius. Laman Daily Mail bahkan menyebut teks yang diterjemahkan Davila itu tidak lebih dari sekadar hiburan daripada petunjuk terhadap harta karun yang hilang itu. Meski demikian, teks yang diterjemahkan Davila itu setidaknya telah mempersempit kemungkinan di mana lokasi harta karun legendaris itu tersembunyi.

“Beberapa (harta) yang tersembunyi di berbagai lokasi di Tanah Israel dan di Babilonia, sementara yang lain dikirim ke malaikat Shamshiel, Michael, Gabriel dan mungkin Sariel,” tulis Davila dikutip Liputan6.com dari International Science Times, Minggu (12/1/2014). Untuk diketahui, Babilonia berada di wilayah Irak.

Namun, teks yang diterjemahkan Davila itu mengandung sejumlah ketidakkonsistenan. Sehingga para arkeolog akan kesulitan untuk melakukan penelitian yang lebih serius. Pada bagian prolog misalnya, disebutkan harta itu telah disembunyikan oleh Shimmur, orang Lewi –salah satu dari 12 suku di Israel– dan para sahabatnya. Namun berikutnya dalam teks itu disebutkan harta itu disembunyikan Shamshiel dan malaikat lainnya.

Tapi penting untuk diingat bahwa Davila hanya seorang penerjemah, bukan penulis yang telah membuat inkonsistensi tersebut. “Saya percaya penulis melihat berbagai legenda tanpa memperhatikan konsistensinya,” tulis Davila.

Teks itu juga memuat daftar harta karun Nabi Sulaiman, mulai ornamen Taman Eden, instrumen musik yang terbuat dari emas, dan Kemah Suci –tempat ibadah sentral yang dapat dipindah-pindahkan untuk bangsa Ibrani, Peninggalan Nabi Sulaiman.

Peninggalan paling suci di antara harta karun itu adalah Tabut Perjanjian, peti bersepuh emas yang usianya sekitar 3000 tahun. Berdasar teks kitab orang Israel, the Ten Commandments atau Sepuluh Perintah Allah yang diturunkan kepada Nabi Musa terdapat dalam peti itu, dan tersimpan di Haikal Sulaiman atau Solomon Temple itu. Selain itu, peti tersebut juga berisi berbagai harta karun.

Bangsa Babilonia menghancurkan Kuil Sulaiman pada 587 Sebelum Masehi. Sejak itu, peti berisi harta karun tersebut lenyap. Selama berabad-abad para arkeolog mencari peti harta karun itu. Namun tetap saja tidak punya petunjuk keberadaan peti itu dirusak ataupun disembunyikan. Belakangan, sebuah teks dari abad XV yang diterjemahkan mengklaim peti harta karun itu disembunyikan sejumlah orang Suku Lewi dan para nabi.

Nabi Sulaiman dikenal sebagai putra King David atau Raja Daud atau Nabi Daud dengan Ratu Bathsheba. Dia merupakan raja ketiga bangsa Israel yang hidup pada 965-925 SM. Israel mencapai puncak kejayaan di bawah pimpinan Nabi Sulaiman. Dia juga membangun Haikal Sulaiman atau Bait Suci orang-orang Yahudi yang juga diduga sebagai tempat penyimpanan harta karun.

Borobudur dan Peninggalan Nabi Sulaiman

Memasuki separuh perjalanan dibulan Februari, tepat pada tanggal 11, ada kehangatan berbeda yang terasa di Pendopo utama Rumah Maiyah Kadipiro yang terletak di jalan Wates Gang Barokah, Bantul, Yogyakarta. Sore hari, di ruangan terbuka yang cukup luas itu sudah nampak tikar-tikar yang tergelar rapi, deretan meja-meja kecil yang tertata, peralatan soundsystem yang tegak dibeberapa sudut, layar televisi yang stand by, juga halaman depan yang bersih dan terkondisikan. Ditemani langit senja yang permai, tak ketinggalan tampak beberapa penggiat rumah Maiyah yang berseliweran, berbenah, dan menyiapkan diri menyambut “tamu”.

