Penasun Resiko Tertinggi Penularan HIV/AIDS di Garut

0
37 views

“Setiap Bulan Ditemukan 2 – 3 Kasus Baru HIV/AIDS di Garut,  Tersebar Pada 26 Kecamatan, Pemkab Ogah Produk Perda Penanggulangan”

Garut News ( Kamis, 18/06 – 2015 ).

Ilustrasi. (Foto: John Doddy Hidayat).
Ilustrasi. (Foto: John Doddy Hidayat).

Penasun atawa penyalahgunaan Narkoba menggunakan jarum suntik, selama ini menjadi faktor resiko tertinggi penularan HIV/AIDS di Kabupaten Garut, Jawa Barat.

Pengelola Program “Komisi Penanggulangan AIDS” (KPA) kabupaten setempat, Gunturyana Hidayat, SE katakan dari 418 penderita HIV/AIDS di daerahnya, terdapat 184 penderita akibat penasun/IDU’s, atau faktor resiko tertinggi penularannya.

Sebanyak 184 didera HIV/AIDS tersebut, terdiri 136 penderita AIDS, serta 48 penderita HIV.

Kepada Garut News, Kamis (18/06-2015), Gunturyana Hidayat juga mengemukakan penanggulangan HIV/AIDS salah satunya mencegah, dan melindungi masyarakat atawa komunitas beresiko tinggi tertular jenis penyakit itu.

Salah satu upaya pencegahan paling penting, adanya kebijakan/Regulasi, lantaran adanya kebijakan ini diharapkan terdapat peraturan-peraturan dan kebijakan Penanggulangan HIV/AIDS sebagai dasar hukum pelaksanaan kegiatan-kegiatan Penanggulangan, dilaksanakan masyarakat, LSM dan Intansi Pemerintah.

Namun setelah beberapa tahun, LSM Peduli Aids menyeruakan atau mengusulkan pembuatan Perda Penanggulangan HIV/AIDS dan IMS kepada Pemerintah, tetap tak terealisasi dengan alasan Pemkab Garut, tak adanya anggaran pembuatan Perda Penanggulangan HIV/AIDS dan IMS.

Sedangkan kegiatan-kegiatan Penanggu;angan HIV/AIDS dan IMS hingga kini masih mengandalkan dana dari pihak Donor asing, Seperti Global Fund dan KPA Nasional.

Sedangkan  bantuan Juni 2015 ini berakhir, dukungan Program Penanggulangan HIV/AIDS mulai Juli 2012 s/d Juni 2015 didukuing oleh Pihak Luar (Global Fund).

Padahal angka kasus Penularan HIV/AIDS saat ini, setiap bulan ditemukan paling sedikit 2-3  kasus terkena HIV/AIDS.   Sehingga sampai  Mei  2015,

Kasus Penyebaran HIV/AIDS yang tercatat:

No

Jenis Kasus

Jumlah

1

HIV

114

2

AIDS

304

Jumlah

418

Yang sudah Terapi ARV

205

Meninggal karena kasus tsb

161

Kemudian data Kumulatif Kasus HIV/AIDS sejak  2007 hingga  Mei 2015 di Kabupaten Garut

No

Tahun

Jumlah

Kasus Baru

1

2007

21

2

2008

46

25

3

2009

82

36

4

2010

130

48

5

2011

152

22

6

2012

201

49

7

2013

350

149

8

2014

403

53

9

s/d Mei  2015

418

15

Hiv/AIDS menurut Jenis Kelamin

No

Jenis Kelamin

AIDS

HIV

TOTAL

1

Laki-laki

197

77

274

2

Perempuan

107

37

144

Jumlah

304

114

418

Menurut Usia

No

Kelompok Umur

AIDS

HIV

TOTAL

1

< 1

1

2

3

2

1-5

10

5

15

3

6-9

3

1

4

4

10-24

17

6

23

6

25-39

241

89

330

7

40-49

29

11

40

8

50-59

3

0

3

9

>60

0

0

0

10

Tidak diketahui

0

0

0

Jumlah

304

114

418

HIV/AIDS menurut Faktor Resiko

No Faktor Resiko

AIDS

HIV

TOTAL

1

LSL (LAKI SEX LAKI)

8

12

20

2

WARIA

10

3

13

3

WPS (WANITA PEKERJA SEX)

2

0

2

4

IDU’s / PENASUN

136

48

184

5

HRM (PRIA RESTI)

38

12

50

6

PASANGAN RESTI :
PEREMPUAN

91

32

123

LAKI-LAKI

4

2

6

7

PERINATAL/ANAK

10

5

15

8

TATOO

0

0

0

9

TAK TERIDENTIFIKASI

5

0

5

Jumlah

304

114

418

HIV/AIDS menurut Sebaran Wilayah

No

Wilayah Kecamatan

AIDS

HIV

TOTAL

1

GARUT KOTA

111

31

142

2

TAROGONG KIDUL

62

26

88

3

TAROGONG KALER

27

14

41

4

KARANGPAWITAN

10

8

18

5

KADUNGORA

14

2

16

6

CILAWU

13

5

18

7

WANARAJA

7

8

15

8

CIBATU

8

5

13

9

BAYONGBONG

11

0

11

10

LELES

8

1

9

11

CIKAJANG

6

3

9

12

BANYURESMI

4

3

7

13

SAMARANG

4

2

6

14

MALANGBONG

4

0

4

15

LIMBANGAN

3

0

3

16

PAMEUNGPEUK

2

1

3

17

LEUWIGOONG

2

1

3

18

CISOMPET

2

0

2

19

PAKENJENG

2

0

2

20

CIBALONG

1

1

2

21

PANGATIKAN

1

0

1

22

CISURUPAN

1

0

1

23

BUNGBULANG

1

0

1

24

SUCINARAJA

0

1

1

25

MEKARMUKTI

0

1

1

26

CIBIUK

0

1

1

Jumlah

304

114

418

 

Berdasar Dari tersebut, temuan kasus HIV/AIDS di Garut setiap bulannya berkisar 2 -3 kasus, juga dari 42 Kecamatan, kini 26 wilayah kecamatan terpapar penyebaran HIV/AIDS.  Kasus penyebaran di Garut Selatan (Daerah Perbatasan dengan Cianjur) ditemukan PKM setempat.

