Pemerintahan Desa Bisa Antisipasi Aktivitas Tengkulak/Ijon GKG

0
40 views

Oleh/Fotografer : John Doddy Hidayat.

Garut News ( Kamis, 12/03 – 2015 ).

Otang Sudewa.
Otang Sudewa.

Pemerintahan desa pada 42 wilayah kecamatan di Kabupaten Garut, Jawa Barat, selama ini sebenarnya bisa mengantisipasi praktek ijon atawa aktivitas para tengkulak “Gabah Kering Giling” (GKG) produktivitas kalangan petani.

Apabila seluruh perangkat pada masing-masing pemerintahan desa memiliki komitmen, berupa penyisihan anggaran dimiliki desa dialokasikan pada pembelian produk GKG para petani.

Kemudian disimpan di lumbung pangan desa, yang didirikan pada tanah carik desa melalui pengelolaan “Badan Usaha Milik Desa”.

Buruh Tani Garut Kerap Alih Profesi Sebagai Pedagang.
Buruh Tani Garut Kerap Alih Profesi Sebagai Pedagang.

Sehingga dari pengelolaan lumbung pangan desa tersebut, bisa diperjualbelikan pada masyarakat termasuk masyarakat petani, terutama pada saat kekeringan atawa jika mengalami “paceklik”.

Bahkan desa maupun kelurahan, juga bisa mengupayakan rekomendasi dari Dewan Ketahanan Pangan Kabupaten Garut, mewujudkan pencetakan sawah baru pada lahan-lahan gambut maupun yang selama ini terlantar.

Melalui Badan Musyawarah Desa juga kelurahan, sepanjang memiliki komitmen yang jelas dipastikan bisa memenuhi akses pemenuhan kebutuhan pangan masyarakat pada wilayahnya masing-masing.

Berupa ketersediaan kebutuhan pangan murah, mudah terjangkau, serta aman dikonsumsi.

Bergelut Dengan Lumpur.
Bergelut Dengan Lumpur.

Sekretaris Badan Ketahanan Pangan kabupaten setempat, Otang Sudewa katakan, idealnya desa bisa meningkatkan keswadayaan pangan berbasiskan potensi pertanian pangan di desanya.

Tak seperti selama ini, kalangan petani produsen pun kerap hanya mengonsumsi beras berkualitas medium dari luar kabupaten.

Lantaran beras produktivitasnya sendiri banyak dijual ke luar kabupaten, sebab selama ini pula terjebak praktek ijon atawa tengkulak.

Karena itu, kata dia, pemerintahan desa seyogianya memiliki kepedulian bisa membeli produk pangan dari masyarakatnya sendiri.

Tentunya dengan harga memadai, agar kalangan petani produsen termasuk buruh tani, bisa memiliki daya beli yang memadai pula, ungkap Otang Sudewa.

Jangan justru setiap tahun kabupaten Garut bisa surplus memproduksi beras, tetapi devisit mengonsumsi beras berkualitas produktivitasnya sendiri akibat lemahnya daya beli.

*********

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here