Malam itu, Perpustakaan EAN bersama aktivis Rumah Maiyah, kembali menyelenggarakan diskusi buku rutin Sewelasan edisi #6, kali ini membedah dan mendiskusikan buku yang sudah cukup populer, kontroversial, dan mendapat sambutan luas dari khalayak: “Borobudur dan Peninggalan Nabi Sulaiman” karya KH. Fahmi Basya. Antusiasme masyarakat, terutama kalangan muda-mudi terhadap tema diskusi, terasa spesial malam itu. Selepas adzan Maghrib, satu persatu hadirin diskusi buku memasuki gerbang rumah Maiyah dan menempatkan diri di gelaran tikar. Setelah Isya’ jamaah diskusi terlihat mulai memenuhi pendopo, panitia memutarkan DVD “Borobudur”, sebagai ‘hidangan pembuka’ pra-diskusi. Selain penulis buku KH. Fahmi Basya, perpustakaan EAN, malam itu juga menghadirkan Sabrang Mowo Damar Panuluh, fisikawan dan matematikawan muda lulusan Alberta University, Canada, yang publik tanah air lebih mengenalnya sebagai Noe, vokalis Letto Band. Jalannya diskusi malam itu dimoderatori langsung oleh Ibu Nadlrotussariroh, kepala perpustakaan EAN Kadipiro, Peninggalan Nabi Sulaiman.

Teori “Blawur-itas” Kebenaran

Pukul delapan malam, kedua pembicara dan moderator sudah siap di tengah hadirin. Diskusi dibuka oleh Ibu Nadlrotussariroh dengan memberikan kilasan singkat mengenai forum diskusi buku Sewelasan Perpustakaan EAN yang sudah bergulir enam edisi dengan berbagai tema dan buku. Sekedar berbagi informasi, beliau menyampaikan bahwa edisi bulan lalu, buku yang didiskusikan adalah Sekolah Biasa Saja karya Toto Rahardjo. Selanjutnya, beliau menunjuk mas Sabrang MDP sebagai pembicara pertama untuk memberikan pengantar diskusi, sekaligus mengemukakan ulasan-ulasannya mengenai buku Borobudur Peninggalan Nabi Sulaiman.

Sabrang menyampaikan ucapan terima kasih pada pak Fahmi Basya karena karyanya ini merupakan pioner yang mau menembus area yang belum terbayangkan oleh siapapun. Dalam forum diskusi malam itu, Sabrang menegaskan bahwa yang utama dicari bukan melulu benar salah, karena “konstruksi benar-salah” juga persoalan sendiri yang masih perlu kita bicarakan. Buku karya Pak Fahmi ini lebih bijak dan arif apabila semua hadirin diskusi melihatnya sebagai ijtihad untuk mencari sebuah kebenaran. Lebih dalam lagi, Sabrang MDP memberikan pengantar diskusi dengan memberi penjelasan elegan mengenai kebenaran dari sebuah “kebenaran”. Dengan lincahnya pencipta lagu Sebelum Cahaya itu mengurai dan mengorganisir cara berfikir hadirin diskusi agar mempunyai titik pandang yang tepat, serta sikap yang proporsional terhadap tema buku yang sedang dan akan didiskusikan bersama. Sabrang menguraikan teori “Blawuritas Kebenaran” dengan menggunakan analogi lensa fokus kamera.

Mengenai “konstruksi-benar-salah ia mengurai: Bahwa segala sesuatu tidak bisa hanya diringkus dalam dua kotak benar atau salah. Realitas tidak sesederhana itu, kenyataan tidak hitam putih. Sabrang menggunakan contoh lensa fokus sebuah kamera. Ketika kita memotret bunga kalau lensanya tidak fokus, nanti bisa kita lihat hasilnya blawur. Tapi hasil yang blawur itu benar atau salah? Kan hasilnya tetap benar bahwa itu “bunga” meskipun blawur. Blawurnya sesuatu itu tidak mempengaruhi dan mengurangi kebenaran. Tergantung informasi yang masuk dan pemahaman kita blawur atau tidak. Karena aslinya banyak hal di dunia ini aslinya masih berposisi blawur, bahkan pun ilmu-ilmu pengetahuan resmi yang ada. Dalam ilmu matematika, kimia, fisika, biologi, sosiologi apalagi ilmu sosial-antropologi dan ilmu sejarah mempunyai tingkat keblawuran yang berbeda, Peninggalan Nabi Sulaiman.

“Khusus matematika dia sangat-sangat jelas karena semua yang dibangun adalah berdasarkan logika kebenaran yang disusun dari yang paling kecil/paling simple. Contoh: 4×4 adalah jelas 16, karena kita tahu bahwa terbukti 4+4+4+4=16. Jadi jelas bahwa matematika perkembangannya berdasarkan kebenaran-kebenaran kecil untuk membuktikan kebenaran yang lebih besar. Sedikit agak mem-blawur pada fisika karena ia menggunakan alat logika kebenaran matematika untuk mencoba menjelaskan konstruksi alam semesta. Sebab itulah terjadi “rumus”, karena faktor-faktor yang ada di alam diketahui oleh fisika, misalnya tinggi,volume, kecepatan,massa etc. Jika variabel-variabelnya diketahui maka outputnya bisa diketahui. Tetapi blawuritas pasti terjadi, karena tidak mungkin dan akan sangat susah untuk mengetahui semua faktor yang ada di alam dengan presisi yang pasti. Lebih naik lagi keblawuran pada ilmu kimia, karena itu rumus-rumusnya tidak banyak tetapi masih menggunakan matematika. Lebih blawur lagi adalah Biologi yang sudah tidak punya rumus, karena faktor dan variabelnya amat sangat banyak. Maka yang didapat dalam biologi bukan ilmu pasti, tetapi ilmu tendensi,trend gejalanya seperti apa, maka treatmentnya seperti ini dan seterusnya. Jadi ilmu biologi dan kedokteran itu aslinya “ilmu kiro-kiro”, tetapi perkiraan yang terpelajar: educated guess. Jadi sampai ke biologi saja semakin blawur lagi sebuah kebenaran.

