Penembakan Halte

Garut News ( Senin, 30/12 ).

Ilustrasi. (Foto: John).Penembakan halte Tansjakarta beberapa waktu lalu tak bisa dianggap sepele.

Korban jiwa memang tak jatuh, penumpang juga tak ada yang terluka.

Tetapi pengusutan kasus ini tak boleh dihentikan hanya lantaran polisi belum menemukan proyektil.

Penembakan ini jelas telah menciptakan teror bagi para pengguna bus di Jakarta.

Tembakan pada malam Natal itu memecahkan kaca halte bus Transjakarta di Raden Inten, Jakarta Timur.

Beberapa kali serangan seperti ini terjadi.

Agustus lalu, dua halte busway di Cawang Ciliwung dan Cawang Cikoko porak-poranda.

Peristiwa ini bahkan terjadi dalam semalam.

Sebelumnya juga terdapat penembakan di halte bus Transjakarta di Otto Iskandar di Nata, Jakarta Timur.

Rentetan peristiwa itu, ancaman bagi para penumpang angkutan umum.

Citra bus Transjakarta selama ini dikenal cepat, nyaman, dan aman akan hancur jika kepolisian tak cepat mengidentifikasi pelaku teror.

Empat penembakan itu terjadi pada malam hari, pada saat halte sepi penumpang.

Namun bukan tak mungkin pelaku akan beraksi pula pada tengah hari.

Pengusutan lamban bisa membuat pelaku kian berani melakukan aksinya siang bolong.

Jika hal ini terjadi, kecemasan berubah menjadi ketakutan masif para penumpang bus Transjakarta.

Bayangkan, saat ini ada sekitar 350 ribu orang pergi-pulang menggunakan bus Transjakarta setiap hari.

Mereka tersebar di 228 halte pada 12 koridor di sekujur Jakarta.

Sekali saja senjata api meletup di tengah kerumunan penumpang, kepanikan menjalar tak terkendali.

Cara terbaik mencegah kemungkinan buruk itu tentu saja mengungkap segera siapa di balik penembakan selama ini.

Tak pantas jika kepolisian buru-buru menyatakan “sulit mencari sang pelaku” sebelum melakukan penyelidikan maksimal.

Demi menjamin keamanan penumpang, kepolisian juga harus meningkatkan patroli di sekitar halte.

Minimnya closed-circuit television (CCTV) di halte-halte busway yang lama dipersoalkan mesti segera diatasi.

Badan Layanan Umum Transjakarta pernah menyatakan, seluruh halte bus Transjakarta dilengkapi kamera pengintai.

Tetapi nyatanya, setiap ada peristiwa penembakan, polisi mengeluhkan tak adanya kamera tersebut.

Jika pun ada, CCTV itu ternyata tak berfungsi.

Pemerintah DKI perlu memeriksa kembali klaim Badan tersebut dan menghitung ulang berapa sebenarnya CCTV berfungsi.

Badan Layanan Umum seharusnya juga memastikan kamera pengintai terpasang bisa memantau kondisi di luar halte.

Sulit diterima akal apabila mereka tak mampu membeli kamera pengintai 360 derajat.

Pengelola Transjakarta justru kudu berani berinvestasi demi memberi layanan terbaik bagi para penumpang bus yang kini menjadi tulang punggung transportasi Jakarta ini.

Tak semestinya pemerintah DKI, dan kepolisian menganggap biasa saja penembakan halte berulang kali terjadi.

**** Opini/Tempo.co

Foto : Ilustrasi/ John.

Related posts

Leave a Comment