Pengelola Deldom Alun Alun Garut Sangat Kelimpungan

Garut News ( Senin, 29/09 – 2014 ).

Deldom. (Foto : John Doddy Hidayat).
Deldom. (Foto : John Doddy Hidayat).

Para pengelola delman domba atawa deldom mengeluh berat, lantaran dengan terdapatnya pelarangan beroperasi di Alun-Alun Garut,  mereka terancam kehilangan mata pencaharian.

Sehingga menjadi kelimpungan atawa kebingungan mencari tempat lain sebagai alternatifnya. Menyusul setelah beberapa tahun dibiarkan biasa beroperasi seputar Lapang Alun alun tersebut.
Ssebab selama ini Alun-alun merupakan lokasi ramai dikunjungi beragam kalangan masyarakat berjalan-jalan refreshing bersama anggota keluarga, terutama pada sore hari. Keramaian memuncak pada libur akhir pekan, dan hari liburan lainnya.

“Harus di mana lagi kalau di Alun-alun enggak boleh? Bagaimana dengan kebutuhan hidup kami sehari-hari?” kata Siti(40), pengelola deldom asal Desa Jayaraga Kecamatan Tarogong Kidul, Ahad (28/09-2014).

Demikian pula dirasakan para pengelola mainan anak-anak lainnya biasa beroperasi di Alun-alun.

Menariknya, pelarangan deldom bukan diterbitkan Pemkab Garut melainkan inisiasi dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) Garut. Lantaran, keberadaan deldom dinilai mengotori Alun-alun.

Kotoran domba tercecer kerap terbawa alas kaki warga hendak beribadah salat di Masjid Agung Garut berpelataran berada persis menghadap Alun-alun.

Kasatpol PP kabupaten setempat Suherman katakan, deldom dilarang sebab menyangkut kesucian saat masyarakat menunaikan salat.

Menurut Suherman, selama ini kotoran domba berceceran di tengah lapang alun-alun terbawa alas kaki hingga ke pelataran mesjid.

“Ini menjadikan MUI mengirimi kami surat agar Alun-alun steril dari aktivitas permainan, terutama deldom. Maka gerbang masuk Alun-alun juga kita tutup,” katanya.

Dikemukakan pihaknya berupaya memfasilitasi pemindahan deldom dari Alun-alun ke Lapang Olahraga Terbuka Merdeka Kherkoff di Desa Haurpanggung Tarogong Kidul.

Meski disadarinya belum terdapat koordinasi dengan pihak pengelola lapang tentang kesediaannya menampung deldom.

“Kalau dipindahkan ke Situ Bagendit, terlalu jauh,” kata Suherman.

Ketua MUI Garut Agus Muhammad Soleh membenarkan pihaknya berkeberatan Alun-alun dijadikan tempat beroperasinya arena mainan anak-anak, terutama deldom, lantaran bisa mengganggu kekhusyukan umat Islam beribadah di Masjid Agung.

“Kotoran dombanya bisa menyebar, bahkan bisa terinjak kaki mereka hendak menuju masjid. Itu kan najis,” tandas Agus.

Selain itu, Agus menyatakan secara pribadi tak menyetujui apabila hewan jenis domba dijadikan penarik delman, meskipun delmannya berukuran minimalis, dan hanya menarik muatan anak-anak.

Terhadap keberatan pihak MUI tersebut, para pengelola deldom berdalih selalu membersihkan kotoran domba tercecer sebelum pulang meninggalkan Alun-alun.

Mereka bersama para pengelola mainan anak-anak lain juga selalu membayar jasa petugas kebersihan.

“Kita ingin aturannya jelas. Apa dombanya harus pakai celana supaya kotorannya enggak berceceran di lapang, atau bagaimana? Lagi pula, dombanya kan tak langsung dibebani delman, tapi dipasok dengan kayu beroda di bagian depannya,” kilah para pengelola deldom.

*******

Noel, Jdh.

Related posts