P-3 Orion, Pesawat Canggih Pelacak Malaysia Airlines MH370

Garut News ( Sabtu, 22/03 – 2014 ).

AP-3C Orion.(Getty Images).
AP-3C Orion.(Getty Images).

Pencarian pesawat Malaysia Airlines MH370, selain menyuguhkan banyak spekulasi, ketidakpastian, dan sisi menyedihkan, juga menunjukkan sisi lain mengagumkan.

Banyak bangsa membantu pihak Malaysia mencari pesawat hilang sejak Sabtu (8/03-2014) lalu.

Mereka mengerahkan teknologi-teknologi tercanggih dimiliki.

Salah satu teknologi canggih patut disorot, pesawat AP-3C Orion milik Angkatan Udara Australia (RAAF).

AP-3C Orion dikerahkan mengonfirmasi obyek diduga puing pesawat Malaysia Airlines MH370 pada citra dirilis Pemerintah Australia, Kamis (20/03-2014).

Seperti apa AP-3C Orion itu?

Apa kecanggihan dimiliki sehingga diandalkan menguak salah satu teka-teki pesawat hilang paling besar ini?

AP-3C Orion sebenarnya keluarga pesawat P-3 Orion.

Pesawat itu diproduksi salah satu industri pesawat terkemuka, Lockeed-Martin.

Kini, ada 17 negara memiliki pesawat P-3 Orion.

Selain Australia, negara lain memiliki pesawat tersebut antara lain Kanada, Jepang, Inggris, Pakistan, dan tentu saja Amerika Serikat.

P-3 Orion dikembangkan sejak 1950-an.

Pesawat ini modifikasi pesawat penerbangan sipil diproduksi Lockeed Martin, Electra.

P-3 Orion awalnya dikembangkan kepentingan Angkatan Laut Amerika Serikat (US Navy).

Tujuan pengembangannya melakukan patroli laut, dan memantau keberadaan kapal selam.

Prototipe dari pesawat P-3 Orion disebut YP3V-1 dengan nomor seri 148276.

Pesawat itu terbang perdana 25 November 1959.

US Navy memesan 157 unit pesawat canggih ini.

Generasi pertama dari P-3 Orion digunakan US Navy disebut P-3A Orion.

Getty Images Kapetn Russel Adams, pilot AP-3C Orion milik Angkatan Udara Australia dalam pencarian Malaysia Airlines MH370. (Getty Images).
Getty Images Kapetn Russel Adams, pilot AP-3C Orion milik Angkatan Udara Australia dalam pencarian Malaysia Airlines MH370. (Getty Images).

Sebagai pesawat militer, P-3 Orion tentu beda dengan Electra.

Perbedaan utamanya adanya perangkat deteksi anomali magnetik (MAD) mengetahui adanya kapal selam.

Keunggulan P-3 Orion kemampuannya terbang rendah jangka waktu lama sehingga sangat bermanfaat bagi patroli maritim.

Seiring waktu, banyak negara kemudian meminati pesawat ini untuk kebutuhan militer maupun risetnya.

Pengembangan juga dilakukan seiring kemajuan teknologi penerbangan.

Kini, ada banyak jenis pesawat P-3 Orion.

Generasi P-3A mulai digunakan 1962.

P-3 Orion generasi ini dilengkapi sensor elektronik, terpedo, dan sonobuoy.

Operasi dengan P-3A berlangsung selama 8-10 jam.

P-3A Orion bisa memuat 11 kru.

Ada tiga pilot, dua insinyur penerbangan, operator radio, teknisi, empat operator sensor, koordinator taktis, dan navigator.

Pada 1964, Lockeed-Martin kemudian mengembangkan P-3B digunakan pertama kali Selandia Baru.

Beberapa pengembangannya antara lain tak adanya injeksi air, dan kapasitas menembakkan Bullpup.

Pada tipe P-3B, jumlah kru dipangkas.

Satu operator sendor dihilangkan.

Pada 1968 kemudian muncul P-3C Orion.

Generasi ini dilengkapi radar terbaru, low light television (LLTV), dan sistem deteksi inframerah (IRDS).

Pengembangan paling canggih pada P-3C  sistem sensor dan taktis terintegrasi Univac CP-901 Digital Computer.

Banyak jenis P-3 Orion kemudian muncul lantaran modifikasi memenuhi kebutuhan masing-masing negara atawa lembaga menggunakannya.

Contohnya, pesawat WP-3D dimodifikasi memenuhi kebutuhan Badan Administrasi Kelautan dan Atmosfer Amerika Serikat (NOAA) guna memantau cuaca dan badai.

Pesawat milik RAAF digunakan melacak puing MH370 sendiri adalah AP-3C Orion, digunakan sejak 2002.

AP-3C Orion melacak Malaysia Airlines MH370 mengandalkan instrumen MAD-nya bisa mendeteksi adanya benda logam besar hingga kedalaman 150 meter.

Dengan kemampuan AP-3C Orion, jika memang MH370 mengapung di Samudera Hindia, menemukannya bukanlah hal sulit.

Sebagai pesawat puluhan tahun “mengabdi”, P-3 Orion memenuhi kebutuhan banyak negara di banyak misi.

Tahun 1990 misalnya, saat perang Irak, Amerika Serikat menggunakan pesawat ini melacak kapal Irak menyeberang dari Basra dan Umm Qasar.

P-3 Orion juga digunakan dalam pemantauan selama serangan Amerika Serikat ke Libya.

Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) juga menggunakan pesawat ini untuk riset.

Pencarian MH370 dengan AP-3C Orion memakan biaya tak sedikit.

Berdasar data pemerintah Selandia Baru dirilis 2000, tahun 1990-an saja, biaya operasional P-3 Orion mencapai 8.000 dollar AS per jam.

Secanggih apa pun P-3 Orion, ada saatnya perannya bakal tergantikan.

US Navy pada 2019 akan mengganti P-3 Orion dimilikinya dengan Poseidon 8 produksi Boeing.

Sementara itu, di militer Amerika Serikat, perannya bakal tergeser, tak berarti kudu mengucapkan selamat tinggal pada pesawat hebat ini.

Banyak bangsa masih menggunakannya


Penulis : Yunanto Wiji Utomo
Editor : Yunanto Wiji Utomo/Kompas.com

 

Related posts

Leave a Comment