Penempatan Pedagang Pasar Wanaraja Garut Carut Marut

0
225 views
Tidak Efektif.

Garut News ( Ahad, 14/10 – 2018 ).

Tidak Efektif.

Lantaran jengkel dengan beragam persoalan tak kunjung ada penyelesaian paskarevitalisasi bangunan Pasar Wanaraja Garut, maka sejumlah pedagang setempat memertanyakan sikap DPRD Garut, dan mendesak segera turun tangan mengatasinya.

Kalangan pedagang terutama memertanyakan penempatan masing-masing pedagang existing (pedagang lama) ke bangunan kios/los baru dinilai carut marut tak sesuai mekanisme disepakati.

Sehingga banyak pedagang dirugikan akibat kios ditempatinya pada bangunan pasar kini dinamai Pasar Rakyat Wanaraja tersebut, menjadi tak strategis.

Sedangkan validasi, serta verifikasi pedagang terkait penempatan di kios pada bangunan baru pasar, juga sama sekali tak efektif.

Menurut salah seorang pedagang pakaian Pasar Wanaraja Ratih, kondisi ini mengakibatkan tak sedikit di antara pedagang terpaksa menyewa, bahkan membeli kios lain untuk berdagang, kemudian membiarkan kiosnya sendiri kosong.

Ada pula pedagang lebih memilih berdagang terpaksa menggelar tikar di depan kiosnya yang kosong, atau di halaman pasar. Mulai selasar hingga tangga bangunan pasar berlantai dua itu pun tetap terkesan kumuh, sebab dipenuhi pedagang kaki lima (PKL) pelbagai jenis mata dagangan.

Dikemukakan, ada sekitar 200 kios kini tak ditempati pemiliknya karena merasa diperlakukan tak adil tersebut, dan lebih memilih berdagang ala PKL.

“Tempat saya juga katanya untuk fasilitas umum. Eh, tak tahunya, ada orang lain yang menempati,” ujarnya kesal, Ahad ( 14/10 – 2018 ).

Ungkapan senada dikemukakan pedagang lainnya, Neng. Dia katakan keheranannya karena banyak pedagang asli di sana terpinggirkan mendapatkan kiosnya oleh pedagang baru. Ironisnya, para ketua blok pasar masing-masing justeru mendapatkan tempat paling strategis.

“Padahal instruksi Bupati dulu, pedagang itu kembali ke tempat semula sesuai data awal, dan masing-masing pedagang diberi ID-Card (kartu identitas) supaya tak salah penempatan. Kenyataannya, SK (Surat Keputusan Bupati) penempatan belum muncul, namun nomor dibagikan. ID-Card juga enggak pernah dibagikan. Maka, kami minta hak dan keadilan agar dilakukan penataan ulang,”┬átandas Ketua Aliansi Pasar Rakyat Wanaraja Garut (APRWG) Asep Suryana disertai Sekretaris Totong.

Totong pun, mencium ada indikasi kongkalikong antarpihak tertentu dengan dinas terkait hingga terjadi kekisruhan penataan dan penempatan pedagang pasar ini.

Selain persoalan itu, ungkapnya, persoalan juga mesti dijelaskan pihak terkait terutama Dinas Perindustrian Perdagangan dan ESDM (Diperindag-ESDM) Garut.

Di antaranya mengenai kelebihan kios sekitar 31-55 kios yang tak jelas peruntukkannya, adanya ketidakseragaman pemasangan awning PKL beranggaran total sebesar Rp1,3 miliar, adanya pungutan Rp300.000 per perdagang untuk menebus kunci kios, dan adanya pemindahan paksa pedagang sebelum waktunya.

Bahkan lebih mengecewakan lagi, kata Totong, Disperindag-ESDM pernah mengundang pertemuan para pedagang di kantor Diperindag-ESDM, namun justeru para pejabat dinas sendiri tak hadir.

Sehingga para pedagang sempat terlantar di sana. Tak tahu mesti berbuat apa karena pihak pengundang malah tak datang.

“Kami juga heran karena DPRD tak pernah turun atas persoalan ini. Mereka selama ini ke mana saja ? Enggak seperti ketika mereka butuh suara ketika Pemilu,”┬átegas Totong.

Karena itu, lanjutnya, pihaknya melayangkan surat ke DPRD untuk beraudensi, dan mendesak DPRD segera turun tangan menyikapi persoalan mendera para pedagang Pasar Rakyat Wanaraja ini.

***********

NZ/Fotografer : John Doddy Hidayat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here