Pendidikan Islam dan Inovasi Teknologi Bisa Disinergikan

0
20 views
Kampus Peradaban Ponpes Yadul 'Ulya juga Dibangun Dengan Produk Ilmu, dan Teknologi.

Sabtu 05 Sep 2020 15:41 WIB
Rep: Wahyu Suryana/ Red: Muhammad Hafil

Ponpes/Kuttab Yadul ‘Ulya.

“Sistem pendidikan tiap zaman selalu berubah”

REPUBLIKA.CO.ID, SLEMAN — Rektor Universitas Islam Indonesia, Prof Fathul Wahid mengatakan, sistem pendidikan tiap zaman selalu berubah. Perubahan akan seiring tujuan dan ekologi pendidikan, proses pembelajaran, tata kelola dan kebijakan.

“Jangan mengajari anakmu seperti orang tuamu dulu mengajarimu, karena anak-anakmu bukanlah untuk hidup pada zamanmu,” kata Fathul, mengutip Ali bin Abi Thalib, saat mengisi webinar Inovasi Teknologi Dalam Pendidikan Islam, Kamis (3/9).

Lembah Yadul ‘Ulya.

Ia mengibaratkan, pendidikan seperti pohon, terdiri dari akar kokoh, serta ranting dan daun yang lentur. Mencapai pendidikan yang kokoh, bisa melalui tiga prinsip atau nilai-nilai abadi yaitu ta’lim, tarbiyah dan ta’dib.

Ta’lim mengirimkan pendidikan, tarbiyah mematangkan pribadi menjadi manusia utuh, dan ta’dib membekali keterampilan dan sikap hidup. Fathul merasa, jika ketiganya dicampurkan secara baik, maka pendidikan akan bagus kualitasnya.

Dahulu, dan Sekarang.

Selain itu, Fathul menekankan pentingnya kemampuan beradaptasi dengan setiap perubahan lingkungan. Untuk berubah, ia mengingatkan, kita harus rela melupakan kompetensi yang telah kadaluwarsa dan tidak relevan.

“Sehingga, kita dapat belajar ulang yang lebih baru. Lembaga pendidikan Islam haruslah modern, begitu pula dengan konten-kontennya,” ujar Fathul.

Direktur Pancasarjana, Institut Perguruan Tinggi Ilmu Alquran, Prof. Darwis Hude, membagi tiga sumber daya yaitu manusia, alam dan buatan teknologi. Di QS Al Jatsiyah ayat 13, ada kata taskhir bermakna menundukkan atau mengatasi alam, artinya sebelum manusia dan teknologi, alam jadi sumber daya pertama.

Perubahan Berkemajuan.

SDA membutuhkan pengelola yang diberi nama manusia, dijelaskan dalam QS Al-Baqarah ayat 29-30. Demi memaksimalkan SDA yang ada, manusia menciptakan teknologi buatan, telah dijelaskan pula dalam QS Al Bawarah ayat 184-185.

“Kalau tidak ada sumber buatan seperti teknologi, maka kemanfaatan sumber lainnya sangat terbatas,” kata Darwis.

Darwis turut menggaris bawahi pentingnya teknologi dalam dunia pendidikan. Ketika manusia lahir ke bumi, ia tidak mempunyai pengetahuan yang dijelaskan dalam QS An Nahl ayat 78. Tapi, memiliki potensi seperti fitrah dan bakat.

Dalam perjalanan hidup, manusia mendapat instrumen atau modalitas hidup yang terus bertransformasi menyesuaikan lingkungan, termasuk pendidikan. Berbagai generasi demi generasi yang ada jelas memiliki ciri yang berbeda-beda.

Ilustrasi.

“Sekarang pada generasi millenial, mereka mahir menggunakan gawai. Jika ada yang hidup pada generasi ini tidak mengikutinya, maka akan terjadi kesenjangan pendidikan,” ujar Darwis.

Untuk itu, ia berpesan agar bisa menggunakan teknologi secara bijak karena segala sesuatu yang dilakukan akan dipertanggung jawabkan. Bahkan, hal itu sudah ditegaskan dalam QS Al Isra ayat 36.

“Guru mengajarlah dengan visi misi rabbaniyah, ikhlas, sabar, ilmu yang benar, dan selalu menambah ilmu keterampilan, termasuk ICT. Pengaruhi murid, pahami psikologi murid, antisipasi perkembangan dan tren masa depan,” kata Darwis, menutup.

*******

Republika.co.id/Fotografer : Abah John.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here