Pelajaran Hilangnya MH370, Kikis Ketergantungan Kotak Hitam

Garut News ( Ahad, 16/03 – 2014 ).

Ilustrasi. (Foto: John Doddy Hidayat).
Ilustrasi. (Foto: John Doddy Hidayat).

“iPhone Anda miliki lebih berdaya daripada komputer mengumpulkan bukti di kokpit.

Sedikit perubahan bisa membantu menjawab lebih cepat mengapa sebuah kecelakaan pesawat terjadi”

Itulah lead tulisan Stephen Trimble, pengamat penerbangan dan editor Flightglobal.com, diterbitkan the situs web The Guardian, Ahad (09/03-2014), sehari setelah hilangnya pesawat Malaysia Airlines MH370, Sabtu (08/03-2014) dini hari.

Belajar dari kecelakaan pesawat Air France 447 pada 2009, butuh nyaris dua tahun menemukan kotak hitam pesawat terlempar ke dasar laut berkedalaman 4,7 km.

Setelah kotak hitam ditemukan, masih butuh kira-kira setahun menganalisis data.

Proses menemukan kotak hitam itu, bukan hanya membuat penasaran dan menyengsarakan, tetapi juga menelan biaya besar.

Kotak hitam pesawat Air France 447 baru ditemukan nyaris dua tahun setelah kecelakaan.( AP ).
Kotak hitam pesawat Air France 447 baru ditemukan nyaris dua tahun setelah kecelakaan.   ( AP ).

Pencarian kotak hitam Air France menelan dana hingga puluhan juta dollar AS!

Sementara kotak hitam belum ditemukan, pelbagai spekulasi bisa muncul.

Dalam sejarah kecelakaan pesawat, spekulasi bisa mulai kesalahan pilot, masalah teknis, hingga penculikan oleh alien.

Pada kasus MH370, spekulasinya mulai masalah teknis, terorisme hingga pilot bunuh diri.

Dalam tulisannya, Trimble mengajak memilikirkan kembali penggunaan teknologi tambahan selain kotak hitam guna membantu menguak sebab kecelakaan pesawat.

Teknologi tambahan itu, penggunaan sistem satelit.

Trimble mengatakan, “Misteri tak kunjung terjawab dari hilangnya Malaysia Airlines MH370, kesalahan masyarakat terkoneksi kita aneh. Bahkan mobil punya koneksi broadband, tetapi jet, teknologi transportasi paling maju, masih eksis di era radio.”

Pengendali lalu lintas udara saat ini kudu berkomunikasi dengan pesawat lewat suara.

Tak ada jaringan data pada kabin, memungkinkan setiap pesawat mengirimkan data dikoleksi dan disimpan ke darat.

Akibatnya, ketika sebuah pesawat hilang, mengalami kecelakaan parah hingga puing dan kotak hitamnya sulit ditemukan, sebabnya sulit diketahui.

Ujungnya, selama berhari-hari bahkan bertahun-tahun, hanya spekulasi.

Hilangnya MH370, kata Trimble, kudu menjadi momen berpikir lagi tentang teknologi membantu keselamatan penerbangan.

Teknologi itu ada, tinggal niat mengaplikasikannya, meski menambah biaya.

“Terus terang, ini tak mudah. Relatif sederhana dan murah bagi kotak hitam menyimpan ber-megabit data penerbangan berharga setiap detiknya. Jauh lebih sulit dan mahal mengirimkan data terus menerus dengan satelit atawa radio,” ungkap Trimble.

Namun, sedikit data bisa ditransmisikan saja, itu membantu.

“Bisa langsung menginstal prosesor terhubung dengan kotak hitam, bisa memilih sejumlah data paling relevan,” katanya.

Trimble mengungkapkan, paten milik Boeing saat ini mendeskripsikan sistem tersebut.

Pada sistem itu, data bisa dikirim antara lain lokasi pesawat.

Data bisa direkam otomatis oleh sistem atawa pilot.

Ada biaya memang.

Namun, Trimble mengungkapkan dengan teknologi itu, melibatkan banyak negara mencari puing pesawat tak lagi diperlukan.

Data penting dikoleksi dan dikirimkan langsung bisa memberi petunjuk sebab terjadinya kecelakaan.

Apabila teknologi itu digunakan, penerbangan komersial memasuki era informasi.

Dan dengan begitu, upaya menguak apa terjadi pada sebuah penerbangan takkan serumit mencari pesawat Amelia Earhart, puluhan tahun hilang tetapi belum juga ditemukan.


Penulis : Yunanto Wiji Utomo
Editor : Yunanto Wiji Utomo/ Kompas.com

Related posts

Leave a Comment