Pada Pengecer Harga Telur Tembus Rp32 Ribu/kg

0
184 views

“Setiap Bulan Garut Pasok Blitar Rp15 Miliar”

Esay/Fotografer : John Doddy Hidayat

Garut News ( Selasa, 29/12 – 2015 ).

H. Dayat Disampingi Akhmad Wahyudin Beserta Staf Telisik Evaluasi Perkembangan Harga.
H. Dayat Disampingi Akhmad Wahyudin Beserta Staf Detail Telisik Evaluasi Perkembangan Harga.

Harga telur “ayam bukan ras” atawa buras, pada tingkat pengecer maupun di warung-warung pemukiman penduduk Kota Garut, Jawa Barat, kini menembus harga Rp32 ribu per kilogram.

Lantaran nyaris setiap pembeli, membeli seperempat kilogram dengan harga Rp8 ribu. Itu pun banyak warung mengaku hari ini cukup kesulitan bisa mendapatkan jenis komoditi tersebut.

Demikian antara lain dikemukakan sejumlah pemilik warung di wilayah Kecamatan Tarogong Kidul termasuk Ny. Saodah kepada Garut News, Selasa (29/12-2015), juga mengaku konsumen bisa memaklumi harga telur capai Rp32 ribu/kg, meski diakuinya pula cukup mencekik leher.

Sedangkan Ny. Saodah berbelanja telurnya kepada sesama pemilik warung di lingkungannya pula, katanya.

Kepala UPTD Pasar pada Disperindag kabupaten setempat H. Dayat, S.Sos didampingi Kepala Subag Tata Usaha Akhmad Wahyudin, SE katakan, memang harga sayuran saat ini mengalami peningkatan capai 40 persen.

Endog.
Endog.

Tetapi harga telur ayam buras di Pasar Ciawitali Guntur Rp23 ribu per kilogram dari semula Rp18 ribu per kilogram, sedangkan harga daging ayam buras menjadi Rp35 ribu per kilogram, padahal semula bisa diperoleh dengan harga Rp27 ribu per kilogram.

Disusul harga cabe merah gepeng, kini menjadi Rp60 ribu per kilogram dari semula Rp48 ribu per kilogram, kemudian buncis Rp12 ribu per kilogram dari semula Rp4 ribu per kilogram.

Selanjutnya harga wortol Rp12 ribu per kilogram dari semula Rp8 ribu per kilogram.

Kenaikan harga sayuran tersebut, selain terpengaruh kondisi iklim selama ini, juga dikarenakan banyak penduduk menggelar hajatan atawa pesta pernikahan, pada Maulud ini, katanya.

“Setiap Bulan Garut Pasok Blitar Rp15 Miliar”

Produk Tim Liputan Lapangan Garut News juga menunjukan, sedikitnya mencapai Rp15 miliar peredaran uang di Blitar Jawa Timur dipasok dari Kabupaten Garut, guna memenuhi kebutuhan sekitar 700 ton komoditi telur ayam buras, yang tak sepenuhnya bisa dipenuhi produk lokal.

Sebab produktivitas para peternak ayam petelur di Kabupaten Garut, kerap tersumbat mahalnya harga jagung pipilan pencampur konsentrat pakan ternak tersebut.

Keluhan berat itu, selama ini acap dikemukakan sejumlah peternak ayam petelur kabupaten setempat.

Buncis.
Buncis.

Kebutuhan 700 ton mata dagangan itu saban bulan. Dipastikan meningkat menghadapi Perayaan Natal dan Tahun Baru.

Kemudian terjadinya peningkatan harga jagung pipilan karena pernah dihentikan kegiatan import-nya, kini dampaknya masih terasa meski keran import kembali dibuka, sebab tak serta merta harga kembali menurun.

Padahal kebutuhan Garut capai 800 ton jagung pipilan setiap bulan, tetapi ternyata tak sepenuhnya bisa dipenuhi dari produk lokal atawa dalam negeri, yang katanya “surplus”.

Sedangkan di Blitar maupun Jawa Tengah, selama ini merupakan sentra produksi pecampur pakan ini, sehingga kebutuhan jagung pipilan bisa memadai terpenuhi.

Harga jagung pipilan menjadi Rp5 ribu per kilogram dari semula Rp2.970 per kilogram, sehingga biaya pakan menjadi Rp6.500 per kilogram setelah dicampur konsentrat, dinilai memberatkan, dari sebelumnya berkisar Rp5.300 hingga Rp5.400 per kilogram.

Kini pada delapan bandar peternak ayam petelur Garut, saban bulannya hanya bisa memproduk 37 ton, dari kebutuhan konsumen Garut mencapai sekitar 700 ton, maka kekurangannya didatangkan dari Blitar.

Menembus Harga Rp32 ribu per kilogram.
Menembus Harga Rp32 ribu per kilogram.

Dengan harga grosir telur Rp19.500 per kilogram, kemudian dijual oleh pengecer pada kisaran harga Rp21 ribu hingga Rp22 ribu per kilogram bahkan bisa lebih.

Karena itu, sangat diharapkan sentra produksi jagung pipilan di Banyuresmi dan Pameungpeuk bisa ditingkatkan produktivitasnya, yang hanya mampu memproduk 200 ton, dinilai patut mendapat bantuan peran serta Pemkab setempat, agar harganya pun tak dimainkan kalangan tengkulak.

Pemkab serta DPRD juga hendaknya bisa turun langsung ke pasar, menelisik penyebab sekaligus mencarikan solusi terjadinya kesenjangan kebutuhan konsumen dengan ketersediaan produk lokal, sekaligus pula mencari solusi pemenuhan kebutuhan 50 persen pakan ternak bersumber dari jagung pipilan.

Dalam pada itu, kebutuhan konsumen terhadap telur burung puyuh setiap bulannya mencapai 20 ton.

Ironisnya pula, lembaga perbankan selama ini hanya bisa memasok bantuan permodalan pada para pengusaha yang sudah jalan, atawa sudah jadi.

Perbankan, umumnya tak sudi memberikan bantuan pada pengusaha sejak dari embrio.

Sumber lain katakan, merebak-maraknya praktek bank keliling seperti Kosiva, apakah sebagai malaikat penolong atawa syetan….?

Menyusul praktek rentenir tak memiliki investor seperti lembaga perbankan, meski sama-sama menerapkan suku bunga, perbankan juga cenderung bersembunyi dibalik legalitas dari pemerintah.

Tetapi perbankan tak mau melirik desakan kebutuhan modal usaha penjual karedok atawa lotek, karena memerlukan agunan.

Sedangkan persyaratan mendapat pinjaman dari bank keliling tak seketat lembaga perbankan, karena itu bank keliling pun patut dibina dan diadvokasi pemerintah agar bunganya tak memberatkan konsumen, ungkap sumber yang enggan disebut namanya itu.

********

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here