Pasar Energi Bersih

0
20 views

Alhilal Hamdi, Bekas Ketua Tim Nasional Bahan Bakar Nabati

Fotografer : John Doddy Hidayat

Garut News ( Kamis, 17/03 – 2016 ).

Ilustrasi.
Ilustrasi.

Perhelatan Forum Energi Bersih di Bali pada Februari lalu dihadiri ratusan wakil pemerintahan asing, lembaga internasional, pemerhati, industri, dan investor. Setidaknya kegiatan temu para pemangku kepentingan ini membangkitkan kembali harapan hadirnya energi bersih saat banjir energi fosil dengan harga “obral”.

Lonjakan ataupun anjloknya harga minyak mentah dunia sulit diperkirakan. Krisis panjang Iran dan Irak, pertumbuhan stabil Cina, India, Brasil, dan Asia Tenggara, ditambah penyadaran global tentang puncak zaman keemasan minyak pada 2000-an, telah memberi momentum bagi komoditas ini menembus angka US$ 120 per barel.

Bersamaan waktunya, yang disemangati oleh Protokol Kyoto, lahir pula pasar baru berwujud perdagangan “pengurangan emisi karbon bersertifikat (CER)” yang memberi bonus sebagian bagi investasi energi bersih.

Bagaimana keadaan pasar minyak mentah saat ini? Dari sisi pasokan, kita bisa menelisik laporan teranyar beberapa negara produsen besar, seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, Irak, Qatar, Aljazair, Kazakhstan, Rusia, Meksiko, dan Cina, yang mampu memompa minyak dengan biaya di bawah harga pasar US$ 30 per barel.

Iran, pemilik cadangan minyak kedua terbesar seputar Teluk Persia dan Timur Tengah, sesudah embargo dibuka, siap menggelontorkan minyaknya ke pasar dunia. Beberapa negara konsumen, semisal Amerika Serikat, bermodalkan produksi besar dari shale oil, masih kuat menangkal minyak impor.

India, yang mempunyai fasilitas timbun raksasa serta kilang terpadu industri petrokimia, tak rentan oleh fluktuasi harga mengingat regulasi energinya terhubung ke pasar internasional. Cina, beberapa waktu belakangan ini, secara cerdas memborong tanker-tanker minyak yang murah meriah untuk menyiapkan catu energi jangka menengah yang lebih dari memadai.

Dalam keadaan pasokan melimpah dan permintaan stagnan, sentimen harga memang masih berpotensi terus menurun. Produsen energi mengalami situasi mirip pada 1980-an, yang sebagian mulai meminta perlindungan dari kebangkrutan.

Di sisi lain, penarik manfaat terbesar dari keadaan seperti sekarang tentulah konsumen, termasuk industri, pemakai energi fosil. Siklus harga ini belum mencapai titik nadir, tapi emisi buang dari pemakaian energi fosil tetap mengkhawatirkan.

Yang penting kemudian ialah melihat hubungan pertumbuhan energi bersih terhadap energi fosil. Bila menengok pengalaman satu dekade ke belakang, tampak masing-masing memiliki lapak sendiri. Pasar swasta perdagangan bersih karbon ambruk jauh hari, justru saat energi fosil masih membubung.

Sementara itu, hibah dana Milenium Challenge guna memperkuat model bisnis energi bersih, setelah sembilan tahun mengalami metamorfosis skema beberapa kali, telah menemukan sosok pas. Suntikan global untuk penurunan emisi melalui skema baru, yang berjumlah puluhan miliar dolar AS, cukup besar terkait dengan energi bersih.

Dari dunia usaha, penggalangan dana melalui perusahaan investasi lahir kembali dengan komitmen ekuitas pembiayaan sejak awal proyek. Artinya, prakarsa emisi dan energi bersih masih menyimpan roh penggeraknya.

Namun, setiap mewacanakan energi bersih sebagai arus utama, sebaiknya dipahami bahwa energi bersih dan pengurangan emisi bukanlah isu pokok korporasi. Meski pemerintah memberi penugasan pada off taker energi, regulasi setengah hati bertabrakan dengan perilaku dasar korporasi, yang acap kali menyandingkan harga beli energi bersih dengan rata-rata harga energi lain.

Penetapan harga batas tertinggi menempatkan pengembang energi bersih menjadi lemah saat bernegosiasi. Di bagian lain, mekanisme pemberian subsidi energi kerap membuat pemegang mandat pembelian energi didera tekanan para politikus.

Kadang-kadang, tak perlu juga mempersalahkan politik saat berbagai prioritas berebut tempat untuk dibiayai tiap tahun oleh negara.

Lantas, tatkala kita mengkomunikasikan melalui berbagai forum tentang sasaran energi bersih sebanyak 23 persen dalam sepuluh tahun ke depan, seyogianya pesan itu diperkuat dengan segera mengisi kesenjangan kelembagaan dan regulasi.

Dengan begitu, kita menghindarkan pasar kian majal. Pencapaian belanja korporasi, selaku pembeli tunggal energi bersih, mesti ditorehkan angka tahunannya.

Tabungan energi kita—bauran panas bumi, biomassa, air, dan surya—memang sangat menggiurkan. Tapi, jangan lupa, kita tak sendirian.

Pun energi bersih bukan satu-satunya komoditas penurun emisi. Banyak negara lebih sigap menata gerai. Bila tak lekas bersolek, ditoleh pun kita tidak.

********

Tempo.co