Pelabuhan Samudera Garut Dikepung Batu Karang Cilauteureun

Pelabuhan Samudera Garut Dikepung Batu Karang Cilauteureun

244
0
SHARE

Garutnews ( Sabtu, 15/06 – 2024 ).

Masih Menyisakan Kenangan.

 “Hidup Segan Matipun Tak Mau”

Oleh Abah John.

Dermaga Pelabuhan Samudra Garut di ujung selatan Pulau ‘Santolo’  berhasil tuntas dibangun pada celah kepungan hamparan batu karang terjal Teluk ‘Cilauteureun’ Pameungpeuk/Cikelet sekitar 1913 silam. 

Fenomena ini menunjukan kecerdasan arsitekturnya, agar setiap kapal pengangkut beragam rempah-rempah terhindar dari terjangan arus deras ombak Samudera Hindia.

Kerusakan Dinding Dermaga.

Sehingga bisa aman, dan nyaman memasuki serta keluar dermaga berleter ‘U’ tersebut, kemudian berlayar melintasi perairan internasional tujuan Eropa.

Namun kini pada usianya mencapai 111 tahun, berkondisi semakin nyaris menyerupai ‘kerakap diatas batu, hidup segan matipun tak mau’.

Pulang Melaut.

Lantaran selain tak lagi difungsikan, juga struktur bangunannya kian rapuh bahkan ada yang berkeping-keping digerus usia tua tanpa pemeliharaan.

Padahal masih bisa dimanfaatkan menambatkan perahu layar motor milik nelayan, sekaligus dapat dijadikan wahana bongkar muat ragam hasil tangkapan ikan dari laut lepas.

Menjaring Ikan di Pinggiran Pulau Santolo.

Malahan dapat pula dijadikan situs peninggalan sejarah bernilai sejarah tinggi, antara lain bagi kegiatan penelitian ilmiah sekaligus menjaring kunjungan wisatawan asal Eropa.

Khususnya wisatawan asal negeri kincir angin Belanda, yang nenek moyangnya membangun juga pernah memanfaatkan dermaga pelabuhan samudera itu.

Pulau Santolo.

Sedangkan sebelumnya rempah-rempah diangkut dari Garut dengan menggunakan kereta api uap hingga di Cikajang berketinggian 1.246 mdpl.

Kemudian dari Cikajang diangkut ke pelabuhan berjarak sekitar 50 kilometer menggunakan sarana angkutan darat.

Di atas Dinding Dermaga pun Dilintasi Rel Lori Pembawa Muatan Kapal.

Pintu Pengatur Ketinggian AirTak jauh dari pelabuhan, terdapat pula ‘menara mercu suar’ yang bisa dijadikan daya pikat wisatawan mancanegara.

“Menyisakan Kenangan”

Ternyata sebutan ‘Santolo’ ada setelah Belanda membangunnya sebab sebutan ini dibuat Orang Belanda bernama Koopman, sebelumnya Santolo dikenal dengan Cilauteureun (berhentinya aliran laut).

Pintu Pengatur Ketinggian Air.

Selain digunakan mendistribusikan rempah-rempah serta karet, Belanda pun membangun pabrik karet sewaktu Selatan Garut sebagai penghasil karet, dengan 16.000 hektare lebih hamparan kebunnya.

Pada 1980-an dinding dermaga pelabuhan itu mulai rubuh akiat besarnya terjangan ombak dan kerap tertabrak perahu nelayan.

Laut Selatan Garut.

Dermaga berukuran berkisar 100 x 50 meter dengan ketebalan dinding tingginya mencapai satu meter juga dilengkapi pintu pengatur ketinggian air, di atas dinding dermaga pun dikelilingi rel lori pembawa muatan kapal.

Tetapi kini tak lagi menyisakan baja lintasan lori dan piranti pengatur airnya. Seakan lenyap ditelan bumi, atau mungkin dipreteli maling agar besinya bisa dikilo untuk dijual. 

Walaualam bi Sawab.

Pelagai Sumber, Esay/Fotografer : Abah John. 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY