Palestina, Jokowi, dan PKS

0
8 views

– Arfanda, Pengamat Politik dan Gerakan Islam

Jakarta, Garut News ( Senin, 27/04 – 2015 ).

Ilustrasi. Palestina Bantu Korban Gempa Cikelet Garut 2009. (Foto/Naskah John Doddy Hidayat).
Ilustrasi. Palestina Bantu Korban Gempa Cikelet Garut 2009. (Foto/Naskah John Doddy Hidayat).

Kita menganggap kemerdekaan Palestina adalah utang kita sebagai bangsa Asia dan Afrika, itu (sudah) dikatakan Presiden Sukarno dulu, dan Presiden Jokowi dua hari lalu (Fahri Hamzah).

Tak biasanya Fahri Hamzah dari Partai Keadilan dan Kesejahteraan (PKS) memuji Presiden Republik Indonesia Joko Widodo (Jokowi). Biasanya, anggota DPR dari Fraksi PKS tersebut paling getol menyindir-nyindir kepemimpinan Jokowi.

Beliau pernah mengatakan Jokowi juara dunia maya, menyebut “kartu sakti” presiden ilegal, mengatakan kiprah Jokowi selama menjadi presiden penuh kontroversi, dan yang paling parah (maaf) pernah menudingnya sinting.

Bukan hanya Fahri Hamzah yang kerap menuding miring sang Presiden. Sejak PKS memutuskan bergabung dengan Koalisi Merah Putih, yang menyorongkan Prabowo sebagai capres, seluruh kader PKS beranggapan Jokowi sebagai musuh bersama.

Sindiran, kecaman, bahkan fitnah, kerap disuarakan oleh kader PKS sebagai demarketing politik.

Padahal berbagai tudingan negatif tersebut sama sekali tak terbukti. Apalagi pada 2010, PKS turut menjadi salah satu gerbong pendukung Jokowi dan F.X. Rudi pada pemilihan Wali Kota Solo.

Perkongsian tersebut pecah manakala Jokowi mencalonkan diri sebagai calon Gubernur Jakarta dan calon presiden pada pilpres lalu. Sedangkan PKS mencalonkan Hidayat Nur Wahid sebagai cagub dan mencalonkan Prabowo sebagai capres.

Perbedaan pilihan politik tersebutlah yang memantik keretakan hubungan mereka. Sekali lagi, adagium populer “tiada musuh atau teman yang abadi dalam politik, kecuali kepentingan” terbukti.

Peringatan 60 Tahun Konferensi Asia-Afrika (KAA), yang baru berakhir, menjadi momentum menjalin lagi kemesraan Jokowi dengan PKS. Keduanya berpandangan sama melihat nasib Palestina. Pidato Jokowi di depan forum Peringatan KAA sangat jelas menuntut kemerdekaan Palestina.

Dalam forum tersebut, beliau mengingatkan kembali janji “Semangat Bandung” yang menuntut kemerdekaan bagi semua bangsa di Asia dan Afrika, tanpa terkecuali Palestina.

“Sebagai negara demokrasi terbesar, Indonesia siap memainkan peran global. Indonesia siap bekerja sama dengan semua pihak demi kemerdekaan Palestina,” kata Jokowi yang disambut aplaus peserta KAA.

Selama ini kita pun tahu konsistensi PKS dalam membantu perjuangan Palestina. Gerakan turun ke jalan memprotes kekejaman Zionis, pembangunan rumah sakit di Gaza, dan gerakan “One Man One Dollar” menjadi kerja besarnya mencari solusi masalah Palestina.

Lalu, mengapa kesamaan pandangan tersebut membuat keduanya tak kunjung bertemu di meja makan untuk merajut rencana memerdekakan Palestina?

Juga sekaligus memerdekakan negeri ini dari segudang persoalan yang tak kunjung selesai dari satu presiden ke presiden lainnya, seperti gurita kemiskinan, tumpukan utang luar negeri, penjajahan barang impor, depresiasi rupiah, dan krisis energi.

Demi cita-cita yang sama, tak ada kata terlambat untuk bersatu. Awal dari persatuan adalah kesamaan visi. Sejarah telah membuktikan bahwa kemerdekaan Indonesia berawal dari visi yang sama, yaitu melepaskan Indonesia dari penjajahan.

Sekaranglah saatnya, Fahri Hamzah menjadi motor persatuan yang pernah kuat antara PKS dan Jokowi. Kalau berkeinginan membantu Palestina, mengapa berjuang sendiri-sendiri? 

********

Kolom/Artikel Tempo.co

SHARE
Previous articleSutan Takdir dan Politik Kita
Next articlePelacur