Maka dengan segala keterbatasan di KPA Kabupaten Garut, terus menggerakan dan mendorong elemen-elemen masyarakat, LSM, masyarakat umum serta Intansi Pemerintah untuk melakukan kegiatan  penanggulangan  HIV/AIDS di Kabupaten Garut .

Dijadikannya Kabupaten Garut menjadi tujuan Wisata dari Bandung dan Ibukaota lainnya, tingkat mobilitas penduduk semakin tinggi.  Terbukanya daerah Garut ini menimbulkan gejolak-gejolak sosial dan ekonomi berdampak meningkatnya angka kasus kejahatan lingkungan, penyalahgunaan narkoba, sek bebas di kalangan masyarakat.

Yang pada akhirnya Kasus HIV/AIDS semakin meningkat dan terus meningkat, apabila masyarakat dan Pemkab diam saja tak ada kepedulian  dari sekarang, kami memprediksi 2020 penyebaran Kasus HIV/AIDS di Kabupaten Garut mencapai titik yang menghawatirkan dengan angka penyebaran 30 % dari Jumlah penduduk terkena HIV/AIDS.

Adanya dukungan dari Global Fund dan KPA Nasional, menciptakan kegiatan-kegiatan inofatif meningkatkan pengetahuan Informasi dasar HIV/AIDS pada kader-kader di masyarakat serta melakukan intervensi program pada komunitas beresiko tinggi tertular HIV/AIDS, seperti Komunitas pemakai Narkoba Suntik (Penasun), Komunitas Gay dan Waria serta pada Komunitas Pekerja Sek.

Kegiatan Penanggulangan HIV/AIDS didukung Funding dari Luar Negeri yaitu Global Fund (GF) dengan program Pencegahan Melalui Tranmisi Seksual atau PMTS dilaksanakan komprehensif dengan melibatkan empat komponen utama,  terdiri:

1. Peningkatan peran positif pemangku kepentingan (PEMDA, Mucikari/Germo, RT/RW setempat)

2. Komunikasi dan Perubahan perilaku (Masyarakat beresiko tinggi tertular HIV)

3. Manajemen pasokan distribusi Logistik (Media KIE, Alat Pengaman/Kondom)

4. Penatalaksanaan Layanan Kesehatan (IMS dan HIV)

Dalam skema Program PMTS  dengan dukungan dari Global Fund (GF) ada 3 SSR yang berperan aktif sesuai tugas pokoknya (tupoksi) yaitu SSR KPA, Dinas Kesehatan dan LSM.  Dengan 3 SSR ini diharapkan bisa saling berkoordinasi dalam hal Penanggulangan HIV/AIDS di Kabupaten Garut.

Pencegahan HIV/AIDS tidak lagi melakukan intervensi dalam tataran individu ataupun komunitas, melainkan ke tataran struktural, yakni intervensi terhadap lingkungan atau tatanan fisik, sosial kemasyarakatan, ekonomi, politik budaya dan peraturan/kebijakan untuk mendukung upaya penanggulangan HIV/AIDS.

Permasalahan / Hambatan dalam Pelaksanaan KEgiatan Penanggulangan HIV/AIDS :

  1. Keterbatasan Anggaran untuk Kegiatan Penanggulanagan HIV/AIDS, Dukungan dari Global Fund (GF) hanya bersifat stimulant saja dengan kondisi Berakhir Juni 2015  sudah selesai
  2. Dukungan dari APBD Garut untuk Kegiatan Penanggulangan AIDS belum ada
  3. Dukungan Dana/Anggaran hanya terfokus  bantuan dari luar saja, tidak ada langkah inofasi dan nyata dari stake holder Pemerintah Garut
  4. Dengan kultur Budaya Masyarakat GArut, menjadi hambatan dan membutuhkan biaya yang cukup besar untuk mensosialisasikan Informasui Dasar HIV/AIDS dan IMS kepada masyarakat umum
  5. Letak geografis Pegunungan sangat menyulitkan bagi pelaksanaan program
  6. Belum adanya  hubungan yang terintergritas dan harmonis diantara Intansi Pemerintah dan pelaksana kegiatan Penanggulangan dan Penularan HIV/AIDS  serta masyarkat pada umumnya
  7. Belum adanya Kebijakan-kebijakan peraturan layanan HIV/AIDS dan IMS untuk masyarakat sesuai dengan muatan local setempat.
  8. Masih adanya pemikiran bahwa masalah HIV/AIDS adalah masalah DInas KEsehatan saja, pada kenyataannya permasalahan HIV/AIDS membutuhkan penanganan Lintas Sektor dengan pelibatan masyarakat.
  9. Masih banyaknya Intansi-intasni Pemerintah Daerah, Kecamatan dan Desa belum paham akan Informasi Dasar HIV/AIDS, ini menjadikan Garut sekarang menempati urutan ke 10 di Provinsi Jawa Barat dalam Penularan HIV/AIDS. Demikian Gunturyana Hidayat.

********

Jdh.