Pabrik Gula

by

– Khudori, anggota Pokja Ahli Dewan Ketahanan Pangan Pusat (2010–sekarang).

Jakarta, Garut News ( Jum’at, 03/10 ).

Ilustrasi. (Foto : Jdh).
Ilustrasi. (Foto : Ist).

Dari sejarah terbaca tak ada kegiatan ekonomi di Indonesia yang lebih advance daripada industri pergulaan.

Jejak-jejaknya mudah ditemukan: pabrik gula (PG) BUMN di Jawa yang dikelola PT PN IX–XI dan PT RNI dan pusat riset gula yang dulu termasyhur, P3GI di Pasuruan.

PG-PG ini dibangun pada era kolonialisme Belanda abad ke-18.

Di masa itu, dengan meningkatkan kualitas produk dan produktivitas perusahaan, konsolidasi perusahaan, mendirikan lembaga riset, serta peningkatan produktivitas kebun, industri pergulaan di Jawa berubah secara radikal: dari tidak efisien menjadi yang terefisien di dunia hingga mengalahkan industri gula Eropa.

Secara ekonomi, industri ini memberi kemakmuran luar biasa kepada Belanda. Pada periode 1860–1865, 56,8 persen pendapatan nasional Belanda ditopang oleh industri gula.

Pada 1930, Hindia Belanda menjadi eksportir gula terbesar kedua di dunia. Industri gula telah menjadi “gabus tempat mengapung Holland”.

Satu abad berlalu, kini Indonesia menjadi importir gula terbesar kedua setelah Rusia. Penurunan kinerja ini tidak terjadi tiba-tiba, melainkan merupakan hasil pergulatan ekonomi-politik puluhan tahun.

Kemerosotan terjadi karena miskin inovasi, PG absolete, tua, dan kapasitas giling kecil (di bawah 3.000 ton tebu per hari).

Saat ini jumlah PG 59 buah, 68 persen di antaranya berusia di atas 90 tahun dan 80 persen terdapat di Jawa.

Akibat mesin tua, kinerja PG, terutama PG BUMN, tak maksimal.

Selain itu, berbeda dengan PG swasta, PG-PG BUMN yang sebagian besar berada di Jawa tidak memiliki lahan sendiri.

Pasokan tebu PG sepenuhnya bergantung pada lahan petani. Padahal, kondisi petani cukup beragam dalam hal kemampuan finansial maupun penguasaan teknis budi daya tebu.

Manajemen di lahan yang terpisah dari manajemen giling (PG) ini membuat PG tidak mudah mengintegrasikan kegiatan tanam, tebang, angkut, dan giling.

Munculnya masalah di satu titik akan berdampak panjang bagi titik-titik berikutnya. Hadirnya gula rafinasi yang tak terkendali membuat aneka masalah gula kian kusut.

Aneka masalah ini membuat PG kita tidak kompetitif. Ini salah satu alasan PT RNI hendak menutup dua PG-nya.

Di negara produsen dan eksportir gula utama, seperti Brasil, Australia, dan Thailand, biaya pokok produksi gula hanya sekitar 50–80 persen dibanding biaya gula kita.

Budi daya tebu dilakukan secara mekanis dan prosesnya semi-otomatis di pabrik. Alokasi biaya tenaga kerja relatif kecil.

Kapasitas giling PG besar rata-rata 10–15 ribu ton tebu per hari. PG amat efisien (Toharisman, 2014).

PG tidak hanya menghasilkan gula seperti di Indonesia, tapi juga produk turunan lain yang bernilai ekonomi tinggi, seperti etanol, listrik, dan kertas.

Tebu sebenarnya bisa disulap menjadi puluhan produk turunan bernilai tinggi.

Untuk meningkatkan daya saing PG, sejumlah langkah simultan harus dilakukan. Pertama, PG-PG kecil bisa diamalgamasi atau dikonsoliasi menjadi sebuah PG besar, sehingga biaya produksi gula dan produk hilir lainnya bisa lebih ekonomis.

Kedua, produktivitas gula ditingkatkan dengan perbaikan varietas tebu dan kultur teknis. Ketiga, kehilangan gula selama perjalanan dari kebun ke PG ditekan seminimal mungkin.

Keempat, kalau memungkinkan, menyatukan kembali manajemen di lahan dan giling.

Kelima, orientasi produksi bukan hanya gula, tapi juga diperluas ke produk turunan lainnya.

*******

Kolom/Artikel : Tempo.co