Pasar Beringharjo

 – Purnawan Andra, peminat kajian sosial-budaya masyarakat

Jakarta, Garut News ( Kamis, 12/06 – 2014 ).

Ilustrasi. Buah Kesemeuk atawa Apel Garut maupun Buah Gumeulis di Pasar Tradisional Ciawitali, Guntur, Garut. (Foto : John  Doddy Hidayat).
Ilustrasi. Buah Kesemeuk atawa Apel Garut maupun Buah Gumeulis di Pasar Tradisional Ciawitali, Guntur, Garut. (Foto : John Doddy Hidayat).

Beberapa waktu lalu, calon presiden Joko Widodo kembali berkunjung ke pasar tradisional.

Kali ini, ia ke Pasar Beringharjo di Yogyakarta, sebelum menemui Sultan Hamengku Buwono X di keraton.

Mantan Wali Kota Solo ini memang dikenal kerap blusukan ke pasar-pasar tradisional yang disebutnya sebagai “etalase kehidupan masyarakat”.

Dalam konteks kebudayaan, Beringharjo menyediakan semua penjelasan tentang ontologi dan kosmologi masyarakat Jawa yang ada di sekitarnya.

Ia menempati posisi yang sangat vital bagi tata ruang dan waktu orang Yogya.

Ia salah satu titik penting dari sumbu imajiner yang berawal dari Laut Kidul (Selatan), Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat sebagai pancer, hingga ke Gunung Merapi sebagai ujung tertinggi.

Di garis yang melalui Parangkusuma-Panggung Krapyak-Kraton-Beringharjo-Tugu Pal Putih hingga Merapi inilah orang Jawa menciptakan hubungan antara Jagad Ageng (makrokosmos) dan Jagad Alit (mikrokosmos), antara manusia dan penciptanya dalam ajaran yang disebut dengan sangkan paraning dumadi.

Ia menjadi perjalanan hidup manusia, sejak ia lahir (di bawah/selatan), melakukan kehidupan sosial dengan manusia dan alam lingkungannya hingga mati (mencapai keabadian di atas/utara).

Seturut logika Heri Priyatmoko (2014), Beringharjo, apabila dimaknai sebagai ruang sosial, merupakan “rumah asri” yang mewadahi dan memotret kohesi sosial dari berbagai komunitas sosial dari waktu ke waktu.

Pasar bukan sebatas tempat transaksi ekonomi.

Dalam konteks kekinian, Beringharjo bak laboratorium yang menyediakan bahan penting bagi ilmuwan sosial guna mengkaji bagaimana proses pembauran masyarakat lintas kelas dan etnik.

Pasar pada dasarnya, mengadopsi spirit dagang Jawa yang mengedepankan rasa persaudaraan, yaitu bathi sanak tuna satak (rugi uang seratus tidak apa-apa, asalkan beruntung mendapat saudara).

Proses jual-beli model demikian ini menjadi medium interaksi dan menyebabkan kerukunan sosial terjalin secara alami.

Berbeda dengan mal dan hipermarket, lantaran di situ pembeli dan penjual tak berdialog menentukan harga, karena harga sudah tertera di tubuh barang dagangan.

Beringharjo juga menjadi identitas kota, sebuah citra mental yang terbentuk dari ritme biologis tempat dan ruang tertentu yang mencerminkan waktu (sense of time), yang ditumbuhkan dari dalam secara mengakar oleh aktivitas sosial-ekonomi-budaya masyarakat kota itu sendiri (Lynch, 1960 & 1972).

Beringharjo menjadi ruang publik yang memiliki peran melahirkan dan menghidupi seni kehidupan yang lebur dalam pengertian tata ruang dan spirit aktivitas ekonomi di pasar.

Beringharjo menjadi locus dan situs yang mempresentasikan lakon hidup manusia dari dunia individual dan sosial.

Maka, ketika arus globalisasi dan kuasa kapitalisme menjadi suatu keniscayaan, pasar dengan basis nilai-nilai kultural yang dimilikinya bisa memainkan peran untuk memadukan sistem ekonomi yang dijalankannya dalam orientasi kerakyatan dan kesejahteraan.

Beringharjo bisa merealisasi keberadaan pasar tradisional sebagai ruang transaksi ekonomi, ruang interaksi sosial, ruang komunikasi, dan ruang hiburan komunal.

Pasar adalah kesadaran terhadap nilai-nilai tradisi, kearifan lokal, multikulturalisme, demokrasi, dan ekonomi kerakyatan.

*******

Kolom/Artikel : Tempo.co

Related posts

Leave a Comment