Orangtua Santri Kuttab Yadul ‘Ulya Juga Dalami Ilmu Agama

0
33 views
Pengajian Rutin Orangtua Kutab Yadul 'Ulya.
Menjadi Agenda Rutin Bulanan yang Sarat Makna.

“Memotivasi Tingkatkan Kualitas Penyempurnakan Hapalan Al Qur’an”

Garut News ( Sabtu, 05/10 – 2019 ).

Para orangtua santri Kuttab Yadul ‘Ulya juga ikut serta mendalami ilmu Agama Islam, yang diselenggarakan melalui kemasan pengajian rutin setiap bulan pada Ponpes Modern Digital di Kampung Panawuan Kelurahan Sukajaya Tarogong Kidul Garut, Jawa Barat, tersebut.

Sehingga kajian pada setiap pengajian rutin bulanan itu, dipastikan bisa sekaligus memotivasi peningkatan kualitas penyempurnakan hapalan Al Qur’an putra-putri mereka berusia pembelajaran sejak dini lima atau enam tahun.

Pengajian rutin para orangtua pun, dapat mendorong tingginya semangat anak-anak belajar membaca, menulis, menghapal Al Qur’an, ilmu dasar agama dan berhitung dasar.

Dihadiri Pula Oleh Ema-Ema.

“Bahkan hingga jenjang anak-anak dan remaja belajar ilmu bahasa dan adab, serta memelajari ilmu-ilmu agama, hadits dan beragam ilmu lainnya dengan menumbuhkan penguatan untuk senantiasa belajar Al Qur’an,” ungkap Pimpinan Ponpes ini M. Angga Tirta.

Sedangkan pada helatan pengajian rutin orangtua, di antaranya membahas kajian  jangan sekalipun terjebak pujian, melainkan hendaknya senantiasa bisa  ‘bertafakur’  bahwa segala puja dan puji hanya kepada Allah SWT.

“Lantaran adanya pujian kepada setiap individu manusia, boleh jadi karena yang memujinya tak mengetahui aib dimiliki manusia dipujinya, atau Allah SWT masih menutupi aibnya,” ungkap Ust. Dadan Suryana.

Kuttab Yadul ‘Ulya.

Kabid Hisbah DPW FPI Garut tersebut, mengingatkan hal itu dalam rangkaian membedah salah satu kajian Ilmu Tasawwuf, akhir Januari 2019 silam.

Upaya guna mendapatkan rahmat dan ridha Allah SWT, selain memerlukan perjuangan dapat selalu mendekatkan diri kepada Nya, juga tak mustahil mengalami jatuh bangun menggeliat menjauh dalam kubangan kemaksiatan.

Namun janganlah berputus asa, tetapi tetap optimis bisa segera kembali bangun menempuh jalan yang lurus menuju Allah SWT, meski bukanlah berarti Allah SWT jauh dari kita.

Kita bisa menunaikan ibadah jangan lantas gencar menuntut imbalan. Sebab bisanya kita merasa nikmat melaksanakan ibadah itu lantaran adanya lindungan serta pertolongan Allah SWT pula.

Bukit Kuttab Yadul ‘Ulya.

Disampaikan pula mengenai makna dan manfaat mengucapkan Basmallah, serta sekilas diungkapkan makna ungkapan Alhamdullillah.

Buya Hamka, sosok ulama berupaya menjelaskan makna kaya yang sejati dalam bukunya “Tasawuf Modern”.

Dalam bukunya itu, Hamka yang bernama asli Abdul Malik Karim Amrullah, menulis bahwa orang kaya ialah orang yang sedikit keperluannya.

Menentukan apakah seseorang itu kaya atau miskin, pada dasarnya bukan atas dasar materi yang dimiliki, melainkan keperluannya.

“Siapa yang paling sedikit keperluannya, itulah orang yang paling kaya dan siapa yang amat banyak keperluan itulah orang yang miskin,” tulis Hamka.

Bisa Belajar di Alam Terbuka.

Bagi Hamka, Allah-lah yang paling kaya, karena tidak punya keperluan maupun keinginan. Sementara raja-raja adalah orang yang paling miskin karena memiliki banyak keperluan. Kehidupan di dunia akan selalu diikat dengan aturan dan keperluan.

Karena itu, menurut Hamka, orang yang ingin menjadi kaya maka tipsnya adalah, cukupkan apa yang ada. Jangan tergoda dengan apa yang dimiliki orang lain. Tetap taat kepada Allah, dan miliki jiwa yang tenteram dalam menghadapi kehidupan.

Orang yang ingat pada sesuatu yang belum ada, ingin ini ingin itu, maka orang tersebut berarti menginginkan kemiskinan. Sedangkan orang yang menginginkan datangnya kekayaan, hidupnya berdiri di atas kesederhanaan karena menyalurkan hartanya pada sesuatu yang bermanfaat.

Dalam pandangan Hamka, kekayaan hakiki ialah mencukupkan apa yang ada, sudi menerima berapapun karena itulah nikmat Tuhan. Juga tidak kecewa bila jumlahnya berkurang, karena harta hanyalah titipan. Datang dan pergi.

Jika dilimpahkan banyak harta, penggunaannya harus untuk amal dan ibadah, untuk membina keteguhan hati menyembah Tuhan. “Harta tidak dicintai karena dia harta. Harta hanya dicintai sebab dia pemberian Tuhan. Dipergunakan kepada yang berfaedah,” kata Hamka, yang lahir 17 Februari 1908, di Sungai Batang Maninjau, Sumatra Barat.

Pimpinan Ponpes Modern Yadul Ulya, M. Angga Tirta katakan, “Lembaga pendidikan keagamaan ini, merupakan Pondok Tahfiz dan Digital” mewujudkan generasi Tauhid, adab, juga generasi terbaik.

Bhakti Sosial Kuttab Yadul ‘Ulya.

Berprogram utama antara lain terdiri Hapal Al Qur’an, kemudian pelatihan teknologi informasi melalui pembekalan keterampilan bisnis online.

Pada lingkungan Kuttab sebagai tempat utama mengajari anak-anak belajar Al Qur’an dengan demikian mulianya ilmu dalam syariat Islam, berinteraksi dengan masyarakat sekitarnya dan bergabung dalam kehidupan harian mereka.

Dibangun dengan kebersamaan dan saling menanggung dalam hal fasilitas pendidikan, sehingga meringankan beban negara dari besarnya pembiayaan pendidikan.

********

Esay/Fotografer : JDH.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here