Pelacur

0
46 views

– Reza Indragiri Amriel, Alumnus Psikologi Forensik, The University of Melbourne

Jakarta, Garut News ( Senin, 27/04 – 2015 ).

Ilustrasi. (Foto Repro : John Doddy Hidayat).
Ilustrasi. (Foto Repro : John Doddy Hidayat).

Pada dasarnya tidak ada satu pun perempuan yang mau menjadi pelacur. Begitu keyakinan publik. Dari pandangan sedemikian rupa, terbit empati. Dilatari empati itu, pelacur tidak dipandang sebagai penjahat, melainkan sebagai korban.

Tapi tidak sedikit pula kalangan yang menghina-dina pelacur karena, dalam anggapan mereka, keputusan untuk menjadi pelacur disetarakan dengan keputusan yang dibuat oleh orang-orang saat akan menekuni profesi-profesi lainnya.

Dunia kerja yang normal memuat hak dan kewajiban antara pihak yang mempekerjakan dan pihak yang dipekerjakan. Pada kenyataannya, “bekerja” sebagai pelacur sama artinya dengan menihilkan hak si “pegawai”.

Oleh mucikarinya, pelacur didehumanisasi sebagai daging penghasil uang. Tidak ada subsidi kesehatan, tunjangan kesejahteraan, santunan hari tua, dan bentuk-bentuk kepedulian lainnya yang lazim diberikan oleh majikan kepada bawahan.

Kepada pelacur dikenakan target usaha dan serbaneka kewajiban. Saat pelacur tidak berhasil meraih target dan memenuhi kewajiban, mucikarinya akan mempunyai alasan untuk menyiksa para “karyawan”-nya.

Atas dasar itu, prostitusi bukanlah “pekerjaan”. Prostitusi adalah relasi perbudakan. Prostitusi adalah bisnis perdagangan orang. Prostitusi adalah perundungan hak asasi manusia. Itu berarti, prostitusi sesungguhnya merupakan kejahatan kemanusiaan. Seperti itulah pandangan kalangan feminis.

Namun, apa penjelasan yang bisa diberikan untuk Deudeuh, perempuan yang disebut-sebut sebagai pekerja seks komersial daring (online), yang tewas saat melayani tamunya?

Dengan paras dan perawakannya yang molek, ada deret panjang lowongan kerja yang sebenarnya bisa ia isi.

Sejauh ini tidak ada informasi bahwa Deudeuh diperbudak oleh seorang mucikari. Deudeuh memasarkan dirinya sebagai sebuah komoditas secara terbuka di media sosial. Ia yang menentukan tarif, ia pula yang mengatur jam layanannya.

Segala ketentuan dan persyaratan pun ia yang tetapkan sendiri. Deudeuh laksana seorang wiraswastawan.

Demikian pula dengan seorang perempuan yang berpapasan dengan saya di lift hotel di Fukushima, Jepang. Seraya menggerai-geraikan rambutnya yang dicat kebule-bulean, perempuan itu memperkenalkan dirinya dengan amat ramah.

Namanya, saya lupa. Yang sampai saat ini masih mendesing di telinga saya adalah bunyi yang semula tak bisa saya mengerti, “Am koga, am koga.”

Tahu saya kebingungan, si perempuan Jepang memberikan kartu namanya bak pengusaha profesional. Di situ tertulis, sekaligus memperjelas “am koga” tadi, status di bawah namanya: call girl. “Am koga”-“I’m call girl”.

Seperti Deudeuh, si “am koga” pun bekerja sendirian. Ia tak dipaksa dan tidak pula tertipu sehingga masuk ke dunia kupu-kupu malam. Mungkin, seperti temuan sejumlah riset, mereka pernah mengalami kekerasan semasa kanak-kanak.

“Tapi setiap orang memiliki traumanya masing-masing,” kata Sigmund Freud.

Menjadi pelacur adalah keputusan sukarela. Karena itu, si “am koga”-dan mungkin Deudeuh-tak merasa risau dengan pilihan mandirinya itu. *

********

Kolom/Artikel Tempo.co