Penduduk Kaki Gunungapi Guntur Diimbau Akhiri Mitos Menyesatkan

0
43 views

Ilustrasi Fotografer : John Doddy Hidayat.

Garut News ( Rabu, 21/10 – 2015 ).

Gunungapi Guntur.
Gunungapi Guntur.

Penduduk terutama masyarakat seputar kawasan kaki Gunungapi Guntur diminta mengakhiri perkembangan mitos mengenai kebakaran hutan Gunungapi tersebut, juga kerap disebut Gunung Gede itu.

Berupa mitos lama berkembang di tengah masyarakat yakni apabila terjadi kebakaran Gunungapi Guntur pertanda bakal segera turun hujan. Mitos tak diketahui apakah disengaja dikembangkan pihak tertentu maupun tidak, jelas sebuah anggapan dan kepercayaan keliru, bahkan menyesatkan.

Kepala Seksi Konservasi Wilayah V Garut pada Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat Toni Ramdhani katakan, mitos ini sebenarnya terbantahkan dengan sendirinya dengan kejadian kebakaran Gunungapi Guntur pada kemarau panjang 2015 ini.

“Bagaimana mungkin kebakaran itu tanda segera turun hujan? Secara kasat mata saja, kebakarannya terjadi sejak Juli lalu, hingga sekarang akhir Oktober belum ada tanda-tanda hujan segera turun,” ungkap Toni didampingi Petugas Kepolisian Hutan Teten Efendi, Rabu (21/10-2015).

Sambil Menatap Lembah Kaki Gunungapi Guntur.
Sambil Menatap Lembah Kaki Gunungapi Guntur.

Menurut Teten, kebakaran melanda hutan Gunungapi Guntur di kawasan Cagar Alam maupun Kawasan Wisata Alam justru menimbulkan banyak kerugian tak ternilai, bahkan tak mustahil kian menjauhkan bisa segera turun hujan.

lantaran, hujan terjadi justru ketika kelembaban udara terhitung tinggi sekitar 75-85% akibat produksi oksigen berlimpah.

Sedangkan jika beragam jenis tanaman notabene memproduk oksigennya rusak, malahan habis terbakar maka dihasilkan bukan oksigen melainkan karbon dioksida (CO2). Sehingga, potensi hujan justru beralih ke daerah lain lebih tinggi produk oksigennya.

“Jadi jelas, mitos soal kebakaran Gunung Guntur ini mesti diluruskan !” imbuh Teten.

Dikemukakan, kerugian lain akibat kebakaran hutan termasuk di kawasan Gunung Guntur, rusaknya ekosistem. Selain kehilangan ribuan kubik oksigen dihasilkan tanaman, juga pelbagai jenis satwa, dan hilangnya cadangan air.

Kebakaran melanda hutan CA Gunung Guntur terakhir terpantau Selasa (20/10-2015). Kepulan asap tebal di kawasan puncak gunung sangat jelas terlihat dari jauh. Sehingga mirip letusan gunung berapi.

Kebakaran terjadi sejak Ahad (18/10-2015) di daerah Rafles itu terus melebar ke Blok Cilopang, Cigenjreng, Cikahuripan, dan Sanghyang Buruan. Titik api terlihat mengarah ke barat ke kawasan Kamojang. Luas lahan terbakar diperkirakan mencapai 30-50 hektare.

*******

Noel, Jdh.