Pasar Kuno

0
15 views

Heri Priyatmoko, Dosen Sejarah di Univeritas Sanata Dharma, Yogyakarta

Ilustrasi Fotografer : John Doddy Hidayat.

Garut News ( Rabu, 12/08 – 2015 ).

Transaksi Pasar Tradisional.
Transaksi Pasar Tradisional.

Pilkada serentak akan digelar Desember mendatang. Para calon siap bertarung di sirkuit politik. Lahan basah yang acap menjadi sasaran kampanye adalah pasar tradisional. Selain dihuni ratusan bakul dan pembeli, pasar merupakan simbol kerakyatan.

Di arena ini, aktor politik menebar janji demi menjaring massa. Mengakrabi komunitas pasar saat kampanye termasuk merupakan strategi politik.

Tanpa memahami riwayat dan roh pasar kuno, politikus yang kelak menjadi “raja kecil” mudah mengobrak-abrik jaringan pasar dan melumpuhkan spirit wirausaha pedagang. Mereka akan mengadopsi konsep pasar modern (mal) dalam proyek renovasi pasar.

Suasana Pasar Tradisional.
Suasana Pasar Tradisional.

Sebelum semakin banyak pasar ilang kumandange (hilang), penting dibentangkan gambaran historis pasar asli Tanah Air.

Tercatat pada zaman Mataram Kuno abad VIII telah ditemukan berita sekilas tentang ruang yang mewadahi proses jual-beli komoditas. Bukti konkretnya adalah terminologi yang terpahat dalam prasasti, misalnya peken (pasar) dan pegawai yang mengurusi pasar seperti apakan, apekan, dan mapakan.

Terminologi peken memuat arti tempat berkumpul yang tidak berkaitan dengan upacara atau ritual suci. Hanya butuh tanah lapang untuk menampung banyak orang berkerumun, bengak-bengok (berteriak) menawarkan dagangan, dan leluasa bertransaksi.

Masyarakat Pasar Limbangan Demo Pemkab Garut.
Masyarakat Pasar Limbangan Demo Pemkab Garut.

Kemudian, istilah bukak dasar menjelaskan pola para bakul menggelar dagangan cukup ditaruh di tanah atau lantai, tidak dipajang dalam tempat almari. Mereka duduk nglesot menghadap dagangan, menunggu pembeli.

Agar tidak kotor menyentuh tanah, dagangan dilambari karung atau diletakkan di atas empyak (ranjang kecil) setinggi dada bakul kala duduk.

Seiring dengan kemajuan zaman, kegiatan ekonomi ini membutuhkan fasilitas memadai. Contohnya, dibangun los agar tertata rapi. Atapnya diberi nam-naman (anyaman) daun kelapa atau genting supaya tubuh terlindungi dari terik mentari dan guyuran air hujan.

Dibuat pula grobok (lemari) untuk menyimpan barang yang tidak dibawa pulang. Wajah pasar demikian ini masih dapat kita jumpai di pelosok Wonogiri, misalnya Giriwoyo.

Dari optik sejarah budaya, ungkapan gumrenggeng menggambarkan keramaian suasana pasar berkat relasi sosial yang terbangun apik di sana. Penjual berteriak memanggil teman atau pembeli yang sudah akrab adalah panorama yang lumrah.

Coba perilaku semacam ini diterapkan di pasar modern, pasti kita akan dianggap sinting.

Ternyata, pasar di Nusantara bukan hanya medan ekonomi, tapi juga ruang ideal mengais informasi. Fakta kultural yang melukiskan kenyataan itu adalah kulak warta adol prungon. Kita berburu berita bisa lewat ngobrol atau nguping pembicaraan orang, untuk kita wartakan di tempat lain.

Proses transaksinya berlangsung gayeng, melibatkan makelar dan tukang entul (pemancing). Ragam keunikan di atas adalah identitas pasar tradisional yang mustahil dijumpai di pasar modern alias pasar bisu, lantaran memasang harga pas, tak ada negosiasi.

Pada musim kampanye para politikus blusukan ke pasar, sebaiknya para bakul membuat kontrak politik agar mereka tidak mengutak-atik ekosistem pasar yang telah mapan.

Sebagai peringatan pula bagi politikus bahwa bila berani “membunuh” masyarakat pasar tradisional, bersiaplah dibayangi dosa sejarah seumur hidup. Camkan, doa ribuan orang susah itu mujarab dan malati! *

********

Kolom/Artikel Tempo.co