You are here
Pendidikan Anak Usia Dini ARTIKEL 

Pendidikan Anak Usia Dini

Yudhistira ANM Massardi. Sastrawan

Jakarta, Garut News ( Ahad, 17/11 ).

Ilustrasi, Anak Jalanan Garut yang Terlantar. (Foto: John).
Ilustrasi, Anak Jalanan Garut yang Terlantar. (Foto: John).

Berbagai penelitian membuktikan: pembangunan karak­ter dan kecerdasan akan optimal jika dilakukan sejak anak usia dini.

Itu harga mati.

Bahwa akhlak sebagian besar bangsa kita kini kian merosot-korupsi para pejabat hingga perilaku seks bebas para remaja-adalah fakta tak terbantahkan.

Di sisi lain, berbagai tes internasional (OECD-PISA, TIMMS, PIRLS) mengenai kemampuan kognitif (matematika, sains, membaca), dalam 20 tahun terakhir, menempatkan para pelajar Indonesia di peringkat ke-10 terbawah dari 65 negara.

Fakta lain menunjukkan, dalam sepuluh tahun terakhir, setiap tahun sekitar 20 juta, dari sekitar 27 juta anak, tidak bisa mengenyam pendidikan anak usia dini (PAUD).

Penyebab utamanya: kemiskinan orang tua dan minimnya sarana.

Padahal, usia 0-7 tahun adalah “usia emas” dan periode 0-3 tahun adalah masa yang sangat kritis dan sungguh-sungguh menentukan masa depan anak.

Kemerosotan akhlak dan akal itu, harus dikatakan, merupakan hasil dari akumulasi pengabaian yang panjang dan kegagalan sistem, penyelenggaraan, serta pengelolaan lembaga pendidikan, terutama PAUD.

Baik pemerintah maupun masyarakat selama ini disesatkan oleh pemahaman keliru bahwa PAUD adalah urusan main-main saja yang bisa diserahkan kepada para pengasuh anak yang tak berpengetahuan, atau pada taman kanak-kanak yang para gurunya tidak dibekali dengan keluasan dan kelengkapan ilmu, misalnya ilmu tentang tahap perkembangan anak.

Akibatnya, anak-anak kita bukannya menjadi generasi baru yang cinta belajar sepanjang hayat dan siap menghadapi masa depan, melainkan menjadi anak-anak yang salah asuh, tertekan sejak usia dini karena banyaknya hafalan, pekerjaan rumah, harus bisa baca-tulis-hitung, ikut lomba-ini-itu, dan les berbagai macam hal untuk memenuhi ambisi orang tuanya.

Hasilnya adalah: anak-anak yang salah didik di TK dan mengalami trauma belajar sepanjang hayat!

Apakah kita serius mau membangun dan menjadi bangsa yang lebih baik, mandiri, dan berakhlak mulia?

Presiden Amerika Serikat Barack Obama adalah contoh pemimpin yang sadar bahwa untuk mengembalikan dominasi dan kualitas sumber daya manusia Amerika harus dimulai dengan perbaikan fondasinya: peningkatan kualitas PAUD.

Dengan langkah nyata dan segera: peningkatan anggaran, kualitas guru, perbaikan metode pengajaran, dan sarana-prasarana.

Konkretnya, investasi besar bagi peningkatan kualitas PAUD adalah hal mutlak dan darurat.

Membangun generasi baru dengan ilmu dan cara yang benar akan mampu menyelesaikan beberapa persoalan mendasar karena anak-anak yang terdidik secara ­paripurna di usia dini akan menjadi pribadi yang mandiri, kreatif, siap beradaptasi, dan siap terus belajar.

Itu adalah kemampuan-kemampuan fundamental yang bisa mendorong mereka membebaskan diri dari kemiskinan, kebodohan, dan kejahatan.

Lebih baik kita membangun banyak sekolah TK ketimbang nantinya harus membangun banyak penjara!

***** Sumber : Kolom/Artikel Tempo.co

Related posts

Leave a Comment