Penduduk Leles Garut Mengaku Sangat Terganggu Polusi

0
195 views

Garut News ( Selasa, 14/10 – 2014 ).

Ilustrasi. (Foto : John Doddy Hidayat).
Ilustrasi. (Foto : John Doddy Hidayat).

Banyak penduduk Desa Sukarame Leles, Garut, Jawa Barat, mengaku sangat terganggu polusi.

Lantaran merebak maraknya aktivitas penambangan galian C diduga ilegal pada kawasan Pasir Gedogan sejak beberapa waktu terakhir.

Selain rumah tinggal kerap menjadi kotor, akibat kepulan debu material batu serta pasir diangkut truk pasir, diperparah kondisi jalan rusak, warga pun terganggu suara gaduh kendaraan pengangkut material tambang berlalu lalang hingga malam.

Terutama dialami mereka rumah tinggalnya berada persis pinggir sepanjang lintasan jalan menuju kawasan pertambangan.

Ilustrasi. Foto : John DOddy Hidayat.
Ilustrasi. Foto : John DOddy Hidayat.

Hanya di hari Ahad penduduk bisa agak tenang, sebab kegiatan tambang biasanya libur.

Sejumlah penduduk juga menyebutkan, pada hari kerja, truk-truk pegangkut material tambang antre pula hingga sepanjang ratusan meter. Selama sehari, truk keluar masuk lokasi mencapai ratusan unit.

“Sebenarnya beberapa kali warga mengeluhkan masalah ini. Kerap baru beberapa menit membersihkan lantai rumah, menjadi kotor lagi. Tetapi sampai sekarang tak ada respon (dari perusahaan tambangnya),” kata Dadang Br(60) tokoh masyarakat Kampung Legok Pasir Desa Sukarame, Senin (13/10-2014).

Menurut dia, aktivitas tambang galian C di Pasir Gedogan seluas sekitar dua hektare tersebut, berlangsung cukup lama, bahkan kepemilikannya sempat berpindah-pindah tangan bernilai take over terakhir diketahui sekitar Rp2 miliar.

Material diolah dan diangkut dari kawasan Pasir Gedogan, antara lain berupa bongkahan-bongkahan batu besar, batu split, pasir, dan abu batu.

Pola penambangan melibatkan alat berat bechoe. Selain bangunan kecil difungsikan sebagai kantor, di lokasi juga terdapat mesin pemecah batu.

Ungkapan senada dikatakan Ade Acah(50). Dia juga mengemukakan, bukit-bukit lain di wilayah Desa Sukarame, termasuk di sekitar Pasir Gedogan, Kini berpindah tangan dari warga pada sejumlah pengusaha pengambil material pasir, dan bebatuannya.

Namun kegiatan penambangannya belum dapat dimulai karena di kalangan warga masih terjadi silang pendapat.

Sebagian menyetujui bukit-bukit kecil sarat potensi material pasir dan batu itu ditambang, namun sebagian lainnya menolak lantaran khawatir lingkungan menjadi rusak.

“Kalau luasnya sudah dibeli untuk dibongkar pasir dan batunya wah enggak terhitung berapa hektare,” katanya.

Kepala “Sumber Daya Air dan Pertambangan” (SDAP) kabupaten setempat, Uu Saepudin menegaskan kegiatan tambang galian C di kawasan Pasirgedogan Desa Sukarame Leles ini ilegal, meski desa tersebut masuk kawasan pertambangan galian C di wilayah Kecamatan Leles.

“Saya juga dengar katanya penambangan di Sukarame sudah ada IUP (Izin Usaha Pertambangan)-nya dari BPMPT (Badan Penanaman Modal dan Perizinan Terpadu Kabupaten Garut). Ini saya herankan. Soalnya, kami sendiri enggak pernah mengeluarkan satu pun rekomendasi penambangan di Sukarame,” ungkap Uu.

Dikemukakan, pihaknya hanya pernah mengeluarkan rekomendasi penambangan di Desa Margaluyu tetangga Desa Sukarame Leles.

“Pihak minta dibuatkan izin tambang di Desa Margaluyu juga sebenarnya banyak, tapi kita tak pernah memberikan. Hanya satu yang berjalan itu. Sedangkan lainnya tak kita keluarkan karena ada beberapa titik justru kawasan konservasi. Itu di Margaluyu. Sedangkan untuk Sukarame, kita tak pernah memberikan,” katanya lagi.

Didesak langkah SDAP atas aktivitas penambangan galian C liar di Desa Sukarame, Uu menyatakan pihaknya belum bisa menyebutkan.

“Akan kita pelajari dan cermati lagi. Kalau terbukti melanggar, tentu kita tindak tegas !” tandasnya.

Kepala Bidang Perizinan dan Non Perizinan BPMPT Kabupaten Garut, Aep Saepudin membenarkan BPMPT mengeluarkan IUP bagi PT Bangun Bersama Rahmi untuk kegiatan tambang galian C di kawasan Pasirgedogan Sukarame Leles baru sebatas IUP eksplorasi.

Sedangkan IUP eksploitasi dan produksinya, pihaknya sama sekali belum pernah menerbitkan, katanya.

Dia pun mengaku kaget menerima informasi kondisi di lapangan, kegiatan penambangan galian C di Pasir Gedogan justru pada tingkat ekspolitasi dan produksi besar-besaran.

Apalagi disebut-sebut terjadi pemindahtanganan kegiatan ekplorasi tersebut dari satu pengusaha ke pengusaha lain.

“Kita belum pernah mengeluarkan IUP ekploitasi dan produksi. Kalau ada, kita juga pasti menerima pemberitahuan dari SDAP. Pemindahtanganan juga tak sembarangan, mesti ada pemberitahuan ke BPMPT, dan ada prosesnya,” ungkapnya.

Dia menjelaskan, ada permintaan dari pihak pengusaha agar kegiatan eksplorasi tambang galian C di Pasir Gedogan ditingkatkan ke eksploitasi dan produksi.

Namun belum dapat dipenuhi karena masih terkendala izin lingkungan dari warga setempat.

Aep pun berjanji segera berkoordinasi dengan pihak SDAP menindaklanjuti kasus tersebut.

******

Noel, Jdh.