Pengungsi Banjir Cimanuk Garut Didera Tuberkulosis MDR

by
Ny. Idoy Berkondisi Kesehatan Semakin Memilukan.

“Hanya Bisa Makan Dari Belas Kasihan Siapa-pun”

Esay/Fotografer : John Doddy Hidayat

Garut News ( Rabu, 11/10 – 2017 ).

Ny. Idoy Berkondisi Kesehatan Semakin Memilukan.

Ny. Idoy, Pengungsi korban banjir bandang puncak amuk Sungai Cimanuk pada 20 September 2017 silam, kini diduga kuat berkondisi Multi Drug Resistant Tuberculosis (MDR-TB) atau TB MDR.

Yakni TB resistan Obat terhadap minimal dua obat anti TB paling paten yaitu INH, dan Rifampisin secara bersama sama atau disertai resisten terhadap obat anti TB lini pertama lainnya seperti etambutol, streptomisin, serta pirazinamid.

“Setiap ada banyak pikiran, dan merasa kaget mendadak-sontak penyakit saya kembali kambuh disertai batuk-batuk berdahak, dada serta nafas sangat terasa sesak disertai pusing dan sangat lemas,” ungkapnya kepada Garut News di “Hunian Sementara” (Huntara) Islamic Center, Rabu (11/10-2017).

Huntara Pengungsi Islamic Center.

Korban bencana yang rumah beserta seluruh isinya porak-poranda digerus air bah di Kampung Kikisik RT. 06/08 Kaum Lebak Tarogong Kidul tersebut, katakan setiap penyakitnya kumat hanya meminum obat warungan berupa obat batuk Komik.

Dia mengaku sangat jenuh, capek untuk berobat pada fasilitas kesehatan, cukup dengan Komik saja, katanya dengan nafas tersengal-sengal.

“Bagaimana tak demikian bapak, hidup bersama suaminya juga didera penyakit hernia akut, dan satu anaknya yang masih SMP. Selama satu tahun lebih masih berada di pengungsian sangat mengesalkan,” ungkapnya pula.

Pengungsi Terdampak Korban Cimanuk.

Untuk bisa memenuhi kebutuhan makan sehari-hari, serta ongkos anak pergi ke sekolah pun. Selama ini hanya berharap dari belas kasihan siapa pun, termasuk dari saudara kandungnya yang tak mungkin setiap hari bisa minta-minta, desah Ny. Idoy.

Sedangkan suaminya, Yaya juga hanya bisa pasrah tak berdaya dengan penyakit hernia semakin akut, meski kerap mencoba bekerja serabutan tetapi langsung penyakitnya pun kumat, ungkap Idoy.

Dia berharap bisa kembali hidup tenang, seperti sedia kala sambil berusaha membuka usaha semampunya, atau dapat segera direlokasi ke tempat hunian yang selamanya bisa menetap.

“Mudah-mudahan saja Pemkab masih punya hati, dapat menyegerakan saya sekeluarga direlokasi, atau mendapatkan modal usaha,” harap Ny. Idoy pula.

Lantaran tak mungkin kembali ke rumahnya semula di lokasi rawan bencana, rumah beserta seluruh isinya pun bernilai Rp50 juta lebih, telah raib dihempas amuk Sungai Cimanuk.

“Islamic Center”¬†

Sofwan Munawar.

Kepala UPT Pengelolaan Gedung Daerah pada Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah kabupaten setempat, Sofwan Munawar menyatakan 15 kamar juga enam Aula Diklat selama ini dimanfaatkan para pengungsi sekitar 50 kepala keluarga atau 250 orang.

Namun pada 2016 bisa memenuhi target PAD mencapai Rp250 juta, kemudian pada 2017 ini ditargetkan Rp400 juta yang pesimis bisa terealisasi.

Karena meski terdapat pula gedung R.A Lasminingrat yang dikelolanya, tetapi kondisi penataan gedungnya kurang tepat, sehingga mendesak dilakukan pemeliharaan dan penataan kembali. Namun terbentur keterbatasan dana.

Selama ini pun berupaya menjalin kemiteraan dengan pelbagai kalangan, melalui jalinan silaturahmi agar banyak konsumen penyewa gedung daerah, imbuhnya antara lain menambahkan.

********