Sumantri : Pengiriman LJK UN Selama Ini Lancar

Garut News ( Selasa, 06/05 – 2014 ).

Kabid Dikmen Disdik Garut, H. Sumantri. (Foto : John Doddy Hidayat).
Kabid Dikmen Disdik Garut, H. Sumantri. (Foto : John Doddy Hidayat).

Kepala Bidang Pendidikan Menengah Disdik Garut, H. Sumantri katakan selama ini proses pengiriman “LJK” UN, lancar.

Dari daerah kabupaten dan sebaliknya.

Sehingga proses pelaksanaan UN pada umumnya dinilai sangat lancar.

Demikian dikemukakan menyikapi kendala inprastruktur.

Menyusul terdapat informasi puluhan murid kelas IX “Madrasah Tsanawiyah” (MTs) Al Mannar di Desa Mekarwangi, Cibalong, Jawa Barat, terpaksa mengikuti “Ujian Nasional” (UN) berseragam basah, Senin (05/05-2014). 

Lantaran mereka sebelumnya kudu langsung terjun menyeberangi Sungai Cibaluk, berarus deras tetapi tak terdapat jembatan menuju sekolahnya.

Proses Pengiriman LJK Selama Ini Lancar. (Foto : John Doddy Hidayat).
Proses Pengiriman LJK Selama Ini Lancar. (Foto : John Doddy Hidayat).

Sejak pukul 06.30, mereka berkumpul di Kampung Sakambangan Desa Mekarwangi.

Setelah seluruh peserta UN berkumpul, kemudian berjalan kaki melintasi pematang sawah, dan tebing menuju bibir Sungai Cibaluk.

Setelah melepas sepatu, dan mengangkat bawahan seragamnya, mereka pun melintasi sungai perlahan lahan.

Menyeberang secara bersama-sama ini, menjaga keselamatan.

Arus Sungai Cibaluk deras cukup membahayakan diseberangi langsung.

Jika salah satu dari mereka terjatuh melintasi sungai, lainnya bisa segera membantu sehingga tak hanyut tergerus arus.

Kondisi sungai tak pernah surut, dan rawan banjir bandang ini selebar sekitar 40 meter berkedalaman rata-rata lebih dari satu meter.

Para pelajar melintasi bagian sungai paling dangkal.

Namun, beberapa di antaranya kerap kehilangan keseimbangan lantaran dasar sungai tersebut sarat bebatuan licin, dan berarus sangat deras, terlebih pada pagi dan sore.

Kepala MTs Al Mannar, Miftah Yamin, katakan seluruh peserta UN berasal dari Desa Mekarwangi.

Sehingga, 32 peserta UN ini terpaksa kudu menyeberangi sungai terlebih dulu menuju sekolahnya.

“Keseluruhan, 113 pelajar MTs Al Mannar, 100 di antaranya tinggal di seberang sungai. Sedangkan, dari 119 murid MI, sekitar 50 di antaranya juga tinggal di Mekarwangi, kudu menyeberangi sungai jika mau sekolah,” katanya.

Kata Miftah, para orang tua murid selalu menggendong anaknya ke sekolah saat menyeberangi sungai.

Pihaknya pun selalu siap menampung para pelajar tak bisa pulang ke rumahnya menginap di sekolah.

Ini kerap dilakukan pihak sekolah pada musim hujan.

“Libur dadakan lantaran sungai deras, kami pergi ke permukiman di seberang sungai mengajar. Kami berbuat apapun agar pelajar bisa tetap belajar atau ikut ujian,” katanya pula.

Kepala Desa Mekarwangi, Asep Paslah kaatakan mengajukan pembangunan jembatan penghubung Desa Mekarwangi dengan Sagara.

Agar penduduk dan para pelajar tak menyeberang langsung turun ke sungai.

Lebih dari 30 tahun jembatan gantung nya terputus akibat banjir bandang. Sejak itu, tak pernah ada lagi renovasi atawa pembangunan.

******

Pelbagai Sumber

Related posts