Penduduk Garut Masih Banyak Gunakan Kayu Bakar

Garut News ( Ahad, 07/09 – 2014 ).

Menyempatkan Istirahat Kemudian Kembali Memikul Kayu Bakar Ke Kampoung Genteng, Garut, Jabar.
Menyempatkan Istirahat Kemudian Kembali Memikul Kayu Bakar Ke Kampung Genteng, Garut, Jabar.

Foto berita pekan ini, Ahad (07/09-2014), menampilkan fenomena kerap selama ini mungkin terlupakan, ternyata penduduk Kabupaten Garut, Jawa Barat, hingga sekarang masih banyak menggunakan kayu bakar.

Banyak pula di antara warga yang masih menggunakan kayu bakar tersebut, mengaku lantaran ketika mendapat bantuan kompor beserta kemasan gas LPG berkapasitas tiga kilogram langsung dijual.

Sebab dihantui ketakutan bisa meledak, sehingga saat masyarakat lain banyak mengeluh dan kesulitan mendapatkan pembelian gas LPG tiga kilogram, tetapi  penduduk selama ini menggunakan kayu bakar tetap tenang, serta senantiasa mencari kayu bakar kemana mana.

Memikul Beban Kayu Bakar.
Memikul Beban Kayu Bakar.

Kepala Bagian Perekonomian Setda Kabupaten Garut, Drs Firman Karyadin menyarankan, kini mendesak segera diperlukannya regulasi yang jelas, antara lain mengatur proses pemasaran gas Elpiji kemasan tiga kilogram.

Sehingga komoditi tersebut, tak lagi dipasarkan atawa dijual secara bebas.

Melainkan kudu benar-benar tepat sasaran, tepat waktu, serta tepat administrasi berupa pengalokasian, termasuk konsisten menerapkan “harga eceran tertinggi” atawa HET.

Firman Karyadin mengemukakan gagasan orsinilnya itu, ketika berulangkali didesak pertanyaan Garut News, Jum’at (05/09 -2014), mengenai penyikapan lantaran kerap terjadinya kelangkaan mata dagangan tersebut, selama ini di kabupaten setempat.

Dikemukakan Firman, pemerintah selama ini tak mungkin mengurangi alokasi pasokan.

Melainkan pula terjadinya kelangkaan barangkali disebabkan isu bakal terjadinya kenaikan harga BBM.

Sebab dipastikan pula, pada pangkalan dan distributor pemasarannya berlangsung sebagaimana mestinya, lantaran pangkalan dan distributor selama ini mudah dikontrol, atawa dikendalikan.

Tak Memikirkan Langkanya Gas LPG Kapasitas Tiga Kilogram.
Tak Memikirkan Langkanya Gas LPG Kapasitas Tiga Kilogram.

Karena itu, diperlukan pantauan lapangan oleh institusi teknik terkait secara terkoordinatif, khususnya pada tingkat pengecer termasuk barangkali pada level warungan.

Sebab, tak mustahil terjadinya kelangkaan terindikasi akibat kenakalan para pengecer, tandasnya.

Sehingga, diperlukan upaya serius agar gas LPG kemasan tiga kilogram tak dijual bebas, tetapi didistribusikan pada para penerima manfaat.

Masyarakat miskin penerima manfaat berhak nikmati gas LPG kemasan tiga kilogram, bukan para pengusaha peternakan ayam ras, atawa penduduk kaya.

Garut Setiap Saat Dilintasi Tanki LPG 15 Ton Pada Lintasan Jalan Berkapasitas Lima Ton.
Garut Setiap Saat Dilintasi Tanki LPG 15 Ton Pada Lintasan Jalan Berkapasitas Lima Ton.

Sehingga pendistribusiannya perlu seperti halnya pendistribusian Raskin, meski diakui proses pengalokasian Raskin pun selama ini kerap bermasalah, apalagi jika dijual bebas.

Pantauan Garut News menunjukkan, harga gas LPG kemasan tiga kilogram kerap mencapai Rp25 ribu per tabung.

Harga ini sangat jauh di atas “Harga Eceran Tertinggi” (HET) nya, berdasar SK bupati setempat, berkisar Rp14.350-14.500 per tabung di pangkalan.

Terkait kelangkaan gas elpiji kemasan tabung tiga kilogram tersebut, masyarakat berharap Pemkab Garut segera turun tangan mengambil langkah mengatasinya.

Belum diketahui pasti penyebab kelangkaannya. Namun diduga lantaran banyak warga awalnya menggunakan gas Elpiji 12 Kg.

Mencari Rumput Sekaligus Mencari Kayu Bakar Setelah Berkebun.
Mencari Rumput Sekaligus Mencari Kayu Bakar Setelah Berkebun.

Posisi kuota gas Elpiji kemasan tabung tiga kilogram di Garut saat ini mencapai sekitar 130 ton per hari.

Pada akhir 2013, Pemkab Garut sempat mengajukan penambahan kuota ke Pertamina menjadi sekitar 170 ton per hari.

Namun permintaan tersebut tak dikabulkan, katanya.

 

*******

Esay/Foto:

John Doddy Hidayat.

Related posts