Papua, Pulau Terkaya Sekaligus Termiskin di Indonesia

0
37 views

Garut News ( Selasa, 05/05 – 2015 ).

Anak-anak Papua belajar di Kapal Gurano Bintang. (ARSIP KOMPAS TV).
Anak-anak Papua belajar di Kapal Gurano Bintang. (ARSIP KOMPAS TV).

— Papua, pulau di ujung timur Indonesia, terkenal dengan kekayaan sumber daya alam yang melimpah. Namun, pada saat yang sama, Papua juga banyak memiliki kantong-kantong kemiskinan.

“Sumber daya alam Papua sangat melimpah, memang tak perlu diragukan lagi. Papua, sebagai daerah, sangat indah dan kaya. Namun, Papua masih seperti daerah terlupakan. Anak-anak Papua, yang seharusnya menikmati masa kecil begitu indah, harus bersusah payah, bahkan demi mendapatkan fasilitas pendidikan layak,” ujar Melanie Subono, aktivis sosial pendiri Rumah Harapan.

Berdasarkan hasil riset Bappenas pada 2012, predikat daerah termiskin di Indonesia masih dipegang oleh Papua. Tingkat kemiskinan di daerah Papua sebesar 31,11 persen. Adapun tingkat kemiskinan nasional saat ini adalah 11,96 persen.

Melihat fakta itu, Melanie tergerak untuk mendirikan Rumah Harapan, sebuah wadah kegiatan sosial untuk mewujudkan keinginan dan memberikan harapan, mulai dari mengabulkan keinginan seorang pasien kritis hingga membantu pendidikan untuk masyarakat di daerah terpencil, salah satunya Papua.

Rumah Harapan turut memberikan pengajaran kepada anak-anak lewat tenaga-tenaga generasi muda yang membaktikan dirinya di Sentani, Papua. Melanie ingin anak-anak di Sentani bisa mendapatkan pelajaran membaca, berlaku untuk segala umur dan dilakukan di mana saja.

“Di Sentani ada lebih dari 50 desa, di pedalaman. Dari total manusia yang ada di sana, termasuk dewasanya, yang bisa membaca itu di bawah 10 orang. How’s that?” tutur Melanie.

Dia menambahkan, umumnya masyarakat Sentani hidup dikelilingi air di kanan-kirinya. Tak heran, para relawan biasanya mengajar di atas perahu, yang biasa disebut khakay, jika tidak hujan. Mengingat lokasinya cukup jauh, para relawan pengajar harus berjalan kaki berkilo-kilo untuk mencapainya.

Namun, bagi Melanie, semua yang dilakukannya itu terbayar begitu melihat tulusnya senyum anak-anak Sentani yang penuh harapan. Kondisi di bawah standar itu membuat anak-anak tersebut merindukan fasilitas layak.

Bantuan untuk Papua

Selain sebagai seorang aktivis, Melanie juga seorang musisi, penyiar, dan aktif menulis. Ia melakukan advokasi, menyebarkan petisi, dan menyuarakan tuntutan, baik di media sosial maupun di jalanan. Tak jarang, ia menggunakan kendaraan pribadi, berjalan kaki, hingga transportasi umum, seperti taksi.

Ia pun secara konsisten menginspirasi publik dengan pesan motivasi dan isu sosial, termasuk untuk membantu Papua.

Kampung di Danau Sentani (KOMPAS.com/Ni Luh Made Pertiwi F).
Kampung di Danau Sentani (KOMPAS.com/Ni Luh Made Pertiwi F).

Melanie menjelaskan bahwa keterbatasan pengajar serta fasilitas menjadi salah satu kendala paling utama saat ini.

Bantuan dana untuk menyediakan fasilitas belajar mengajar diharapkan bisa menjadi harapan untuk menanggulangi permasalahan di sekolah-sekolah perahu di Sentani, yang hampir sebagian besar anak-anaknya tidak bisa membaca dan menulis.

“Menurut saya, yang paling dibutuhkan di sana adalah alat peraga. Alat peraga sekarang sudah jauh lebih canggih dan menyenangkan dibanding saat saya sekolah dulu. Alat peraga, seperti papan tulis, balok, kapur tulis, globe, dan anatomi, itu membuat pelajaran lebih menyenangkan, lebih mudah diserap, dan tidak membosankan. Namun, jumlah alat peraga seperti itu masih sangat kurang, dan mahal,” ujar perempuan yang pernah meraih predikat 10 orang berpengaruh di Twitter ini.

Melanie tidak menutup akses bagi siapa pun yang ingin turut ambil bagian dalam gerakannya, tentu selama itu bertujuan membantu mewujudkan harapannya untuk membuat Indonesia lebih baik lagi.

Beberapa penggemarnya dari berbagai kalangan ikut membantu, termasuk dalam proses pengiriman barang ke Papua. Satu per satu menggunakan keahliannya untuk turut berpartisipasi.

Ada juga yang mengadakan penyuluhan edukasi tentang menyikat gigi yang baik, mengajar, bernyanyi, dan bermain. Beberapa relawan menggunakan jasa taksi saat proses pengumpulan bantuan-bantuan yang akan dikirimkan ke Papua.

Berbagai cara dilakukan agar proses pengiriman bantuan bisa lebih mudah dan cepat sampai ke tujuan.

Melanie sadar, dari berbagai gerakan yang dia lakukan, masih banyak hal yang bisa dikerjakan. Menurut dia, semua itu demi Papua yang penuh harapan.

GrabTaxi mendukung Melanie Subono bagi Rumah Harapan yang saat ini membutuhkan bantuan dana untuk menyediakan fasilitas belajar mengajar di sekolah-sekolah perahu di Sentani, Papua.

Dengan menggunakan kode promo “MELRH” saat menggunakan GrabTaxi, Anda tak hanya akan mendapatkan potongan sebesar Rp 15.000, tetapi juga ikut menyumbang Rp 2.500 untuk Rumah Harapan.

Selain Melanie, masih ada 7 perempuan lainnya yang ikut terlibat dalam kampanye terbaru GrabTaxi ini. Cek di sini untuk mengetahui kisah #WanitaInspiratif selengkapnya. Jangan lupa juga untuk menonton video mereka di sini. Ayo, dukung gerakan sosial mereka!

*********
Penulis : Magdalena Windiana Siahaan
Editor : Latief/Kompas.com