Penduduk Garut Gantikan Nasi dengan Gadung

Garut News ( Rabu, 17/09 – 2014 ).

Tanaman Padi Gagal Panen Diranggas Kekeringan Terpaksa Dijadikan Pakan Sapi Potong, Sabtu (13/09-2014). (Foto: John Doddy Hidayat).
Tanaman Padi Gagal Panen Diranggas Kekeringan Terpaksa Dijadikan Pakan Sapi Potong, Sabtu (13/09-2014). (Foto: John Doddy Hidayat).

Sejumlah penduduk Garut, Jawa Barat, di Kampung Ciwaru Desa Cijambe Kecamatan Cikelet dikabarkan kini mengonsumsi gadung (Dioscorea hispida) pengganti nasi.

Terutama dilakukan mereka warga miskin.

Penduduk miskin tersebut, terpaksa mengonsumsi jenis umbi-umbian beracun ini lantaran kesulitan mendapatkan beras akibat gagal panen, dari lahan sawah tak produktif diranggas kekeringan sejak beberapa waktu lalu.

“Mengonsumsi beras juga paling biasanya raskin. Tetapi karena daya beli turun, uang enggak ada, kini langka konsumsi beras, dan bahkan mereka terpaksa cari alternatif. Pergi ke hutan mencari gadung,” kata Budi(40), salah seorang warga Cijambe, Selasa (16/09-2014).

Keterangan sama dikemukakan pula warga lainnya, Alit(44). Kata dia, gadung dipilih pengganti makanan pokok beras sebab gampang diperoleh di kawasan hutan daripada beras dipastikan kudu dibeli dahulu.

Foto : John Doddy Hidayat.
Foto : John Doddy Hidayat.

Meski bisa dikonsumsi, gadung tanaman jenis umbi-umbian itu kudu diolah dahulu agar kandungan racunnya hilang.

Budi maupun Alit katakan, sawah di Kampung Ciwaru rentan gagal panen sebab sawah tadah hujan. Sehingga ketika diranggas kemarau, sawah cepat mengalami kekeringan. Sumber air mengairi persawahan pun tak ada.

Camat Cikelet Asep Sutisna membantah ada warga Desa Cijambe mengonsumsi gadung akibat kekurangan daya beli dan gagal panen.

Kata Asep, warga di Kampung Ciwaru mengonsumsi gadung tak lebih sebagai makanan tambahan. Tak ubahnya singkong, atau umbi-umbi lain berkarbohidrat kerap dijadikan makanan tambahan selain nasi di beberapa daerah di Garut.

“Warga Ciwaru biasa makan gadung. Jadi, warga di sana bukan tak ada beras dan tak makan nasi. Mereka tetap bisa makan nasi, tetapi ada makanan tambahan di antaranya seperti gadung. Mereka juga enggak ada mengalami kekurangan daya beli. Kalau kekeringan, ya memang terjadi karena sedang musim kemarau,” kata Asep.

Dia menegaskan dirinya mengecek ke lapangan terkait kondisi warga Kampung Ciwaru tersebut.

“Saya juga cek ke Sekdes (Sekretaris Desa Cijambe). Beliau juga sama menjelaskan, tak ada kejadian warga makan gadung karena gagal panen dan mengalami kekurangan daya beli. Warga di sana sudah biasa mengonsumsi gadung sebagai tambahan saja. Jadi, ya mengonsumsi nasi, ya mengonsumsi gadung juga,” katanya.

********

Noel, Jdh.

Related posts