Orloj

0
44 views
Ilustrasi.

Fotografer : John Doddy Hidayat

Garut News ( Ahad, 31/07 – 2016 ).

Ilustrasi.
Ilustrasi.

JAM besar berumur 600 tahun di Kota Praha itu berubah, dalam sejarahnya, jadi rasa waswas akan sesuatu yang disebut “Turki”. Terpasang di menara pada dinding selatan balai kota Kota Tua di Starom st­, tanda waktu itu, Orloj, disusun dengan sederet simbol yang berpesan.

Di kiri-kanan lingkaran jam, tampak empat patung kecil dari kayu. Ada sebuah rangka manusia. Ia separuh berjubah dan memegang sebuah kotak panjang di tangan kiri; di dalamnya tampak gelas waktu. Di tangan kanannya sebuah lonceng. Di tiap jam, sang tengkorak menggoyangkan lonceng itu dengan keloneng yang nyaring. Ia lambang Maut.

Tiga yang lain berwajah manusia. Sosok pertama membawa cermin–lambang watak genit yang sibuk mempercantik diri. Sosok kedua membawa kantong uang–lambang sifat rakus dan bakhil. Sosok ketiga seseorang yang membawa alat musik dengan dawai–lambang kesenangan kepada kemewahan dan kenikmatan jasmani.

Ilustrasi.
Ilustrasi.

Si Genit, Si Bakhil, dan Si Mewah menggelengkan kepala tiap kali lonceng Maut berbunyi: mereka tak mau menerima bahwa hidup ini fana….

Agama, rasa cemas, dan purbasangkanya mendekam awet di jam tua itu. Tanda waktu itu adalah bagian sejarah agama dalam masa yang sengit. Di bagian atas menara, ada dua tingkap kecil. Tiap kali Maut mengguncangkan lonceng, kedua jendela itu terbuka.

Di ambangnya akan tampak para rasul, murid-murid Yesus yang awal, tampil berurutan, seakan-akan menengok dari langit. Mereka tampak menilai apa yang terjadi di bawah, di bumi yang alpa dan penuh kontradiksi–dunia yang tak sepenuhnya positif, tak sepenuhnya Kristen.

Patung Si Bakhil berhidung bengkok: ia “Yahudi”. Dua dari patung kecil itu, Si Genit dan Si Mewah, memakai sorban. Mereka “Turki”.

Di lingkar wajah jam yang kedua, yang di bawah, ada juga dua boneka kayu yang “Turki”. Tapi di sini orang-orang bersorban itu tak menggambarkan kemewahan. Yang di sebelah kiri: “filosof”, memegang buku. Yang di sebelah kanan: pakar astronomi, memegang teleskop.

Mereka tak dibiarkan sendiri. Di dekatnya ada sosok Malaikat Mikail, dengan pedang terhunus dan tongkat yang menunjuk ke waktu yang bergerak.

Bekas-bekas ketegangan antara iman dan ilmu terasa di Orloj. Para pembangun tanda waktu itu tampak hendak menegaskan bahwa ilmu tak bisa berdiri sendiri, tak akan sanggup menampik datangnya Hari Kiamat. Apalagi sejak beberapa abad sebelumnya mereka berasal dari sumber-sumber bukan-Nasrani: dari dunia ilmu dan pemikiran Islam, yang di patung-patung kecil itu dipersonifikasikan sebagai “Turki”.

Tapi “Turki” di sini tak harus identik dengan “Islam”. Di zaman ketika patung-patung itu dibuat, Eropa masih merasa asing dengan keduanya. Di Orloj, “Turki” pada dasarnya “mereka”, “yang bukan-kita”.

Dalam Early Orientalism: Imagined Islam and the Notion of Sublime Power (2014), Ivan Kalmar menafsirkan konfigurasi patung-patung dalam Orloj dari sejarah pergulatan sengit dan berdarah antara Gereja Katolik dan Protestan.

Praha berada di pusat konflik itu; kota ini di bawah kekuasaan Katolik. Pada 1620, kaum Katolik menang penuh dalam pertempuran di Pegunungan Putih. Praha dibangun kembali. Gedung-gedung berubah; arsitektur gothik dan gaya zaman Pencerahan diganti dengan bangunan barok.

Beberapa tahun berikutnya, di jam tua di Starom st dipasang patung-patung “Turki” itu. Ada niat menunjukkan–terutama kepada kaum Protestan–bahwa di luar Gereja Katolik, dunia tak akan dapat mencapai kebaikan dan kebenaran.

Ada kehendak menegaskan bahwa Reformasi yang dibawakan Luther dan Calvin menyesatkan, karena akibat pembangkangan mereka, manusia meyakini sebaliknya.

Orloj tampaknya hendak mendahului apa yang dua abad kemudian dikemukakan Hegel: Reformasi, lahirnya Protestantisme, mengguncang supremasi Gereja Katolik, dan sejak itu timbul kesadaran bahwa kekuasaan sekuler juga bisa memberikan dunia yang baik.

Yang terjadi di Praha, sebuah kemenangan politik Kontra-Reformasi, adalah kehendak meneguhkan kembali agama di atas apa yang disebut Hegel das Weltliche, yang “duniawi”.

Tapi mampukah agama? Dari bagian atas menara Orloj, para rasul yang sudah di langit menengok ke bawah. Tapi dari sana tak ada kuasa yang mengendalikan apa yang oleh Gereja disebut “bakhil”, “genit”, “mewah”, apalagi membimbing filsafat dan ilmu.

Pundi-pundi uang, cermin, dan alat musik–juga buku dan teleskop–ternyata punya energi sendiri. Mereka mampu menggagalkan purbasangka dan kecemasan agama.

Akhirnya, segala yang “Turki”, alias iman dan buah kebudayaan lain, hanya bisa dicurigai–atau dikarikaturkan dengan patung-patung kecil.

Jam yang menakjubkan itu pada gilirannya hanya jadi hiasan Praha. Di Lapangan Kota Tua itu, ketika Sang Maut membunyikan lonceng, akan kita lihat para turis bertepuk.

*********
Goenawan Mohamad/Tempo.co

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here