Pandawa

by

Putu Setia

@mpujayaprema

Garut News ( Ahad, 20/04 – 2014 ).

Ilustrasi. (Foto : John Doddy Hidayat).
Ilustrasi. (Foto : John Doddy Hidayat).

Pandawa Lima tiba di hutan Kamyaka sebagai orang yang kalah.

Kelima kesatria ini menjalani hukuman pembuangan selama 12 tahun, ditambah “denda” setahun untuk penyamaran.

Hukuman ini sudah disepakati antara Pandawa dan Kurawa setelah pertarungan main dadu yang dahsyat di Kerajaan Hastina.

Epos Mahabharata menuturkan, permainan dadu itu penuh kecurangan ditambah wasit yang memihak salah satu kontestan: Kurawa.

Meski tahu dizalimi, Yudhistira sebagai pemimpin Pandawa tetap meneruskan judi itu.

Ia mempertaruhkan harta benda yang ada.

Kalah.

Lalu, ketika harta benda ludes, ia mempertaruhkan istrinya, Drupadi.

Semua orang tercengang dan berdebar.

Ternyata juga kalah.

Akhirnya Kurawa yang dipimpin Duryudana melucuti seluruh pakaian Pandawa.

Drupadi pun ditelanjangi oleh Dursasana, meski ada kekuatan Maha Tinggi yang menolong wanita yang tak tahu dirinya dijadikan taruhan.

Kain yang dipakai Drupadi tak ada habis-habisnya sampai Dursasana lelah.

Kini, di hutan Kamyaka, Pandawa menjadikan kekalahan itu untuk suatu perenungan panjang tentang arti kehidupan.

Yudhistira sangat menghargai kekalahan itu.

Dia meminta adik-adiknya menghormati kekalahan.

Jangan melawan, jangan melakukan protes.

Apalagi pembangkangan atau merusak aset kerajaan.

Kalah dan menang adalah akhir sebuah babak perjuangan, tapi perjuangan itu tak ada habisnya.

Apa yang dilakukan di hutan?

Introspeksi.

Yudhistira bersama adik-adiknya melakukan perenungan dengan bimbingan para Bhagawan.

Bhagawan Sonaka, Bhagawan Domya, dan Bhagawan Byasa mengajari Pandawa tentang “ilmu kebenaran”-bahasa sekarang: berpolitik yang santun.

Bhagawan Waka bahkan menasihati Yudhistira agar mempelajari etika kebrahmanaan (menjadi negarawan), bukan hanya dunia kesatria (politikus).

Suatu kali, entah menguji atau memprovokasi, Drupadi meminta Yudhistira dan adik-adiknya pulang ke Hastina dan berperang melawan Kurawa.

“Marah sebagai salah satu sifat manusia, haruslah disalurkan jika ada ketidakadilan,” ujar Drupadi.

Apa jawaban Yudhistira?

“Kemarahan harus ditahan karena itu pangkal kemalangan.”

Drupadi dalam kesempatan lain mengeluh: “Kanda sudah banyak berbuat kebajikan selama di kerajaan, tetapi kenapa nasib kita begini?”

Yudhistira menjawab: “Berbuat kebajikan adalah kewajiban. Tetapi orang yang berbuat kebajikan dengan mengharapkan hasil itu namanya pedagang kebajikan.”

Drupadi berkata lagi: “Nasib manusia tak akan berubah jika manusia tak mengubah sendiri nasibnya.”

Bima yang mendengar ini sependapat: “Perang adalah kebajikan bagi seorang kesatria dan musuh harus kita perangi.”

Bima setuju untuk pulang dan berperang.

Tapi Yudhistira menjawab: “Kita harus taat menjalani hukuman ini karena sudah disepakati lewat perjanjian. Kita harus hargai kekalahan itu, harus dihargai perjanjian itu, dan harus dihargai pembuangan ini. Kesatria sejati bukan saja harus mengalahkan musuh-musuhnya yang ada di luar, tetapi wajib membasmi musuh-musuhnya di dalam hati.”

Perdebatan mereda, dan Pandawa siap belajar menghargai kekalahan.

Pembaca Mahabharata tahu pasti, Pandawa akhirnya selamat dari pembuangan dan kembali ke istana dengan kemenangan.

Para pemimpin partai dan utamanya calon anggota legislatif yang kalah dalam pemilu sebaiknya meniru Pandawa, menerima kekalahan dalam “judi politik” yang mungkin banyak kecurangan ini, lalu introspeksi.

Sebuah sikap yang terhormat dibanding ngeyel atau menarik sumbangan yang sudah diberikan, yang justru akan menambah stres dan masuk rumah sakit jiwa.

******

Tempo.co