Penemu Teknologi Lubang Biopori Terima Kalpataru

0
23 views

Bogor, Garut News ( Sabtu, 06/06  2015 ).

Teknologi sederhana lubang resapan biopori dengan kedalaman 100 sentimeter dan diameter 15 sentimeter dibuat berderetan mengikuti alur aliran air di halaman rumah Kamir R Brata, Selasa (17/4/07), di Bogor, Jawa Barat. Kamir, pengajar Konservasi Tanah dan Air pada Departemen Ilmu Tanah dan Sumber Daya Lahan, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor, mencetuskan teknologi ini selain untuk menyimpan air ke dalam tanah, juga memproduksi kompos di dalam lubang. (KOMPAS/NAWA TUNGGAL).
Teknologi sederhana lubang resapan biopori dengan kedalaman 100 sentimeter dan diameter 15 sentimeter dibuat berderetan mengikuti alur aliran air di halaman rumah Kamir R Brata, Selasa (17/4/07), di Bogor, Jawa Barat. Kamir, pengajar Konservasi Tanah dan Air pada Departemen Ilmu Tanah dan Sumber Daya Lahan, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor, mencetuskan teknologi ini selain untuk menyimpan air ke dalam tanah, juga memproduksi kompos di dalam lubang. (KOMPAS/NAWA TUNGGAL).

– Bertepatan dengan Peringatan Hari Lingkungan Hidup, Jumat (5/6/2015), staf pengajar Institut Pertanian Bogor, Kamir R Brata, mendapat penghargaan Kalpataru dari Kementerian Lingkungan Hidup untuk kategori Pembina Lingkungan Hidup Berprestasi.

Presiden Joko Widodo memberikan langsung penghargaan itu kepada penemu teknologi lubang resapan biopori tersebut.

Pada pelataran taman depan rumah dinas Wakil Bupati Garut, dr H. Helmi Budiman, antara lain terdapat deretan tiang pancang minimalis difungsikan sebagai biopori. Keistimewaannya, selain di cat rapi juga dijadikan wahana bertanam sayuran jenis sawi. (Foto : John Doddy Hidayat).
Pada pelataran taman depan rumah dinas Wakil Bupati Garut, dr H. Helmi Budiman, antara lain terdapat deretan tiang pancang minimalis difungsikan sebagai biopori. Keistimewaannya, selain di cat rapi juga dijadikan wahana bertanam sayuran jenis sawi. (Foto : John Doddy Hidayat).

Kamir mengatakan, lubang resapan biopori merupakan teknologi tepat guna dan ramah lingkungan untuk mempercepat peresapan air hujan dan mengatasi masalah sampah organik.

Lubang resapan ini bermanfaat untuk mencegah banjir, longsor dan erosi, meningkatkan cadangan air bersih serta pembentukan kompos dan penyuburan tanah.

“Dengan penghargaan dari pemerintah, ini merupakan dukungan kuat untuk masyarakat menerapkan teknologi ini dalam rangka mencegah banjir. Untuk itu, masyarakat jangan ragu-ragu lagi untuk menerapkan teknologi ini,” ujar Kamir dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Sabtu (6/6/2015).

Lubang resapan biopori dibuat pada tanah dengan diameter 10 cm dan kedalaman sekitar 1 meter. Lubang itu diisi dengan sampah organik untuk memacu terbentuknya biopori, yakni pori-pori berbentuk lubang yang dibuat oleh fauna tanah atau akar tanaman.

“Dukungan dari seluruh pihak juga sangat diharapkan untuk melestarikan lingkungan dengan lubang resapan biopori ini,” kata Kamir.

Selain pemberian penghargaan Kalpataru, acara peringatan Hari Lingkungan Hidup di Istana Bogor, kemarin.

Sekaligus pula berestetika hiasan, namun disela tanah tertanami sayuran tersebut juga terdapat pipa menhujam tanah. Berfungsi sebagai sarana penyerapan air ke dalam tanah. (Foto: John Doddy Hidayat).
Sekaligus pula berestetika hiasan, namun disela tanah tertanami sayuran tersebut juga terdapat pipa menhujam tanah. Berfungsi sebagai sarana penyerapan air ke dalam tanah. (Foto: John Doddy Hidayat).

Juga diisi dengan pemberian penghargaan Adiwiyata Mandiri serta penyusun status lingkungan hidup daerah terbaik pada para pegiat lingkungan hidup, baik perorangan maupun kelompok.

Ada 95 sekolah dari 20 provinsi yang mendapatkan penghargaan Adiwiyata Mandiri. Sekolah Dasar Negeri Lawanggintung 2 Kota Bogor dan SMP Negeri 6 Kota Bogor berhasil mendapat penghargaan dari Kementerian Lingkungan Hidup tersebut.

 

********

Penulis : Kontributor Bogor, Ramdhan Triyadi Bempah
Editor : Laksono Hari Wiwoho/Kompas.com