Pemilu tanpa Syiah

Garut News ( Rabu, 02/04 – 2014 ).

Ilustrasi. Lapuk ( Foto : John Doddy Hidayat).
Ilustrasi. Lapuk ( Foto : John Doddy Hidayat).

Seharusnya ada penjelasan masuk akal, mengapa pengungsi Syiah diabaikan.

Pejabat, politikus, dan juru kampanye belakangan ini sibuk blusukan justru menghindari para pengungsi Syiah asal Sampang di Sidoarjo, Jawa Timur.

Tentu saja, kami tak berharap para pejabat dan politikus itu berpikiran negatif: kunjungan atawa simpati pada kelompok ini bisa kontraproduktif terhadap kampanye mereka lancarkan.

Sentimen anti-Syiah memang meningkat akhir-akhir ini.

Namun para pejabat, dan politikus itu semestinya mafhum para pengungsi itu justru orang-orang hak asasinya terampas: mereka terpaksa angkat kaki dari kampung halaman sendiri lantaran keyakinannya.

Dan selayaknya simpati dilayangkan pada mereka.

Juni tahun lalu, pada sebuah konflik antar-sekte berlarut-larut, mereka diusir dari kampungnya di Sampang, Madura.

Rumah-rumah mereka dibakar, lalu terpaksa mengungsi hingga akhirnya mendiami rumah susun Jemondo Puspa Agro, di Sidoarjo itu.

Mungkin tak ada membayangkan, ini semua awal dari proses marginalisasi, kemudian kian nyata mereka hadapi.

Semua seolah ikut ambil bagian pada proses peminggiran itu: sebagian masyarakat tingkat toleransinya makin tipis terhadap sekte minoritas ini, pemerintah dengan alasan keamanan terpaksa mengulur-ulur janji memulangkan mereka ke kampung halamannya, dan para politikus tengah sibuk menjajakan janji-janjinya.

Geliat pemilihan umum tak pernah mampir di kompleks rumah susun pengungsi Syiah.

Bukan cuma ingar-bingar kampanye, dan pajangan poster-poster calon legislator absen dari lokasi para pengungsi itu, utusan Komisi Pemilihan Umum setempat pun belum pernah muncul menyosialisasi pemilu.

Bahkan mereka tak mendata ulang para penghuni rumah susun memiliki hak pilih.

Dalam memerlakukan kaum minoritas, sebagai negara demokrasi, Indonesia sedang bergerak ke arah tak terduga.

Reformasi memang membawa napas lega ketika kebiasaan lama suka menimpakan segala kesalahan pada kaum minoritas Tionghoa tak lagi mendapat tempat di negeri ini.

Persekusi terhadap kelompok etnis satu ini benar-benar terasa berakhir tatkala Ahok kemudian berhasil terpilih sebagai Wakil Gubernur Jakarta 2013.

Ternyata banyak orang tertipu.

Berakhirnya persekusi satu ini kemudian digantikan persekusi selanjutnya: terhadap penganut sekte minoritas di Nusantara.

Syiah dan Ahmadiyah, juga sebuah sekte Protestan, masing-masing mendapat perlakuan tak semestinya beberapa tahun belakangan ini.

Seratus lebih warga Syiah asal Sampang terancam tak dapat menggunakan hak pilihnya.

Apakah Syiah akan menjadi kambing hitam manakala kericuhan datang melanda?

Yang terang, saatnya berhati-hati, ketika ada kelompok selalu bisa dipojokkan, kita kehilangan kesempatan becermin, dan mengambil pelajaran dari kesalahan.

******

Opini/Tempo.co

Related posts