Para Penjelajah Jagat Raya

0
52 views

Garut News ( Selasa, 18/11 – 2014 ).

Ilustrasi. (Foto : Repala Jayapura).
Ilustrasi. (Foto : Repala Jayapura).

INTERSTELLAR

Sutradara     :  Christopher Nolan
Skenario       :  Jonathan Nolan dan Christopher Nolan
Pemain         :  Matthew McConaughey, Anne Hathaway, Jessica Chastain, Michael Caine, Jessica Chastain

Do Not Go Gentle Into That Good Night………….”
    
Larik puisi Dylan Thomas itu terus menerus mengikuti perjalanan para pengelana jagat raya itu menuju ke dalam kegelapan penuh harapan untuk kemudian keinginan pulang.

Inilah sebuah film petualangan para astronot yang menghampiri setiap planet untuk sebuah misi relokasi penduduk bumi.

Sebuah perjalanan panjang yang akhirnya membuat mereka rindu pulang kembali ke bumi yang sudah kusam, buruk, dikurung badai debu dan nyaris kehabisan oksigen.

Film Interstellar dibuka dengan adegan keseharian di sebuah kawasan pertanian yang diselimuti debu;  segerombolan truk yang terhuyung-huyung membawa barang pindahan untuk mencari tempat baru; ladang jagung berwarna kelabu nyaris kehilangan daya hidup dan para petani dan keluarganya yang melakukan pekerjaan sia-sia: sibuk menyapu dan membersihkan debu tebal yang senantiasa menyerbu lagi.

Cooper (Matthew McConaughey), seorang eks astronot dengan dua anak itu mencoba menghadapi kemuraman itu dengan santai.

Bersama mertuanya (John Lithgow), Cooper menikmati sarapan, berdiskusi dengan anak-anaknya yang sudah remaja: Tom (Timothée Chalamet ) yang bangga menjadi petani jagung, dan  Murphy (Mackenzie Foy ) puterinya yang memiliki keinginan tahu seorang ilmuwan sekaligus sangat peka terhadap gerakan alam.

It’s a ghost,” kata Murphy meyakinkan ayahnya setiap kali ia merasakan gerakan-gerakan aneh di kamar tidurnya.

Buku-buku yang bergeser; suara-suara bisika.  Sang ayah, seorang duda yang ditinggalkan isteri yang digerogot kanker, menjelaskan panjang lebar soal gravitasi dan aneka rumus ilmu pengetahuan.

Diskusi sarapan selesai, karena Ayah dipanggil guru akibat Murphy yang bertingkah di sekolah.

Keseharian perilaku mahluk bumi ini lantas segera pupus hanya dalam waktu 15 menit, begitu Cooper tak sengaja bertemu dengan operasi NASA ‘di bawah tanah’ yang sudah lama merencanakan mengirim pasuka pengelana jagat raya.

“Mencari tempat baru untuk merelokasi penduduk bumi,” kata Profesor Brand (Michael Caine) dan “sekaligus mencari para astronot sebelumnya yang menghilang di antara planet,” kata Amelia Brand (Anne Hathaway) yang mengaku kehilangan kekasihnya, salah satu astronot yang menyesap dalam kegelapan malam di jagat raya.

Keberangkatan sang Ayah yang ditentang  puterinya, itu adalah sebuah pertanda bahwa Cooper sendiri tak tahu kapan dia kembali.

Dia bukan hanya melesat menjejakkan kaki ke sebuah planet asing; Cooper akan melalui Worm Hole (Lubang Cacing), sebuah lorong di jagat raya yang menembus ruang dan waktu.

Ketika Murphy yang semula diperankan Mackenzie Foy yang remaja berubah menjadi Jessica Chaistain, sang Ayah tetap saja Matthe McConaughey bertahan pada usia muda, ganteng yang frustrasi berlompatan dari satu planet ke planet lain, sementara hatinya selalu saja ingin kembali kepada keluarganya.

Film sepanjang dua jam 49 menit ini adalah sebuah proyek ambisius. Setelah menyelesaikan proyek-proyek besar seperti trilogi Dark Knight dan Inception, sutradara Christopher Nolan memang tak mungkin melangkah mundur.

Film berikutnya selalu harus membuat lompatan yang lebih jauh, lebih tinggi dan ini dilakukan bukan sebagai metafora belaka, tetapi juga secara harafiah.

