Pembangunan Tanggul Tak Segencar Membangun Korban Manusia

0
56 views

“1.756 Korban Terdampak Masih Bercerai Berai, Rp140,08 Miliar Masih Dibiarkan Mengendap”

Esay/Fotografer : John Doddy Hidayat

Garut News ( Rabu, 18/10 – 2017 ).

********* Gencarnya ragam aktivitas pembangunan fisik berupa ‘pembuatan, peningkatan  tanggul banjir dan pelindung tebing sungai” Cimanuk Garut, Jawa Barat, ternyata hingga kini tak segencar membangun seluruh korban terdampak, yang masih bisa bertahan hidup lantaran selamat atau dapat menyelamatkan diri  dari tragedi tersebut.

Padahal sedikitnya 2.525 penduduk atau 787 “kepala keluarga” (KK) korban terdampak banjir bandang puncak amuk Sungai Cimanuk pada 20 September 2016 silam itu, kini semakin mendesak secara intens juga masif dibangun sumber daya manusianya secara menyeluruh, terukur, dan terencana.

Mereka juga termasuk anak-anak yang sangat memerlukan upaya pemulihan secara terus-menerus, maupun tak hanya bernuansakan “kosmetika” atau “tabrak lari”. Kemudian dibiarkan dengan abai.

********* Seperti halnya kini banyak dialami oleh sekitar 1.756 warga atau 596 KK korban terdampak yang masih hidup tercerai berai dengan ragam penyebabnya, antara lain terusir dari “hunian sementara” (Huntara) pengungsian, serta sejak awal pascabencana tak kebagian tempat di Huntara.

Sehingga berdampak ada yang terpaksa mengontrak rumah, hidup menumpang di rumah sanak saudara, bahkan terpaksa pula kembali ke rumah semula di lokasi sangat rawan bencana.

“Dana Hibah Rp140,08 Miliar Masih Dibiarkan Mengendap”

Namun sungguh ironis, sejak Juni 2017 hingga lebih pertengahan Oktober 2017 bantuan dari pusat berupa dana hibah senilai Rp140,08 miliar bersumber BNPB/APBN 2017 ternyata masih diparkir, atau dibiarkan mengendap di kas daerah/bjb kabupaten setempat.

Padahal alokasi dana sebesar itu, diperuntukan  pada sektor perumahan, inprastruktur jalan dan jembatan, serta sosial ekonomi para korban terdampak.

Sedangkan pembangunan rumah tapak, serta rumah susun yang kini masih berjalan, diperkirakan pula masih ada kekurangan penyediaan sekitar 1.303 unit rumah.

Meski dengan ragam alibi apa pun, tetapi lambannya kinerja penyerapan pemanfaatan dana hibah senilai Rp140,08 miliar tersebut, sangat berpotensi bisa memerpanjang penderitaan bahkan duka para korban terdampak puncak amuk Sungai Cimanuk.

Sebab  kondisi sosial perekonomioan sebagian besar korban terdampak bencana, amat sangat memprihatinkan, sementara jika hingga Juni 2018 mendatang dana hibah itu tak terserap, terpaksa harus dikembalikan kepada kas negara.

Dipastikan pula, luncuran dana hibah ini berdasar rencana pengusulan yang telah disetujui maupun disupervisi oleh tim dari pemerintah pusat, sehingga dengan logika berpikir logis hanya tinggal diimplemtasikan sesuai prosedur atau regulasinya.

Atau barangkali diendapkan agar bisa membuahkan bunga – berbunga, atau pula bahkan kita selama ini hanya tersita waktu untuk penciteraan semata.

Sedangkan para korban terdampak, hanya menjadi penonton pasif dari gencarnya pembangunan peninggian tanggul sepanjang ribuan meter.

Walauhualam bi Sawab.

 

**********