Blawuritas semakin ruwet dan kompleks ketika masuk ilmu sosial dan ilmu sejarah. Anda kemarin kentut berapa kali? Pasti susah mengetahui jawaban pastinya kecuali dengan mengira-ngira. Tetapi kebenaran pastinya tidak bisa dikonfirmasikan. Disinilah perlunya kita masuk “konfirmasi sejarah” dan konsistensi dari informasi yang tersisa untuk mengkonstruksi sebuah jalan cerita sejarah. Sebenar-benarnya cerita sejarah tidak ada yang mampu mengkonfirmasi kepastiannya, karena kentut kita kemaren saja kita tidak punya kepastian. Apalagi persoalan Borobudur, Nabi Sulaiman, yang sejarahnya terjadi berpuluh dan beratus tahun yang lalu.

Selanjutnya menanggapi isi buku karya Pak Fahmi Basya, Sabrang menyoroti 40 bukti serta argumentasi yang diajukan oleh penulis untuk membangun kesimpulan bahwa Borobudur adalah peninggalan Nabi Sulaiman. Bukti-bukti itu adalah: satu, Plat emas di temukan di kolam istana ratu Boko, yang merupakan bukti benda, dan untuk membuktikannya perlu melihat sendiri. Dua,Istana yang hilang diatas ketinggian seperti surga yang hilang sisa peninggalan Nabi Sulaiman yang diidentifikasi di Candi Boko. Hal ini didukung penemuan bahwa di sana ada stupa Borobudur yang tertinggal di area Candi Boko. Tiga, Sepotong stupa arupadatu sebagai bukti pemindahan, stupa yang di Boko masih jelas reliefnya yang diborobudur tidak jelas (blawur), meskipun masih ada penjelasan dan pembuktian lainnya seperti: erosi, tertimbun batu, terjadi gesekan dll, tetapi teori itu masuk kategori possible, Peninggalan Nabi Sulaiman.

Diskusi makin gayeng manakala secara spesifik Sabrang menyoroti bukti ke-lima: mengenai arupadatu yang berbeda dengan yang ada di Borobudur dan kecepatan pemindahan Istana ratu boko ke area Borobudur ini melebihi kecepatan cahaya. Melebihi kecepatan Cahaya inilah yang membuat insting fisikawan Sabrang melek, karena dalam Agama Fisika, asumsi ini sudah terhitung “murtad”. Bukti-bukti ilmiah empiris menunjukkan bahwa hingga saat ini tidak ada benda yang mampu menandingi kecepatan Cahaya. Karena dia membutuhkan energi yang tidak terbatas. Benda sekecil elektron. tidak bisa mengikuti kecepatan cahaya. Hanya Foton benda tak bermasa yang merupakan benda tercepat di alam semesta, yang mendekati kecepatan cahaya.

Selanjutnya Sabrang berbicara lincah, seperti menari-narikan wacana dan teori fisika yang kaya: tentang E=MC2, Teori Kondensasi, Absolut Nol, pendinginan Zat, Gozon,Jin Nabi Sulaiman, dkk, seolah sedang makan kacang goreng, dengan begitu ringan dan santainya, yang membuat hadirin diskusi kian mlongo.

Pembacaan dengan perspektif fisika dan matematika ini sesungguhnya masih sangat panjang dan detil, guna mengklarifikasi dan mengkonfirmasi tiap poin bukti-bukti yang diajukan oleh Pak Fahmi Basya dalam bukunya. Intinya 40 pembuktian yang ada dalam buku harus kita sikapi dengan tepat. Dengan background teori Blawuritas, konstruksi dan struktur kebenaran, kita dapat menemukan seberapa jelas dan seberapa blawur. Jauh lebih penting adalah buku ini membuka pintu baru bagi generasi muda untuk melakukan riset-riset mengenai peninggalan sejarah dan warisan peradaban Nusantara yang selama ini masih minim.

