Pariwisata dan Jurnalisme Lawatan

0
6 views

“Pimpinan dan Seluruh Jajaran Keluarga Besar Disbudpar Kabupaten Garut Mengucapkan Selamat Hari Jadi ke-202 Garut (16 Pebruari 1813 – 16 Pebruari 2015), Pembangunan Industri Pariwisata Dipatikan Bisa Mewujudkan Multiplier Effect”

– Kepala Disbudpar Kabupaten Garut, Mlenik Maumeriadi –

Arief Yahya, Menteri Pariwisata RI

Garut News ( Ahad, 15/02 – 2015 ).

Mlenik Maumeriadi.
Mlenik Maumeriadi. (Foto : John Doddy Hidayat).

Izinkan saya mengucapkan selamat Hari Pers Nasional yang tahun ini peringatannya diselenggarakan di Kota Batam.

Kita tahu, pers Indonesia telah melewati rangkaian sejarahnya yang panjang, tidak saja sejak Indonesia merdeka pada 1945, namun tapak-tapaknya sudah jauh sebelumnya.

Pers Indonesia menjadi saksi bagaimana negara-bangsa ini digagas, diperjuangkan, dan dipertahankan eksistensinya seperti saat ini dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Kita turut berbangga bahwa pers kita menjadi bagian terpenting dalam pilar penyemaian dan pembentukan kultur kemerdekaan, kemanusiaan, dan demokrasi hingga hasil-hasilnya bisa kita nikmati dan kecap hari ini.

Sadarlah kita bahwa para founding fathers kita umumnya berasal dari dunia jurnalistik. Tirto Adhi Soerjo, Tjokroaminoto, KH Ahmad Dahlan, Sukarno, Mohammad Hatta, dan Sam Ratulangie adalah tokoh-tokoh pers penting Indonesia.

Selain itu, pers Indonesia adalah pencatat terdepan tentang keindonesiaan kita yang umumnya secara kultural kita kenal dengan nama “Nusantara”.

Pers kita tak henti-hentinya merekam keindahan alam, geliat budaya lokal, dan kehidupan orang-orang di dalamnya.

Tak berlebihan kiranya jika kita menyebutkan pers Indonesia sebagai juru bicara pesona alam Indonesia dan kehidupan kultural di dalamnya.

Kita tentu mengingat nama salah satu insan pers penting Adinegoro yang namanya kemudian diabadikan sebagai alamat anugerah pers yang berwibawa saat ini.

Adinegoro memperkenalkan kepada kita bentuk jurnalisme untuk membaca dan mencarikan bentang alam dan kehidupan orang-orang dalam sebuah lawatan.

Kita bisa menyebut apa yang dilakukan tokoh pers kita ini dengan jurnalisme lawatan saat hasil tulisan panjangnya yang dimuat secara bersambung di majalah Pandji Poestaka pada 1926 dibukukan dengan judul Lawatan ke Barat.

Dengan Kapal Tambora dari Tanjoeng Priok Batavia, jurnalis kita Adinegoro merekam pengalamannya saat di Singapura, Paris, Belgia, dan di Bandar Antwerpen, Belanda.

Adinegoro juga menuliskan kesan-kesannya saat melawat di Utrech, Amsterdam, Berlin, Istambul, Balkan, Athena, Vanesia, dan Roma.

Buku Lawatan ke Barat Adinegoro itu kita bisa baca sebagai bentuk jurnalisme lawatan penting yang menghidupkan cerita kota dalam sebuah perjalanan.

Pada era Adinegoro saat melakukan perjalanan memang belum ada istilah “pariwisata”. Istilah ini baru kita kenal pada 1960.

Yang memperkenalkan istilah ini adalah tokoh pers terpenting kita yang sekaligus presiden pertama Republik Indonesia, Ir Sukarno.

Istilah “pariwisata” itu disampaikan Presiden Sukarno saat penganugerahan sayembara Tugu Nasional (Monas) di Istana Negara.

Kita tahu, Presiden Sukarno adalah pemimpin redaksi koran Persatoean Indonesia dan majalah mingguan Fikiran Ra’jat yang terbit di Bandung pada 1929 dan 1932.

Istilah tour diterjemahkan sebagai darmawisata dan dipakai dalam penulisan jurnalistik kita saat itu. Menurut Presiden Sukarno, istilah yang tepat untuk menerjemahkan tour adalah pariwisata.

Pariwisata, kata Presiden Sukarno, adalah seseorang “jang meninggalkan rumah tangga, mengembara, ke mana-mana, keliling, all round”.

Namun baru pada 1966 di Kabinet Dwikora II Presiden Sukarno secara khusus membentuk Departemen Pariwisata yang dipimpin Sultan HB IX.

Dari sekelumit penjelasan itu, kita melihat ada benang merah yang tebal antara pariwisata, trip/perjalanan, dengan kultur jurnalistik kita.

Apalagi saat ini kita sedang merancang travel to the hyperreality dalam suatu proyek wisata baru yang berkesinambungan.

Newseum Time Trips, demikian namanya, merupakan blusukan pada warisan gagasan dan ide-ide di kawasan Nusantara yang dimulai hampir tiga abad lampau saat produk pers pertama lahir di Batavia pada 1744.

Kota di mana sebuah pers merekam geliatnya pada suatu waktu-yang sangat bisa memiliki potensi pariwisata bila memiliki rekam cerita maupun postur visualnya.

Inilah saatnya kita terus melakukan inovasi dan penyegaran dalam membaca arah baru pariwisata. Dan dalam batang tubuh pers Indonesia, kita bisa menggali kultur dan inovasi wisata tersebut.

Di tengah kita menaikkan kuantitas kunjungan wisatawan (target 10 juta pada 2015), kita berusaha sekuat-kuatnya mencoba membuka kreasi-kreasi baru dalam menempatkan pariwisata sebagai sebuah pencarian untuk kepentingan kita lebih besar, membangun peradaban bangsa.

Salah satunya adalah, sebagaimana saya sebutkan di atas, mengawinkan warisan pers (jurnalisme lawatan) dan industri pusaka.

Pers yang sifatnya segera, sementara, pendek, yang bergerak bersama pendulum dalam masyarakat yang merindukan sesuatu yang lampau, abadi, yang dari sana ingatan dirawat, kita kreasikan dan pertebal arsirannya dalam industri pusaka.

Yang saya maksudkan sebagai industri pusaka (heritage industry) adalah ekonomi yang bersandar pada lempengan ingatan masa lampau untuk kreativitas kekinian yang bisa terlihat dari tendensi praktek dalam penulisan novel, revitalisasi kota lama, investasi barang seni, dan bahkan pertunjukan ingatan yang berlangsung ekstensif. *

******

Kolom/Artikel Tempo.co