Pengangguran Garut di Tengah Predator Pandemi Global

0
70 views

Garutnews ( Selasa, 23/02 – 2021 ).

Hendra Sukatriyana, SE (Foto :Ist). Beserta Pekerja Mandiri Banyak Merenung Bagaikan Gunung. (Foto : Abah John).

“TPT Kabupaten Garut Meningkat 8,96 Persen”

Penulis, Hendra Sukatriyana, SE

Ketenagakerjaan, faktor sangat penting menilai kinerja setiap pimpinan maupun kepala daerah. Termasuk adanya terjangan predator pandemi Covid-19, di antaranya  berdampak pada sistem perekonomian tak stabil, sehingga memicu naiknya angka pengangguran.

Lantaran peningkatan jumlah pengangguran tersebut juga dampak ekonomi terimbas pandemi global. Sedangkan sektor bakal banyak kehilangan pekerja yakni perdagangan, industri, konstruksi, jasa, dan akomodasi.

Tingginya intensitas pengangguran sebab perusahaan tak bisa beroperasi normal, penyebab adanya kebijakan perusahaan melakukan ‘Pemutusan  Hubungan Kerja’ (PHK) terhadap karyawannya di tengah kondisi wabah penyakit, atau banyaknya perusahaan ON-OFF’ terhadap karyawannya.

Sehingga pekerja berada di perusahaan tak lagi diupah bulanan, melainkan harian, menyusul kini banyak para pelaku ekonomi bersistem kerja tak teratur, seperti bekerja sepekan, sepekan kemudian diliburkan tanpa diupah.

Banyak pula pelaku ekonomi berkeluh kesah penghasilan mereka berkurang nyaris 50%. Masih dengan kebijakan perusahaan, para pekerja banyak yang dirumahkan tanpa diupah juga tanpa diberi kepastian perusahaannya kapan kembali masuk bekerja.

Berdasar data BPS dari hasil ‘Survei Angkatan Kerja Nasional’ (Sakernas) pada Agustus 2020, diperoleh ‘Tingkat Pengangguran Terbuka’ (TPT), yakni Persentase jumlah pengangguran terhadap jumlah angkatan kerja di Kabupaten Garut mencapai 8,96%, atau meningkat dibandingkan Agustus tahun 2019 silam (7,28%).

Maka peningkatannya 1,68%, namun  masih lebih rendah dibandingkan angka TPT Provinsi Jawa Barat mencapai 10,46%.

Dengan tingkat pendidikan ditamatkan untuk intensitas pengangguran 2020, ternyata pendidikan SMA dengan pengangguran tertinggi 32,40% disusul pendidikan Diploma (I/II/III) bertingkat pengangguran terendah (0,67%).

Berdasar survey dampak coronavirus disease 2019 dilakukan BPS periode (10-26 Juli 2020) diketahui di Provinsi Jabar ada 50,56% perusahaan masih eksis beroperasi seperti biasa, 0,44% perusahaan beroperasi melebihi kapasitas sebelum pandemi, dan 10,22% berhenti beroperasi.

Sedangkan sisanya 38,78% ada beberapa kegiatan operasi perusahaan dengan penerapan Work From Home’ (WFH) sebagian atau seluruh pegawai, dan beroperasi dengan pengurangan kapasitas (jam kerja, mesin, tenaga kerja)

Menelisik angka pengangguran pascapandemi ini, dikhawatirkan pemulihan ekonomi bakal kian sulit.

Karena itu pemerintah seharusnya masih memiliki ruang fiskal cukup guna mengintervensi daya beli masyarakat, dan kondisi finansial pelaku usaha sektor riil agar pengangguran bisa ditekan semaksimal mungkin, dan efek peningkatan pengangguran terhadap stabilitas pasar domestik bisa diminimalisasi.

Intervensi bisa dilakukan dengan perluasan subsidi seperti kartu sembako, kartu prakerja, dan lainnya. Cara lainnya dengan percepatan serta perluasan stimulus kredit kepada sektor riil dari yang berlangsung saat ini.

Salah satu cara mengendalikan angka TPT agar pemulihan ekonomi bisa berjalan lebih cepat dapat dengan memberikan perluasan stimulus bagi industri, agar rekrutmen pekerja bisa kembali berjalan normal.

Serta dari sisi permintaan, bisa dilakukan percepatan dan perluasan secara merata mengenai eksekusi bansos pada masa pandemi, sehingga daya beli masyarakat terjaga agar produk barang dan jasa yang diproduksi industri bisa dikonsumsi.

Penulis : Statistisi Ahli Pertama di Badan Pusat Statistik Kabupaten Garut.

******

Sebelumnya Garutnews melaporkan sepanjang 2020 ada 13.257 pencari kerja di kabupaten ini gagal mendapat pekerjaan atau tak terserap lapangan pekerjaan. Lantaran dari 15.524 pencari kerja terdaftar, hanya 2.267 tenaga kerja bisa terserap peluang kerja pada kabupaten setempat.

“Para pencari pekerjaan dan yang bisa terserap lapangan kerja tersebut, terdiri lulusan Sekolah Dasar (SD) hingga lulusan S1,” ungkap Kepala Seksi Penempatan Tenaga Kerja pada Disnakertrans kabupaten ini, Agus Firmanyah, SE.

Di ruang kerjanya, Jum’at (08/01-2021), Firmanyah katakan 819 orang di antaranya terserap di pabrik sepatu. Sedangkan 1.448 orang lainnya berpeluang bekerja di perusahaan garmen.

Meski demikian tetap memberi pelayanan bagi para pencari kerja melalui aplikasi internet, seperti merekomendasikan 42 Calon Tenaga Kerja Indonesia yang berkeinginan bekerja ke luar negeri.

Kemudian pelayanan perpanjangan (30) IMTA, penyelesaian dua kasus TKI, pelayanan 42 permohonan Tanda Daftar Bursa Kerja Khusus, serta menyosialisasikan kegiatan pembangunan rumah informasi kerja (PRIK) diikuti 300 peserta antara lain di Kecamatan Malangbong, dan Pamulihan.

Menurut dia, kemungkinan ada pencari kerja yang berhasil menempati kesempatan bekerja. Namun mereka tak melapor sehingga tak tercatat dalam penyerapan tenaga kerja, katanya.

******

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here