Pakenjeng Terindikasi Cetak Sarjana Bodong Berijazah Abal-abal

0
17 views

Esay/Ilustrasi Fotografer : John Doddy Hidayat/Muhammas Erwin Ramadhan.

Kamis (01/10 – 2015 ).

aa10Salah Satu Sekolah Tinggi Agama Islam dari Jakarta dengan ragam jurusan strata satu (S1), yang dikoordinir oleh seseorang di wilayah Kecamatan Pakenjeng, Garut, Jawa Barat, kini terindikasi gencar memproses ijazah di antaranya seorang jurusan Managemen IPS.

Padahal antara lain seorang calon penerima gelar sarjana tersebut, juga terindikasi tak aktip mengikuti perkuliahan atawa hanya mengikuti beberapa pertemuan, tetapi bisa diikutsertakan mengikuti prosesi wisuda sarjana.

Dalam pada itu kelulusan dan pemberian gelar tanpa melalui perkuliahan dan pengujian yang memadai jelas merupakan penipuan.

Sehingga bisa berimplikasi gawat: kerusakan sosial yang luas. Selain mengelabui para wisudawan, mereka menghina publik dan dunia pendidikan yang menjunjung tinggi kejujuran.

Masyarakat pun bisa tertipu embel-embel gelar yang disandang para “lulusan” lantaran tak disertai kompetensi atau kapasitas akademis yang layak.

Wisuda akal-akalan yang dilakukan mengingatkan kita akan obral gelar sarjana, master, bahkan doktoral

Ilustrasi Muhammad Erwin Ramadhan.
Ilustrasi Muhammad Erwin Ramadhan.

Kasus yang terus berulang dengan beragam modus ini menunjukkan lemahnya pengawasan terhadap tata kelola pendidikan. Kementerian Pendidikan Tinggi maupun Disdik kabupaten setempat harus mengevaluasi diri: mengapa mereka selalu kebobolan dan terlambat dalam mendeteksi atau mengambil tindakan atas masalah ini.

Para pengawas yang tak becus bekerja sebaiknya digeser. Mereka yang terbukti ikut bermain memuluskan tipu muslihat dan manipulasi pendidikan itu patut dipecat.

Aparat, baik pengawas di kementerian maupun polisi, juga gagal memberi efek jera terhadap para penyelenggara pendidikan yang melawan hukum. Mereka pun akhirnya berani mengulangi praktek tersebut. Patutlah dipertanyakan kepada Kementerian Pendidikan Tinggi dan Kepolisian RI: mengapa kasus obral gelar yang sebelumnya mencuat belum juga tuntas dibereskan?

Layak pula kita menagih kepada Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara: sampai di mana pengecekan ulang atas gelar akademis yang dipakai para pegawai negeri selama ini sebagai prasyarat naik pangkat?

Minat yang tak pernah surut terhadap tawaran jual-beli titel atau ijazah palsu juga membuktikan betapa masyarakat salah kaprah dalam memandang pendidikan. Nafsu untuk selalu mengambil jalan pintas yang tak pantas ini kudu diredam.

Bukan waktunya lagi menggunakan gelar sebagai satu-satunya patokan dalam menyeleksi atau menentukan posisi pegawai negeri.

Titel kesarjanaan hanya boleh dianggap valid setelah melacak riwayat pendidikan dan kompetensi akademisnya. Tanpa hal itu, doktor sekalipun tak ada artinya.

Dari Garut juga dilaporkan, tak kalah gawatnya dengan indikasi praktek pemberian gelar sarjana bodong, juga terdapat transaksi jual beli minuman keras pada salah satu kios tak jauh dari markas aparat penegak hukum.

Bahkan pada seputar pelataran depan kios penjual miras tersebut, kerap banyak berkumpul atawa kongkow-kongkow kalangan pelajar maupun remaja.

Mengingatkan selama ini belasan hingga puluhan penduduk Garut, tewas mengenaskan akibat menenggak miras oplosan.

********

SHARE
Previous articlePancasila Itu…
Next articlePulihkan Eksistensi DPD