Penduduk Pakenjeng Sesalkan “Jeblognya” Rehab Jalan DAK

0
53 views
Ilustrasi.

Fotografer : John Doddy Hidayat

Garut News ( Kamis, 17/11 – 2016 ).

Ilustrasi.
Ilustrasi.

Penduduk pada sejumlah desa di wilayah Kecamatan Pakenjeng Garut, Jawa Barat, memertanyakan pelaksanaan perbaikan ruas jalan Tegalgede-Bajongrandu betulan Desa Sukamulya Pakenjeng, yang dibiarkan terlantar atawa mangkrak karena ditinggalkan kontraktor.

Jangankan bisa menikmati infrastruktur jalan baik untuk kelancaran mobilitas dan peningkatan aktivitas ekonomi setelah bertahun-tahun terkendala kondisi infrastruktur buruk, material maupun tenaga penduduk dimanfaatkan pihak kontraktor dalam kegiatan perbaikan jalan tersebut pun, hingga kini masih belum dibayar.

Padahal di kalangan masyarakat beredar kabar pihak PT BLS selaku pelaksana rehabilitasi ruas jalan itu, melaporkan ke Pemkab setempat bahwa proyek berpagu anggaran sekitar Rp4.576.064.500 bersumber “dana alokasi khusus” (DAK) ini, rampung seratus persen.

Selain rehabilitasi badan ruas jalan, warga juga memertanyakan pelaksanaan pembangunan tembok penahan tanah di ruas jalan tersebut berpagu sekitar Rp190.530.000.

“Proyek ini dikerjakan sejak tiga bulan lalu, tetapi anehnya, tak juga diselesaikan. Jangankan dihotmix, aspal juga rusak. Keermer jalan rusak. Warga dipekerjakan juga belum dibayar. Termasuk batu-batu dari masyarakat belum pula dibayar. Alasan pengusaha katanya belum dibayar Pemerintah. Namun laporan ke Garut (Pemkab), proyeknya beres seratus persen,” ungkap Taopik, penduduk Desa Sukamulya Pakenjeng.

Dikatakan, pengerjaan proyek perbaikan jalan sepanjang lima kilometer itu hingga kini baru mencapai sekitar 40%-50%. Itu pun kondisinya sudah acak-acakan. Kondisi jalan menghubungkan Karangsari dengan Cimari itu tak begitu beda dengan sebelumnya. Rusak parah. Nyaris aliran sungai kering dipenuhi bebatuan. Sama sekali tak nyaman dilintasi kendaraan roda empat maupun roda dua.

“Wabup juga pernah meninjau ke lokasi, bahkan sempat mencak-mencak melihat buruknya pekerjaan perbaikan jalan ini. Kita jadi bertanya-tanya, jangan-jangan perbaikan jalan ini disubkan. Kita sulit menghubungi pihak bertanggung jawab, tetapi di sisi lain ada laporan katanya pekerjaan sudah selesai,” kata Taopik.

Karena itu, dia berharap Pemkab maupun pihak berwenang lainnya menindaklanjuti mangkraknya perbaikan ruas jalan Tegalgede-Bojongrandu tersebut, supaya jelas duduk persoalannya.

Sehingga warga pun mendapatkan haknya menikmati kebutuhan dasar infrastrukur yang baik, dan tak selalu menjadi korban kepentingan pihak tertentu.

“Kalaupun ternyata ada pelanggaran, mohon diusut sampai tuntas,” imbuhnya.

*********

(nz, jdh).