Pemkab Garut Tak Peduli PBM Pendidikan SLB

0
164 views
Iyus Rusdiana, S.Pd.

“Selama Ini Rapat Menutup Mata Terhadap Warganya di SLB”

Garut News ( Selasa, 06/03 – 2018 ).

Iyus Rusdiana, S.Pd.

Pemkab Garut termasuk jajaran Dinas Pendidikan kabupaten setempat, dinilai tak memiliki kepedulian pada penyelenggaraan “Proses Belajar Mengajar” (PBM) ‘Sekolah Luar Biasa’ (SLB), terbukti tak pernah memberikan bantuan apapun.

Sehingga ragam pemenuhan kebutuhan penunjang sarana – prasarananya hanya mengandalkan pasokan bantuan dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat, meski sebagian besar peserta didik di SLB itu, penduduknya Bupati dan Wakil Bupati Garut.

Sonjaya, M.Pd.

Harapan besar bisa mendapatkan bantuan dari Pemkab Garut tersebut, dikemukakan sejumlah pengelola SLB Swasta termasuk dari wilayah Kecamatan Pameungpeuk, dan Cibatu.

Kepada Garut News di sela pelaksanaan Seminar Gerakan Literasi SLB Jabar 2018 di Gedung Pendopo Kabupaten, Selasa (06/03-2018), mereka juga bahkan mengemukakan UPTD Pendidikan Kecamatan pun sama sekali tak peduli keberadaan SLB.

Kepala SLB Nurul Insani Pameungpeuk, Iyus Rusdiana, S.Pd katakan, sejak delapan tahun terakhir menjadi Kepala SLB yang kini memiliki 46 murid SD hingga SMA, sama sekali tak pernah mendapatkan bantuan apapun dari Pemkab Garut.

Lancar Berkomunikasi.

Padahal selama ini mendidik murid yang berdatangan dari wilayah Kecamatan Cisompet, Pameungpeuk, Cikelet, dan dari Kecamatan Cibalong. Kian mendesak segera bisa mendapatkan bantuan sarana – prasarana memadai dalam penyelenggaraan PBM.

Termasuk guna menyukseskan Gerakan Literasi SLB, dipastikan sangat memerlukan daya dukung yang memadai pula, atau tak bisa hanya sebatas wacana untuk “membangun hati meningkatkan karya dan seni menuju generasi emas anak berkebutuhan khusus,’ katanya.

Ungkapan dan harapan senada dikemukakan pula pengajar SLB Cibatu, Sonjaya, M.Pd yang kini mengelola pendidikan 60 murid   pada Yayasan Galeuh Pakuwan, mulai dirintis pada 1990 kemudian beroperasional sejak 2003.

Seminar.

Mewujudkan lulusan SLB yang mandiri, dan mampu bersaing pascasekolah. Juga dipastikan memerlukan dukungan ragam inprastruktur penunjangnya sejak di bangku sekolah, sehingga agar tak hanya setelah lulus kemudian menikah, imbuhnya.

Seminar diikuti sekitar 81 peserta perwakilan dari 27 kabupaten/kota se Provinsi Jawa Barat, yang diagendakan pada Rabu (07/03-2018) berlangsung pameran SLB.

Dalam pada itu, pembangunan SLB Disabilitas “Dharma Karyadhika – 16” di Kampung Babakan Baru RT.04/09 Kelurahan Jayawaras Kecamatan Tarogong Kidul, di atas tanah hibah dari Pemkab setempat, seluas sekitar 4.200 m2 (300 tumbak) dengan luas bangunan 860 m2 tersebut. Bisa diwujudkan dari sumbangsih maupun kepedulian Keluarga Besar Ditjen Pemasyarakatan Kemenkumham. 

“Kian Memerlukan Kepedulian Pemkab Garut”

Kian Memerlukan Kepedulian Pemkab Garut.

*********** Profil inspiratif ini, memotret dinamika suka – duka “Pasangan Suami Istri” (Pasutri) yang sejak 34 tahun terakhir hingga kini masih tetap setia mengasuh anak beserta remaja penyandang “Down Syndrome” (DS) pada Panti Guna Yayasan Karya Bhakti di jalan RSU N0. 15 Garut, Jawa Barat.

Hanya Berdua, Pasutri Ini Melanjutkan Tekad Pengabdian Mengelola Panti.

