Penguatan Keluarga

0
7 views

Sumiati Anastasia, Lulusan University of Birmingham, untuk Relasi Islam-Kristen

Ilustrasi/ Fotografer : John Doddy Hidayat.

Garut News ( Sabtu, 25/07 – 2015 ).

Diperlukan Kualitas Kesiapan Melintasi Ombak dan Badai.
Diperlukan Kualitas Kesiapan Melintasi Ombak dan Badai.

Yang terbaik di antara kalian adalah orang yang terbaik bagi keluarganya.” – Nabi Muhammad SAW.

Memprihatinkan, ternyata tingkat perceraian di negeri kita kian tinggi angkanya. Menurut Puslitbang Kementerian Agama pada 2010-2014, dari sekitar 2 juta pasangan menikah, 15 persen di antaranya bercerai.

Data Kementerian Agama RI, yang lebih rinci pada 14 November 2014 antara lain menyebutkan, pada 2012, tercatat 2.291.265 pernikahan, dan terjadi 372.577 perceraian. Sedangkan pada 2013, terjadi 2.218.130 pernikahan dan 324.527 perceraian.

Korban Rapuhnya Ketahanan Keluarga.
Korban Rapuhnya Ketahanan Keluarga.

Berarti dalam satu hari rata-rata terjadi 959 kasus perceraian atau 40 perceraian setiap jam.Tingkat perceraian tertinggi terjadi di Kabupaten Indramayu, peringkat kedua Kota Surabaya, dan ketiga di Kabupaten Banyuwangi.

Islam tidak melarang perceraian. Al-Quran menyebut perceraian itu halal, tapi perceraian adalah tindakan yang paling dibenci Allah. Apalagi perlu diketahui bahwa 80 persen dari ayat-ayat Quran sesungguhnya membicarakan tentang penguatan institusi keluarga. Bukan mendukung perceraian.

Harus diakui, keluarga sebagai institusi paling kuno tengah menghadapi tantangan besar. Tantangan ini berbeda dengan zaman dulu. Misalnya, dulu belum ada narkotik, kini benda haram ini marak. Dulu belum ada Internet dan pornografi masih bisa dihitung dengan jari, kini pornografi menjadi industri.

Jangan Salah Langkah.
Jangan Salah Langkah.

Prostitusi, seks bebas, perselingkuhan semakin biasa. HIV/AIDS kian merenggut banyak korban. Kemiskinan, impitan ekonomi, atau materialisme mendorong sebagian keluarga menjual bayi atau anak gadisnya sehingga perdagangan manusia kian marak.

Bahkan bayi-bayi di dalam rahim pun dibunuh atau diaborsi oleh orang tuanya sendiri. Tiap tahun sekitar 2 juta bayi konon diaborsi oleh orang tuanya. Paham yang meremehkan lembaga keluarga kian didukung.

Akibat dari semua itu, sendi-sendi kehidupan keluarga tergerogoti. Perceraian dijadikan solusi jalan pintas, meskipun sebenarnya masih bisa dicarikan solusi untuk menyelamatkannya.

Kanjeng Nabi sudah memberi teladan lewat hidup dan keluarganya dengan menjadi keluarga Islami yang bahagia. Keluarga Islami jelas bukan hanya status di KTP bahwa anggota keluarga kita semua menganut Islam.

Lebih dari itu, keluarga Islami harus bisa menunjukkan Islam sebagai fondasi, pegangan, dan penuntun dalam mempengaruhi kehidupan bersama dalam keluarga.

Menjadikan Islam sebagai fondasi, pegangan, atau penuntun bagi keluarga kita merupakan tanggung jawab yang tidak ringan bagi setiap keluarga muslim. Dalam konteks ini, para bapak atau suami sebagai kepala keluarga atau imam bisa proaktif.

Meski demikian, istri dan anak juga harus berperan aktif, sehingga cita-cita terbentuknya keluarga Islami yang sakinah bisa diwujudkan. Keluarga semacam ini akan menjadi benteng yang ampuh untuk mengatasi segala ancaman.

Dengan demikian keluarga tidak menjadi seperti di neraka, bahkan surga bisa dirasakan sekarang di dalam kehangatan keluarga.

Egoisme atau sikap menang sendiri yang memicu terjadinya kekerasan bisa disingkirkan. Lebaran bisa dijadikan momentum bagi keluarga untuk rujuk dan saling memaafkan. Kemenangan sejati itu, ketika masing-masing bisa membuang kebencian dan sakit hati.

Jangan lupa, keluarga kuat, negara juga kuat.

********

Kolom/artikel Tempo.co