“Panyawah” Garut Hanya Surplus Produksi Belum Konsumsi

0
25 views

Garut News ( Selasa, 24/02 – 2015 ).

Eddy Muharam.
Eddy Muharam.

Sebagian besar kalangan petani sawah atawa “panyawah” di Kabupaten Garut, Jawa Barat, selama ini hanya bisa meraih keberhasilan surplus produksi.

Tetapi mereka masih belum menikmati surplus konsumsi.

Fenomena mengenaskan tersebut, lantaran mereka umumnya terjebak praktek ijon dengan rata-rata kepemilikan sawah hanya 0,2 hektare.

Selain itu, beragam kendala mobilitas pemasaran termasuk relatif rendahnya kemampuan membidik pangsa pasar, menjadikan produk dan produktivitas ini banyak dibeli pedagang pengumpul atawa bandar.

Meski Berstatus Kelurahan, Namun Warga Panawuan Tarogong Kidul Ini Masih Terbelenggu Kondisi Lintasan Jalan Tak Memadai.
Meski Berstatus Kelurahan, Namun Warga Panawuan Tarogong Kidul Ini Masih Terbelenggu Kondisi Lintasan Jalan Tak Memadai.

Demikian di antaranya benang merah dari perbincangan Garut News dengan Kepala Badan Ketahanan Pangan kabupaten setempat, Ir H. Eddy Muharam, M.Si di ruang kerjanya, Selasa (24/02-2015).

Sehingga kata dia, meski hampir setiap tahun produksi beras lokal Garut mengalami surplus, namun banyak dipasarkan ke luar daerah kabupaten.

Sedangkan kalangan petani produsennya, juga banyak mengonsumsi jenis beras dari luar kabupaten Garut, dengan harga lebih murah.

Gemar mengonsumsi beras bernilai lebih murah, sebab kalangan petaninya pun cenderung banyak memanfaatkan penjualan beras produksi sendirinya, untuk memenuhi kebutuhan “konsumtif”.

Sangat Menghambat Mobilitas Pemasaran Hasil Pertanian.
Sangat Menghambat Mobilitas Pemasaran Hasil Pertanian.

Sedangkan masih banyaknya penduduk Garut mengonsumsi “Raskin”, lantaran banyak pula di antaranya yang tak memiliki lahan pertanian, maupun hanya berprofesi sebagai buruh tani.

“Karena yang surplus beras itu daerah, bukan setiap individu penduduk,” ungkap Eddy Muharam.

Dikemukakan, setiap individu memerlukan konsumsi beras sekitar 103,5 kilogram per tahun, maka kebutuhan konsumsi beras di kabupaten ini mencapai sekitar 2,5 ribu ton per tahun, yang sebenarnya bisa dipenuhi dari produk lokal, katanya.

*********

Esay/Foto : John Doddy Hidayat.