Penertiban Penambangan Batu Akik Terbentur Beragam Kendala

Garut News ( Senin, 22/09 – 2014 ).

Uu Saepudin. (Foto : John Doddy Hidayat).
Uu Saepudin. (Foto : John Doddy Hidayat).

Adanya bantahan Kepala Dinas “Sumber Daya Air dan Pertambangan” (SDAP) Kabupaten Garut, Uu Saepudin lantaran dinilai tak menaruh perhatian pada aktivitas tambang liar, dan perdagangan gelap batu akik di wilayah kabupaten setempat.

Tetatpi dia mengaku pihaknya kesulitan mengatur dan mengendalikan aktivitas penambangan tersebut di sejumlah lokasi wilayah selatan Kabupaten Garut belakangan kian merebak marak.

Itu disebabkan terbentur sejumlah kendala. Terutama menyangkut Undang Undang Nomor 4/2009 tentang Pertambangan Mineral dinilai tak mengakomodir para pengusaha kecil.

“Dilematis. Kita tak mungkin mengeluarkan izin usaha tambang batu akik sebab terbentur kepemilikan modal dan lahan para pengusaha batu akik pun tak memenuhi ketentuan Undang Undang (UU) Nomor 4/2009. Salah satunya, izin tambang hanya diberikan pada pertambangan berlahan di atas lima hektare. Sedangkan di kita kebanyakan lahannya tak seluas itu,” katanya, Ahad (21/09-2014).

Dia juga mengklaim aktivitas tambang batu akik di Garut sejauh ini hanya dilakukan pengusaha kecil berlahan sangat terbatas. Penambangannya masih tradisional, dan tak berlangsung massif.

Dikemukakan, pihaknya pernah mengeluarkan izin tambang batu mulia beberapa tahun lalu, sebelum batu mulia Garut booming, dan sebelum ada UU Nomor 4/2009.

Bahkan pihaknya pun pernah melakukan pembinaan intensif terhadap pelaku tambang batu mulia itu hingga bantuan alat dari Pemerintah Pusat pun turun.

Lantaran diprediksi ada potensi batu dinilai punya pasar menjanjikan. Sehingga perlu ada penanganan dan perhatian pemerintah.

“Saat itu tak ada batasan, berapapun lahan dimiliki, maka dikeluarkan izin, bahkan disampaikan ke Kementerian ESDM (Energi Sumber Daya Mineral). Dinas Perindustrian pun sempat melakukan pembinaan,” katanya pula.

Tetapi, ungkapnya, ketika muncul UU Nomor 4/2009, ternyata UU ini tak memberi kesempatan bagi pengusaha kecil. Masyarakat pemilik lahan semula dapat izin pun tak mengajukan izin lagi.

“Kita juga tak mungkin memprosesnya karena dibatasi Undang Undang tadi. Dikategorikan home industry enggak bisa, sebab di kita enggak ada klausul itu,” ujarnya.

Dikatakan, potensi tambang batu akik di Garut tersebar antara lain di Kecamatan Bungbulang, Caringin, Singajaya, Cihurip, dan Cisurupan.

Jenis batu akik dihasilkan terutama jenis chrysoprase chalcedony. Daerah tersebut juga kawasan potensi tambang emas, galena, dan tanah malkalit untuk tembaga.

Mencegah kemungkinan kerusakan lingkungan akibat aktivitas tambang batu akik, pihaknya berharap para pelaku usaha tambang batu akik mematuhi pelbagai ketentuan yang berlaku.

“Penambangan itu memang kadang tak kasat mata. Begitu pun pelakunya. Apalagi bila scope-nya kecil. Karena lokasinya jauh, saat kita datang, masyarakat menghentikan aktivitas tambangnya, dan kita hanya menemukan bekas galian-galian kecil. Ini sulitnya,” kata Uu.

********

Noel, Jdh.

Related posts

Leave a Comment