********** Pasutri tersebut, Oom Sambas kelahiran Garut 1948 beserta istrinya Ny. Noyani kelahiran Pagaden Subang 1960.

Sejak 26 Pebruari 1985 berdua bersama bahu-membahu mengabdikan diri pada panti yang dihuni anak beserta remaja dari kalangan berekonomi lemah.

Mereka antara lain berdatangan dari seputar Garut Kota, Cikajang, Bandung, Singajaya, Bungbulang, serta Tasikmalaya, yang para orang tuanya tak mampu membina di rumah sehingga menitipkan anak-anaknya di panti, ungkap Oom Sambas dan Noyani kepada Garut News.

Asrama Tuna Netra yang porak-poranda Digerus Puncak Amuk Sungai Cimanuk, 20 September 2016 Silam.

********** Namun dengan himpitan ekonomi para orangtua yang umumnya sebagai pekerja serabutan, hanya ada beberapa di antaranya setiap Lebaran Idul Fitri bisa menjenguk anak di panti.

Sedangkan selebihnya sebatas menanyakan kondisi anak melalui pesan singkat atau SMS.

Oom Sambas pun katakan, pernah mendapatkan honorarium pengelola panti Rp25 ribu setiap bulan selama tahun 2005 hingga 2011 silam.

Tetapi mulai 2011 sampai sekarang tak lagi mendapatkannya.

Dikemukakan, sumber dana pengelolaan dari Kemensos RI yang kerap datangnya terlambat.

Ny. Noyani Bercocok Tanam di Belakang Panti, Guna Membantu Kebutuhan Pokok, dan Melatih Keterampilan Anak Asuh.

********** Sehingga memenuhi desakan kebutuhan pokok sehari-hari terpaksa berutang ke warung langganan mencapai berkisar Rp1,8 juta hingga Rp2,75 juta setiap bulannya, kemudian dibayar setelah dana cair.

Menyusul kebutuhan minimal makan minum setiap bulan rata-rata mencapai Rp3,3 juta.

Guna memenuhi keperluan sembilan penyandang DS.

Termasuk tujuh penyandang tuna netra berusia 15 – 18 tahun, satu dia antaranya perempuan yang kini berada di  “Sekolah Luar Biasa” (SLB) Disabilitas “Dharma Karyadhika – 16”  Jayawaras Gordah.

Mulai Terampil, dan Rajin Mencuci baju Sendiri.

*********** Sembilan penghuni Panti Guna Yayasan Karya Bhakti PLB (Pendidikan Luar Biasa) penyandang DS ini, berusia 9 – 18 tahun terdapat tiga di antaranya perempuan.

Mengasuh penyandang DS bukan perkara mudah,  selain mengurus mandi, mengenakan pakaian, dan membersihkan kotoran, juga kerap melakukan pencarian lantaran jika sedikit lengah mengawasi bisa menghilang pergi tanpa tujuan yang jelas.

Mereka juga korban terdampak banjir bandang Sungai Cimanuk, yang berhasil diselamatkan seluruhnya kemudian selama beberapa pekan sempat dievakuasi pada pengungsian Makorem.

Namun banjir pun mengakibatkan sebagian bangunan asrama tuna netra hancur tergerus luapan puncak amuk Sungai Cimanuk, yang hingga kini masih menyisakan trauma berkepanjangan sehingga mereka kini menempati asrama SLB Jayawaras.

Mulai Terampil Memanfaatkan Jamban.

********* Selain itu, dua mesin jahit yang raib terbawa banjir juga hingga kini mendesak bisa segera mendapatkan bantuan dari mana pun, guna memenuhi kebutuhan keterampilan penghuni panti sekaligus bermanfaat untuk menjahit baju anak-anak yang robek, imbuh Ny. Noyani.

Para penyandang DS pun sangat memerlukan sarana hiburan berupa tape dek ber CD, serta “kadeudeuh” dari Pemkab setempat untuk menunjang kelancaraan pengelolaan panti tersebut.

Oom Sambas beserta istrinya dikaruniai tiga anak, dan satu cucu. Namun dua anak di antaranya telah meninggal dunia.

Sehingga Pasutri itu, hanya berdua melanjutkan tekad pengabdian di Panti Guna Yayasan Karya Bhakti PLB, sambil bercocok tanam di belakang asrama untuk membantu memenuhi kebutuhan pokok pangan, sekaligus sebagai wahana pelatihan seluruh anak asuhnya.

********

Esay/Fotografer : John Doddy Hidayat.