Pengungsi Cimanuk Terpaksa Tempati Rumah Sangat Sempit

0
26 views

“Lantaran Harus Kosongkan Rusunawa Al Musadaddiyah”

Esay/Fotografer : John Doddy Hidayat

Garut News ( Ahad, 08/10 – 2017 ).

Sisa Bangunan Rumah yang Kini Dihuni Herman Sekeluarga.

Herman (45) bersama istri dan kedua anaknya terpaksa hingga kini Menempati rumah sangat sempit berukuran 2 x 4 meter, sejak beberapa bulan lalu diharuskan mengosongkan “hunian sementara” (Huntara) Rusunawa Al Musadaddiyah lantaran segera digunakan pemiliknya.

Masih Menyisakan Reruntuhan Bangunan Masjid, dan Sebagian Besar Rumah Milik Herman.

Korban terdampak puncak amuk Sungai Cimanuk pada 20 September 2016 silam tersebut, merupakan salah satu dari sekitar 46 kepala keluarga (KK) atau 182 penduduk yang sempat menempati pengungsian Huntara Rusunawa Al Musadaddiyah.

“Saya hanya pekerja serabutan, tak berkemampuan mengontrak rumah. Sehingga terpaksa menempati sisa rumah miliknya akibat sebagian besar hanyut tergerus banjir bandang,” ungkap Herman kepada Garut News, Ahad (08/10-2017) sore.

42 Unit Rumah Tapak di Blok Kopi Lombong.

Rumah miliknya ini, semula berukuran 28 m2 kemudian tergerus tragedi banjir bandang hanya menyisakannya bangunan seluas 8 m2, di Kampung Leuwidaun RT.01/07 Jayawaras Tarogong Kidul Garut, Jawa Barat.

Terjadinya musibah tersebut, juga menyebabkan Herman kehilangan pekerjaan sebagai pengemudi mobil pejabat KPKN di Karawang, karena terlalu lama meninggalkan pekerjaan sebab mengurus keluarga terdampak bencana di Garut.

Kini Semakin Terancam.

Sehingga kini terpaksa pula bekerja serabutan, siapa pun yang menyuruhnya bekerja termasuk menjadi penarik becak dijalani Herman.

Sedangkan istrinya juga banting tulang bekerja sebagai pembantu rumah tangga, menyusul pasangan suami istri itu, kini berkewajiban pula membiayai kebutuhan pendidikan kedua anaknya. Masing-masing Kelas 3 SMK, serta Kelas 1 MTs Negeri.

Karena itu, Herman pun sangat mengharapkan bisa segera direlokasi. Sebab kondisi rumah miliknya sangat tak layak huni.

Gelegak Derasnya Cimanuk di Musim Penghujan.

Selain sangat sempit, juga berlokasi pada daerah rawan bencana yang di musim penghujan ini masih traumatis, mendengar gelegar aliran deras Sungai Cimanuk sangat berdekatan dengan samping rumahnya.

Rumahnya pun semula terhalang bangunan masjid, namun puncak amuk Sungai Cimanuk menjadikan seluruh bangunan masjid tersebut tersapu banjir bandang, meski berada pada ketinggian lebih lima meter di atas dasar sungai.

Herman termasuk pula korban terdampak yang senasib dengan dirinya, sangat berharap segera mendapatkan hunian tetap seperti halnya pada 42 unit rumah tapak di Blok Kopi Lombong Kelurahan Sukagalih Tarogong Kidul, sejak 20 September 2017 bisa ditempati korban bencana.

Terdapat sekitar 30 unit di antaranya dihuni para korban terdampak banjir bandang berasal dari Asrama Tarumanagara, depan Lapangan Paris Garut.

Selebihnya antara lain dihuni korban dari Kampung Cimacan, serta asal Kecamatan Tarogong.

Mendesak Segera Ditanggulangi.

Korban terdampak yang kini menempati rumah tapak ini, antara lain Yuliani (32), menyusul antara lain suaminya meninggal dunia lantaran tergerus arus sungai bersama anak bungsunya, pada 20 September 2017 silam.

Berdasar SK Bupati Garut Nomor 360/Kep.563-DSTT/2016, daerah terdampak banjir Cimanuk terjadi pada 20 September 2016 silam tersebut, meliputi tujuh kecamatan dengan jumlah korban terdiri 787 kepala keluarga (kk) setara 2.525 jiwa, serta 2.529 rumah rusak dengan rincian 830 rusak berat, 473 rusak sedang, dan 1.226 rusak ringan.

Jumlah kerugian mencapai sedikitnya Rp288 miliar, berdasar kajian penilaian pada lima sektor masing-masing permukiman, infrastruktur, sosial, ekonomi, dan lintas sektor.

 

 

*******