Penduduk Lembah Kaledong Tersiksa Krisis Air Bersih

“Berulangkali Diusulkan Tetapi Masih Belum Digubris” Garut News ( Ahad, 21/09 – 2014 ).

Ketua RW.9, Asep Beserta Penduduk Tunjukkan Kondisi Bak Yang Kering Kerontang, Ahad (21/09-2014).
Ketua RW.9, Asep Berkaos Warna Kuning, Beserta Penduduk Tunjukkan Kondisi Bak Yang Kering Kerontang, Ahad (21/09-2014).

Sedikitnya 560 penduduk Perkampungan Kaledong di Desa Gandamekar wilayah Kecamatan Kadungora, Garut, Jawa Barat, selama ini sepanjang tahun tersiksa krisis air bersih. Mereka tersebar pada tiga RT di lingkungan RW. 9, sejak belasan tahun lalu kerap mengusulkan bisa mendapat bantuan sarana air bersih yang memadai dari Pemkab setempat. Tetapi hingga kini “asa” atawa harapan masyarakat di kawasan lembah, dan perbukitan tersebut, sama sekali masih belum digubris.

Bak Penampungan di Tengah Rumpun Bambu Gelap, Tetapi Selama Ini Berkapasitas Sangat Terbatas.
Bak Penampungan di Tengah Rumpun Bambu Gelap, Tetapi Selama Ini Berkapasitas Sangat Terbatas.

Sedangkan sumber air bisa dimanfaatkan masing-masing dari Cipari berjarak 2,5 km, serta dari arah barat berjarak 1,5 km pada perkampungan berlokasi di ujung barat perbatasan Kabupaten Garut dengan Kabupaten Bandung itu.

Ketua RW. 9 Kampung Kaledong, Asep(48) kepada Garut News, Ahad (21/09-2014) sore, di kediamannya katakan, kedua lokasi sumber mata air ini berlokasi di hilir jauh melintasi perbukitan curam.

Istri Ketua RT.01, Ny. Syamsudin Antri Air Sejak Dini Hari Setiap Harinya.
Istri Ketua RT.01, Ny. Syamsudin Antri Air Sejak Dini Hari Setiap Harinya.

Sehingga melalui selang, air diangkat ke atas dengan bantuan mesin sederhana bertenaga listrik, kemudian di tampung pada beberapa bak, di antaranya berukuran sembilan meter kubik.

Namun selama ini, nyaris air pada bak penampungan tersebut tak pernah bisa penuh, bahkan terdapat bak penampungan sekaligus MCK sama sekali berkondisi kering kerontang.

Ketua RT. 01, Syamsudin Evaluasi Bak Penampungan Air yang Sangat Minim Nyaris Tak Pernah Bisa Penuh.
Ketua RT. 01, Syamsudin Evaluasi Bak Penampungan Air yang Sangat Minim Nyaris Tak Pernah Bisa Penuh.

Lantaran kemampuan mesin pompa airnya sangat terbatas, meski selama ini masyarakat setempat terus berupaya berswadaya memenuhi kebutuhan sarana air bersih.

Asep beserta penduduk sekitarnya sangat mengharapkan Pemkab Garut bisa segera membantu meningkatkan kapasitas sarana air bersih itu.

Harapan senada dikatakan Ketua RT. 1 Kampung Kaledong, Syamsudin dan menyatakan setiap hari sejak subuh hingga malam, masyarakat antri mendapatkan air bersih dari bak penampungan berkapasitas debet air sangat terbatas.

Ketua RW, Asep Saksikan Antrian Ember, yang Berjejer Panjang Setiap Hari.
Ketua RW, Asep Prihatin Saksikan Antrian Ember, yang Berjejer Panjang Setiap Hari.

Malahan air keluar dari selang pun, hanya sebesar ekor tikus tetapi terpaksa ditunggu, di antri dan dimanfaatkan 560 penduduk.

Selanjutnya air dari bak penampungan dipikul warga ke rumah masing-masing.

“Pak Camat Kadungora pernah kesini, dan keluhan disampaikan pada beliau, namun aneh, sampai sekarang masih belum terdapat bantuan dari Pemkab Garut,” ungkap masyarakat Kampung

Kaledong, termasuk dikatakan Eman, penduduk setempat. “Bisa dibayangkan debet air sebesar ekor tikus diperebutkan 560 warga untuk air minum, memasuk, mencuci, dan mandi termasuk memenuhi kebutuahn air MCK, dipastikan tak memenuhi prasarat perilaku hidup bersih dan sehat,” ungkap Maman pula.

Nyaris Setiap Penduduk Kaledong Nyaris Tiada Hari Tanpa Memikul Air Bersih Memenuhi Kebutuhan Pokok Sehari-Hari.
Nyaris Setiap Penduduk Kaledong Nyaris Tiada Hari Tanpa Memikul Air Bersih Memenuhi Kebutuhan Pokok Sehari-Hari.

Kampung Kaledong, sekitar 21 km arah barat dari pusat Kota Garut, selama ini sebagian besar penduduknya hidup bertani.

Di antaranya menanam singkong, lantaran kawasan kering kerontang perbukitan ini, tak mungkin warganya bersawah.

Satu hektar tanah rata-rata setiap panen bisa menghasilan singkong satu ton, setiap kilogramnya hanya bernilai jual Rp600,- Penduduk setempat juga antara lain bercocok tanam jagung, serta cabe rawit.

Warga perkampungan tersebut, kini juga tengah gencar bergoytong royong membangun masjid secara berswadaya.

Mereka pun pernah minta bantuan pembangunan ruas jalan perkampungan pada Pemkab Garut, melalui pemerintahan setempat.

Namun, lagi-lagi, hingga sekarang masih pula belum digubris.

“Namun sepanjang tahun masyarakatnya tersiksa krisis air bersih, apalagi pada kemarau sekarang ini, semakin parah dan menyengsarakan”.

******

Esay/Foto : John Doddy Hidayat.

Related posts