Penduduk Jangkurang Terserang Gatal Diobati Cabe Rawit

by

Garut News, ( Senin, 11/11 ).

Lintasan Aliran Air Ini Kerap Berkondisi Hitam Pekat, dan Berbau. (Foto: John).
Lintasan Aliran Air Ini Kerap Berkondisi Hitam Pekat, dan Berbau. (Foto: John).

Banyak penduduk Kampung Jangkurang di Kelurahan Sukamentri, Garut Kota, Jawa Barat, selama ini kerap terserang penyakit gatal-gatal.

Mereka kebingungan mengenai ihwal atawa penyebab gatal-gatal menyerang sekujur tubuhnya.

Sehingga banyak di antaranya menduga, penyakit mirip herves itu, terindikasi berasal dari kondisi air di daerah mereka biasa digunakan memenuhi kebutuhan air bersih sehari-hari, terkontaminasi limbah cair industri penyamakan kulit mengandung zat-zat kimia berbahaya.

Lantaran, pemukiman mereka dilintasi kali Ciwalen diduga berkondisi airnya tercemar limbah cair industri dari Kawasan Sukaregang.

Sebab selain berwarna hitam pekat dan berbuih, juga berbau busuk menyengat.

Bahkan gundukan sampah pun, tersebar pada sepanjang lintasan aliran sungai.

Seorang warga, Soleh(50), katakan penyakit gatal-gatal menyerang warga sejak sebulan terakhir ini.

Terdapat sekitar 30 hingga 40 penduduk didera penyakit tersebut, katanya.

“Kita juga enggak ngerti dari mana penyakit ini. Kalau dari sumur, kelihatannya biasa saja. Bersih. Kalau air sumur tercemar, sungai Ciwalen kan ada di bawah. Enggak tahu kalau memang air sungainya meresap mencemari sumur,” ungkap Soleh, Ahad (10/11).

Dikemukakan, gatal-gatal menyerang bagian tubuh, kemudian timbul terutama jika terkena hawa dingin.

Malahan jika bagian tubuh gatal digaruk, selain gatal-gatal menjadi menyebar, juga meninggalkan bekas hitam seperti terkena api.

Juga anehnya, kata Soleh, didera penyakit gatal-gatal tersebut, warga berusia 20 tahun ke atas.

Sedangkan anak-anak nyaris tak mengalami, katanya pula.

“Sebagian berupaya berobat ke Puskesmas. Namun diberi obat dan dibalur balsem juga masih tetap gatal,” ujar Soleh.

Ungkapan senada juga mengemuka dari penduduk lainnya, Onyen(35).

Kata dia, saking kesal tak kunjung sembuh setelah makan obat atawa dibaluri balsem, banyak warga akhirnya nekat mengobatinya dengan cabe rawit merah.

Sedangkan caranya, beberapa potong cabe rawit merah dihancurkan kemudian dibalurkan pada bagian tubuh gatal-gatal.

“Ternyata, setelah dibalur cabe rawit merah, ternyata gatalnya hilang. Mungkin lantaran panasnya beda, ya ? Namun ya, tetap saja terdapat bekas hitamnya,” tutur Soleh.

Soleh termasuk Onyen mengaku pula, sejauh ini belum pernah terdapat petugas kesehatan turun ke Jangkurang mengecek penyakit gatal-gatal ini.

Penduduk pun masih belum mengetahui pasti mengenai penyebab penyakit itu.

Juga, apakah penyakit gatal-gatal tersebut menular atawa tidak.

Sekretaris Dinkes kabupaten setempat, Dede Rochmansyah, katakan pihaknya masih belum bisa memastikan jenis penyakit gatal menyerang penduduk Jangkurang ini.

Namun dia menduga, penyakit tersebut lebih merupakan alergi terhadap air atawa cuaca dingin, terkait daya tahan tubuh warga menurun di tengah musim pancaroba.

“Kemungkinan lantaran alergi. Mungkin mereka staminanya lagi turun. Apalagi sekarang kan musim pancaroba. Jadi mudah terkena penyakit. Ini juga terkait erat dengan pola hidup bersih warga sendiri. Sebaiknya jika mengalami hal seperti ini, warga datang saja ke puskesmas diperiksa dan diobati,” katanya.

Disinggung kemungkinan adanya pencemaran limbah industri penyamakan kulit Sukaregang pada air bersih digunakan penduduk, Dede mengaku tak bisa memastikannya.

“Soal penyediaan air bersih kan terdapat pihak lain menanganinya. Misalnya PDAM,” kata Dede, berkilah.

****** Zainul, JDH.