Pemerasan terhadap TKI

Garut News ( Senin, 04/08 – 2014 ).

Ilustrasi. Potensi Kegigihan Perempuan. (Foto: John Doddy Hidayat).
Ilustrasi. Potensi Kegigihan Perempuan. (Foto: John Doddy Hidayat).

Memberantas kejahatan pemerasan terhadap para “tenaga kerja Indonesia” (TKI) tak cukup dengan cara persuasif.

Pemerintah kudu menindak tegas petugas nakal dengan menyeretnya ke pengadilan agar mendapat hukuman setimpal.

Kejahatan di terminal kepulangan Bandara Soekarno-Hatta itu, terungkap lewat inspeksi mendadak tim gabungan dari Komisi Pemberantasan Korupsi, kepolisian, Unit Kerja Presiden Bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan, serta Angkasa Pura II.

Sebanyak 18 orang dicurigai-seorang di antaranya anggota TNI, dan dua anggota kepolisian-sempat diperiksa, tetapi akhirnya dilepas.

Ilustrasi. Hidup adalah Pilihan.  (Foto : John Doddy Hidayat).
Ilustrasi. Hidup adalah Pilihan. (Foto : John Doddy Hidayat).

Polisi beralasan mereka dibebaskan lantaran tak tertangkap tangan tengah memeras.

Para petugas itu hanya diminta membuat surat pernyataan tak memeras TKI.

Praktis, operasi ini kurang berhasil.

Bisa jadi, inspeksi itu tak digelar dengan persiapan matang, sehingga dilakukan justru ketika para TKI belum datang.

Tim gabungan seharusnya menyelidiki lebih dulu sebelum melakukan inspeksi.

Tindakan lebih serius, dan tegas diperlukan memerangi kejahatan menahun itu.

Ilustrasi. Beratnya Beban Kehidupan. (Foto: John Doddy Hidayat).
Ilustrasi. Beratnya Beban Kehidupan. (Foto: John Doddy Hidayat).

Setiap tahun diperkirakan Rp325 miliar dikeruk dari sekitar 260 ribu TKI pulang ke Tanah Air.

Mereka diperas masing-masing hingga Rp2,5 juta.

Kejahatan ini melibatkan petugas “Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia” (BNP2TKI), Imigrasi, Bea-Cukai, hingga pengamanan bandara.

Modus kerap dilakukan antara lain membujuk TKI menggunakan angkutan mereka siapkan, yakni taksi gelap.

Pemerasan biasanya dilakukan di tengah perjalanan.

Usulan agar BNP2TKI menjalin kerja sama dengan perusahaan transportasi semacam DAMRI layak ditelaah.

Menggunakan perusahaan milik pemerintah, dengan pengawasan ketat, langkah ini berpeluang memangkas praktek pemerasan.

Pembenahan jasa layanan terhadap TKI mudik perlu dilakukan.

Ini pekerjaan rumah tak gampang, lantaran kejahatan itu melibatkan banyak petugas dari instansi berbeda-beda.

Tetapi, jika dilakukan lewat tim terpadu, semestinya pembersihan bandara dari praktek keji itu bisa berhasil.

Cara lain berkali-kali diusulkan membubarkan jalur khusus untuk kepulangan TKI di bandara.

Semua perbaikan layanan itu memerlukan waktu.

Cara cepat tentu saja dengan tindakan shock therapy.

Petugas kepolisian bersama KPK diharapkan berani bertindak tegas terhadap petugas layanan TKI terlibat tindak kejahatan.

Tidaklah sulit mendapatkan pengakuan dari para TKI diperas.

Tak sukar pula mengusut taksi-taksi gelap terlibat aksi pemerasan, lalu mengendus biang kejahatan ini.

Tanpa tindakan tegas, perbaikan layanan dan pengawasan sia-sia.

Kejahatan di jalur kedatangan TKI telanjur subur.

Para petugas nakal mengulangi praktek kotor itu, lantaran tahu mereka tak dijebloskan ke penjara.

*******

Opini/Tempo.co

Related posts

Leave a Comment