Penambahan Satwa Endemik Cikembulan Perlukan ‘Studbook’ Orangutan

0
28 views
"Tak Gendong Kemana-mana"
“Istri Muda, dan Istri Tua’, Damai Berdampingan Mengasuh Anak Kandungnya Masing-masing.

“Berhasil Kembangbiakan Orangutan dan Singa Afrika”

Garut News ( Rabu, 18/12 – 2019 ).

Bertambahnya koleksi satwa endemik Orangutan (Pongo pygmaeus)  di Taman Satwa Cikembulan Kadungora Garut, Jawa Barat, menjadikan kian mendesak diperlukannya ‘Studbook’ spesies yang dilindungi Undang-Undang RI tersebut.

Diperlukannya buku data informasi status, kondisi, sejarah hidup termasuk silsilah Pongo pygmaeus ini, juga diakui Kepala Seksi Konservasi Wilayah V Garut pada ‘Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam’ (BBKSDA) Jabar, Dodi Arisandi, SH, M.Si.

Dodi Arisandi, SH, M.Si Bersama Rudy Arifin, SE juga drh. M. Andika Nur Sampaikan Keterangan Pers.

“Saya sampaikan mengenai pentingnya hal itu kepada unsur Pimpinan BBKSDA Jabar,” ungkapnya ketika didesak pertanyaan Garut News di Taman Satwa satu-satunya ada pada provinsinya tersebut.

Dia juga antara lain mengemukakan apresiasi positip terhadap lembaga konservasi Cikembulan, yang selama ini di antaranya berhasil mengembangbiakan Orangutan, dan Singa Afrika.

Menjadi Berpopulasi 448 dari 109 Spesies.

Manager Taman Satwa itu Rudy Arifin, SE katakan terdapatnya kelahiran bayi Orangutan pada Sabtu (09/11-2019) pagi, serta bertambahnya empat ekor anak Singa Afrika yang dilahirkan pada 3 dan 4 Oktober 2019. Maka populasi koleksi satwanya menjadi 448 dari 109 spesies.

“Termasuk tujuh Orangutan, dan delapan Singa Afrika yang semula hanya sepasang,” bebernya.

Mengasuh Empat Bayi Singa Afrika.

Bahkan hari ini pun, kembali mendapatkan kepercayaan memelihara sekaligus merawat seekor Burung Cenderawasih (Paradisaea minor).

“Penyerahan Sukarela”

Dodi Arisandi kepada Garut News katakan pula, menerima penyerahan sukarela seekor Paradisaea minor dari pemuka masyarakat juga Pinpinan Ponpes Assa’adah Balubur Limbangan, KH Rd. Amin Muhyidin.

Paradisaea minor.

Sehingga diharapkan bisa memotivasi warga lainnya di kabupaten ini, agar lebih meningkatkan kesadaran terhadap kelestarian satwa yang dilindungi Undang-Undang RI, supaya dapat hidup pada habitatnya.

Selama ini pun  BKSDA bersama organisasi konservasi masif menyelenggarakan sosialisasi antara lain melalui media sosial. Di antaranya detail menjelaskan sangat pentingnya burung Cenderawasih dalam ekosistem alam.

Meika Wildan. Dengan Senyum Tipis Monalisanya, Memotret Orangutan.

Sehingga dipastikan pula secara bertahap banyak yang menyadari terjadinya penurunan drastis populasi burung surga tersebut, sehingga mulai banyak pemiliknya melaporkan temuan kemudian menyerahkannya kepada BKSDA secara sukarela.

Berdasar investigasi Garut News, selain Papua, Papua New Guinea, dan Zairah Australia Timur. ‘Burung Kuning’ ini pun kerap ditemukan pada gugusan Kepulauan Maluku termasuk Seram serta Halmahera.

Luis, Asal Spanyol Peroleh Detail Informasi Mengenai Taman Satwa Cikembulan.

Mereka hidup berdampingan dengan jenis satwa lainnya pada wilayah geografi hewan Australasia, yang kebanyakan berhubungan dengan spesies Australia.

Menjadikan Alfred Russel Wallace menyadari perbedaan yang jelas pada saat dia berkunjung ke Hindia Timur abad ke-19. Dengan pemisahan garisnya ini melalui Kepulauan Melayu, antara Borneo dan Sulawesi, dan antara Bali (di barat) dan Lombok (di timur).

Dua Anak Singa yang Sebelumnya Lahir di Taman Satwa Cikembulan.

Garis itu juga tercatat Antonio Pigafetta tentang perbedaan biologis antara Filipina dan Kepulauan Maluku, tercatat dalam perjalanan Ferdinand Magellan pada 1521. Garis ini lalu diperbaiki dan digeser ke Timur (daratan pulau Sulawesi) oleh Weber.

Sehingga batas penyebaran flora dan fauna Asia kemudian ditentukan berbeda-beda, berdasar tipe flora dan fauna. Selanjutnya dinamakan “Wallace-Weber”.

Singa Jantan Afrika.

Jauh sebelum Indonesia merdeka, Burung Cenderawasih kerap dijadikan alat barter dengan ragam jenis produk keramik asli dari daratan China. Bahkan sempat dijadikan mas kawin antara blain oleh penduduk Pegunungan Tengah Papua.

Suka Besar Arfak penghuni jazirah pegunungan tengah tersebut, antara lain pula terdiri Klan Mandacan, Woyle, dan Manikion.

“Murangkalih” Singa Afrika.

Irian kini Papua, juga berasal dari kosa kata Arab ‘Iryan’ atau gimbal (keriting), yang diplesetkan oleh Bung Karno sebagai akronim “Ini Republik Anti Netherland”.

Maluku juga merupakan kosa kata dari Bahasa Arab (Malik) merupakan kepulauan Raja (Sultan). Kesultanan Ternate, Tidore, Raja Ampat dan lain-lain termasuk Kepulauan Bintuni (anak perempuan) kini di Papua Barat.

Membersihkan Kandang, Diawasi Ketat Singa Jantan Afrika.

Alfred Russel Wallace pun, selama menjalani penelitiannya banyak berdomisili di Kota Ternate berdekatan dengan pelabuhan laut.

*******

Esay/Fotografer : John Doddy Hidayat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here