Pengusaha Asing Miliki Sejumlah Industri Kulit Sukaregang

0
162 views

Ilustrasi Fotografer : John Doddy Hidayat.

Garut News ( Ahad, 25/10 – 2015 ).

Proses pemotongan dan menjahit jaket kulit.
Proses pemotongan dan menjahit jaket kulit.

Ternyata meski secara diam-diam, terdapat sejumlah pengusaha industri penyamakan kulit di Sukaregang Garut Kota melego pabriknya ke pihak pengusaha asing.

Kendati penyebabnya masih belum diketahui pasti, namun diduga untuk mendapat keuntungan lebih besar dengan cepat. Diperkirakan, sedangkan pabrik dijual ke pengusaha asing tersebut diperkirakan memiliki nilai aset rata-rata di atas Rp15 miliar per unit.

Kehadiran pihak asing pada industri kulit selama ini kerap dibangga-banggakan sebagai ikon idustri unggulan di Garut itu, justru kini menuai banyak pertanyaan sejumlah kalangan. Khususnya menyangkut investasi modal asing yang harus masuk ke daerah.

Bahkan bukan hanya ikon Garut, sentra industri kulit Sukaregang beromzet sekitar Rp250 miliar per bulan malahan juga diharapkan menjadi ikon industri kulit nasional.

“Yang kita tahu, sedikitnya ada tiga pabrik besar berpindah tangan ke asing. Kalau enggak salah ke orang Korea. Bahkan ada satu pabrik seharga Rp30 miliar,” ungkap Ketua “Asosiasi Perajin Kulit Garut” (Apkuga) Zaki Sirodz, Ahad (25/10-2015).

Mengais Kulit Mentah.
Mengais Kulit Mentah.

Dikemukakan, butuh modal cukup besar agar bisa berusaha di industri kulit Sukaregang. “Kalau tak punya modal Rp100 juta, takkan bisa menjadi pengusaha besar,” katanya.

Dikatakan, perhatian pemerintah terhadap keberadaan industri kulit Sukaregang cukup baik. “Instalasi Pengolahan Air Limbah” (IPAL) semestinya menjadi kewajiban para pengusaha pun justru sepenuhnya dibangun pemerintah. Termasuk penyediaan lahan dari pemerintah.

Tetapi ironis, keberadaan IPAL menelan anggaran miliaran rupiah tersebut hingga kini tak dimanfaatkan baik. Bahkan kebanyakan tak berfungsi.

“Pada 1996, pemerintah mengeluarkan dana sekitar Rp2,5 miliar membangun IPAL. Pada 2003, dikeluarkan lagi Rp1,3 miliar untuk IPAL di luar tanah. Tetapi sampai kini tak seluruhnya jalan. Yang difungsikan pun, dari segi kelengkapan sarana prasarana sebenarnya tak memenuhi syarat,” beber Zaki.

Dijelaskan pula, kelompok perajin kulit tergabung Apkuga mencapai sekitar 312 kelompok.

Sedangkan jumlah pengusaha kulit Sukaregang tergabung “Asosiasi Pengusaha Kulit Indonesia” (APKI) Garut seperti diklaim Sekretaris APKI Yusuf belum lama ini, mencapai sekitar 256 orang, terdiri 56 pengusaha menengah ke atas, dan 200 pengusaha kecil.

Ketua DPD Laskar Indonesia kabupaten setempat, Dudi Supriadi katakan, dalam aturan, setiap investasi daerah harus masuk dahulu ke “Badan Penanaman Modal dan Perizinan Terpadu” (BPMPT) Garut. Karena itu, menurutnya, pemerintah seharusnya mengetahui tentang investasi asing itu.

“Kalau tak masuk ke BPMPT, itu bisa dikatakan tak mematuhi aturan dan ilegal. Pemerintah daerah juga dipastikan rugi. Ini mesti diperhatikan Pemkab,” tandasnya, mengingatkan.

Kata dia, jika Pemkab tak cermat dan tegas bersikap, dikhawatirkan terjadi pengambilalihan hak usaha maupun kepemilikan aset dengan mendompleng pengusaha lokal untuk memuluskan pengurusan administrasi perizinan.

**********

Noel, Jdh.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here