“Puing-puing Fakta dan Nilai-nilai Sejarah”

Kisah Nabi Sulaiman, Di sesi berikutnya, Ibu Nadhrotussariroh selaku moderator yang mengawal lalu lintas diskusi membuka termin dialog dengan peserta diskusi. Lima tanggapan dan pertanyaan muncul dari hadirin, yang saat itu pasti penuh rasa penasaran. Hafiz dari Semarang, menceritakan pernah mengikuti pengajian Pak Fahmi Basya sebelumnya di Gramedia Surabaya dan menanyakan tentang kesimpulan Pak Fahmi tentang kota Ya’juj dan Ma’juj sebagai Yogyakarta dan Mojokerto. Hubungan jewish Yahudi dengan Jawa, juga apakah penulisan buku ini sudah didiskusikan dengan umat Budha? Selanjutnya dari Candra yang berangkat langsung dari daerah Boko bertanya tentang Koin Majapahit. Apakah koin itu benar peninggalan Majapahit ataukah benar peninggalan Cina, karena sebelum Majapahit berdiri pernah ada pasukan Cina yang menyerang Singasari. Habib dari Ponorogo mengkonfirmasi beberapa hal, bahwa wacana umum mengatakan Borobudur peninggalan dinasti Syailendra, tentang Shin dalam hadist Nabi itu adalah Syailendra, bukan Cina, tentang Java tel Aviv. Kemudian Enji dari Serang Banten menanyakan bagaimana benturan dengan wacana-wacana khalayak tentang sejarah Borobudur, lebih lanjut tentang teori konsistensi, dari penelitian selama 33 tahun tersebut? Muhson dari Giwangan, mengajukan pertanyaan: dengan bukti-bukti yang dipaparkan apakah Borobudur itu peninggalan Nabi Sulaiman, ataukah buatan umat Nabi Sulaiman

Berbagai pertanyaan dan tanggapan yang muncul dari jamaah diskusi nampak mencerminkan suatu kegelisahan yang sama, yakni gugatan mengenai fakta sejarah. Apakah semua yang diceritakan oleh Pak Fahmi benar-benar terjadi? Dan apabila itu adalah sebuah fakta sejarah, bagaimana cara untuk mendamaikan temuan ini dengan wacana-wacana dan cerita sejarah yang telah mapan dipercaya banyak orang, terutama dari kalangan agama lain yang mengakuisisi Borobudur sebagai bagian dari kepercayaan Agamanya?. Menjawab poin letak daerah Ya’juja dan Ma’juja Pak Fahmi tidak memastikan kebenaran dari temuannya. Hanya saja ada fakta-fakta yang indikatif yang mengarah bahwa Ya’juj adalah Yogyakarta dan Ma’juj adalah Mojokerto. Karena “karta” berarti kota, berarti Yogjakarta adalah kota Yogja yang identik dengan Ya’juja, dan Mojokerto adalah kota Mojo yang kemungkinan adalah kota Ma’juja. Juga dari cerita-cerita sejarah, dan bukti-bukti adanya pakubumi di bukit Tidar. Pak Fahmi melanjutkan dengan memaparkan bahwa sebenarnya ada banyak cerita rakyat di Nusantara, tetapi sayangnya tidak dengan bahasa Sains, sehingga sulit dijadikan pembuktian. Kemudian mengenai Arsy ratu Boko sesuai laporan Hud-hud, yang indikatif dengan tempat penyembahan yang ada di Kompleks Candi Boko yang dipindah ke lokasi Borobudur. Tentang koin majapahit itu sudah disahkan sebagai koin kerajaan Majapahit karena ada cap lambang garuda ditengah koin, Peninggalan Nabi Sulaiman.

Selanjutnya dalam pemaparannya, Pak Fahmi menceritakan kisah-kisah yang apabila tak cermat menyimak dan mendengarnya sekilas, nampak seolah kisah-kisah yang tak berhubungan. Beliau mengutarakan Hubungan Nabi Daud-Syailendra (“syaila-Indera”) itu artinya adalah Raja Gunung, dan ini berarti adalah Nabi Daud. Selanjutnya beliau memaparkan kronologis kisah mengenai “Arsyil Adzim” kerajaan yang menjulang tinggi keatas yang diucapkan oleh burung hud-hud. Kemudian potret kisah Ketika Nabi Musa mendapat wahyu untuk memukulkan tongkatnya ke laut maka terjadilah jurang yang dalam. Hingga Nabi Musa mengajak rakyat masuk negeri “Ardhol Muqaddas” bumi yang suci, kemudian tentang Nabi Daud dan Bani Israil dan berbagai kisah lain yang panjang sebagai bukti bahwa Kerajaan Sulaiman ada di area pulau Jawa.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here