Nolan melompat jauh ke jagat raya, meninggalkan hal yang remeh-temen di bumi. Di antara galaksi itu, Nolan menggocoh dan mengoyak emosi melalui beberapa subplot hubungan ayah dan anak : Cooper dan puterinya serta Profesor Brand dan Amelia.

Kedua pasang ayah dan anak ini sama-sama terpisah oleh jarak yang tak terhingga dan terhubung oleh teknologi rekaman film sehingga para astronot faham bahwa mereka sudah berkelana selama puluhan tahun usia bumi.

Tidak bisa tidak, adegan Matthew MaConaughey yang menyaksikan rekaman pesan sang puteri yang menanjak dewasa  dengan isakan tangis tanpa suara itu sungguh menyentuh.

Ini mengingatkan kita bahwa film berskala sebesar apapun – dengan teknologinya yang hebat—tetap harus mampu menjangkau hati penonton untuk bisa menyeret kita hingga detik terakhir.

Perjalanan Cooper, Amelia, Doyle (Wes Bentley), Romily (David Gyasi) dan sang robot yang ngocol nyaris seperti sebuah ‘road trip movie’ yang hanya berbeda lokasi—ya, di atas sana—tentu saja mengalami berbagai kesulitan.

Pada setiap planet mereka bukan saja harus mengetahui bekal oksigen dan kondisi pada setiap planet, tetapi juga karena setiap astronot memiliki motif yang berbeda.

Cooper ingin menyelamatkan mahluk bumi (termasuk keluarganya); Amelia ingin mencari sang kekasih dan yang lain adalah ilmuwan yang setia pada keilmuannya.

Pada titik bahaya—apakah ombak yang nyaris menenggelamkan atau tabrakan dahsyat atau kekurangan oksigen—mereka selalu diuji apakah sebaiknya mereka melanjutkan perjalanan misi ambisius itu atau kembali pulang.

Di antara drama intrik di antara astronot dan drama keluarga, Nolan  juga memberikan kejutan-kejutan tampilnya seorang pemain Hollywood terkemuka di tengah plot yang membelok dengan mulus sekaligus memberi hentakan.

Tentu saja sosok ini tidak diletakkan di sana cuma untuk pajangan, tetapi justru menjadi kunci dari kelancaran (atau ketidaklancaran) perjalanan mengarungi jagat raya itu.

Jika Anda  merasa deja vu ketika memasuki babak terakhir film, saat astronot Cooper melayang-layang ke sebuah entitas; sebuah lorong ‘masa lalu’ yang kemudian menguak dan menjawab serangkaian pertanyaan masa kini, itu karena Anda teringat film Inception.

Christopher Nolan agaknya memiliki sebuah rasa ingin tahu dan obsesi pada pertanyaan masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang yang –menurut bayangannya—adalah sebuah lingkaran yang sempurna.

Apa yang terjadi di masa kecil Murphy tentang gerakan-gerakan kecil di kamarnya di masa kecil memiliki hubungan dengan kekinian dan masa yang akan datang dengan Ayahnya.

Film ini memang terkesan terlalu ambisius dan gigantik, tetapi saya tetap menganggap Nolan sangat cerdas membawanya kepada level yang manusawi dan personal.

Matthew McConaughey nampaknya bakal diperhitungkan pada musim penghargaan Golden Globe dan Academy Awards tahun depan.

Biarlah itu menjadi keramaian duniawi.

Yang lebih penting dalam film ini justru sisi spiritual yang membuat napas terhenti sejenak; pada saat-saat adegan disajikan tanpa suara, tanpa musik, tanpa berisiknya masalah dunia. 

Kita merasa bersama mereka, empat penjelajah jagat dan satu robot bodor yang berfungsi memecah ketegangan; terkadang ada kehebohan musik saat terjadi kecelakaan pesawat, lalu disusul dengan  keheningan ketika mereka berhasil melesat menembus keheningan jagat. 

Kita bahkan merasa dekat, nyaris bersatu, bersama mereka ketika berlayar di dalam kegelapan jagat  mencari setitik cahaya bintang.

Dan suara berat dan lembut aktor Michael Caine itu terus menerus berdengung mengiringi kitaDo Not Go Gentle Into That Good Night………….

LEILA S. CHUDORI/Tempo.co

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here