Pasien TB Kudu Didampingi Pengawas

by

 Garut News ( Senin, 24/03 – 2014 ).

Pembukaan pelatihan PMO. (Foto:SB)
Pembukaan pelatihan PMO. (Foto:SB)

Jika dulu penderita TB (Tuberculosis) tak dibekali ilmu pengetahuan seputar penyakitnya, tapi kini bukan hanya penderita, bahkan keluarganya juga wajib menjadi Pengawas Menelan Obat (PMO).

Community TB Care Aisyiyah Garut senantiasa memberikan pelatihan berisi materi seputar penyakit menular tersebut bagi para PMO, perwakilan dari banyak keluarga pasien TB di Garut.

Pada 13 hingga 14 Maret 2014 lalu, kami melatih 15 PMO bagi 15 pasien TB terjaring kader TB Komunitas Aisyiyah Garut,” ungkap dr Sakinah Ginna R, Ketua Pelaksana Program Community TB Care Aisyiyah Garut.

Kata dia, pelatihan ini keenam kalinya sejak 2012, mulai dilaksanakannya program penanggulangan penyakit lantaran kuman Mycobacterium Tuberculosis ini.

Berinteraktif dengan nara sumber Dinkes setempat, Yeti Heryati. (Foto:SB)
Berinteraktif dengan nara sumber Dinkes setempat, Yeti Heryati. (Foto:SB)

Kita yang sehat saja pasti membutuhkan motivasi agar melakukan peningkatan kualitas hidup, apalagi orang sakit sangat perlu pendampingan, baik dari pasangan atawa anggota keluarga lain,” kata Hj Ai Rustini, S.Ag ketua SSR/penanggungjawab keseluruhan kegiatan, Aisyiyah Garut.

Karena itu, kata dia, kita sesama muslimah wajib memberi perhatian khusus pada orang sakit, agar selama pengobatan tetap mampu beraktifitas, serta bersosialisasi dengan keluarga sekaligus sahabatnya.

Jaga perasaannya, ajak serta pada kegiatan positif agar tetap miliki percaya diri dan optimistis, hingga pengobatan tuntas, apalagi selama minimal enam bulan baru selesai, katanya.

dr Gina Juga Bina PMR. (Foto: JDH).
dr Gina Juga Bina PMR. (Foto: JDH).

“Jika pasien TB tak diobati selama lima tahun, 50% akan meninggal dunia, 25% semakin parah, dan menularkan pada orang lain, serta 25% sembuh sendiri jika memiliki daya tahan tubuh super hebat, ” demikian Sakinah Ginna menjelaskan bahaya penularan TB.

Inilah perlunya PMO bagi pasien TB, agar tak terlewat minum OAT (Obat Anti TB), jika telat bahkan mangkir bisa kambuh di kemudian hari, dan kemungkinan masuk kategori dua, katanya pula.

Kategori ini, kudu  minum obat minimal enam bulan ditambah suntikan setiap hari selama dua bulan, jika pengobatan gagal lagi, dikhawatirkan bisa menjadi TB-MDR (TB sudah kebal obat biasa).

Sedangkan pengobatannya pada wilayah Jawa Barat dirujuk ke RSHS Bandung, jika menjalani pengobatan, maka PKM terdekat diwajibkan menjadi PMO, beber Ginna.

*****

SB, JDH.