Optimalkan Injury Time Ramadhan

0
7 views
Agung Sasongko. (Foto: dok. Republika).

Sabtu 25 May 2019 01:00 WIB
Red: Joko Sadewo

Agung Sasongko. (Foto: dok. Republika).

“Rasulullah juga makin meningkatkan ibadah di Injury Time Ramadhan”

REPUBLIKA.CO.ID, oleh Agung Sasongko*

Tak terasa bulan Ramadhan mendekati 10 hari terakhir. Ibarat sebuah pertandingan sepakbola, menit-menit akhir (injury time) merupakan paling menentukan dan menegangkan. Seluruh pemain akan mengeluarkan segenap kemampuannya guna mencetak gol, agar timnya menang atau menyelamatkan timnya dari kekalahan.

Begitu pula dengan akhir-akhir Ramadhan . Di fase ini, Rasulullah SAW lebih bersemangat dalam menunaikan berbagai macam ibadah dibandingkan hari-hari lainnya. (HR Muslim). Dalam hadis lain disebutkan, bila memasuki 10 hari terakhir Ramadhan, Nabi SAW menyingsingkan lengan baju, menghidupkan seluruh malamnya, dan membangunkan keluarganya. (HR Bukhari. Lih. Shahih Bukhari Juz II hal 711).

Rasulullah SAW menghidupkan seluruh malamnya dengan qiyam, tilawatul Quran, zikir dengan hati, lisan, dan anggota badan karena mulianya malam-malam ini dan untuk menanti Lailatul Qadar.

Amalan yang dicontohkan oleh Rasulullah pada malam-malam 10 terakhir adalah pertama, menghidupkan malam-malamnya untuk beribadah, shalat, zikir, dan lain-lain. Dalam riwayat an-Nasa’i dari Siti Aisyah ia berkata, “Aku tidak melihat Rasulullah SAW membaca Alquran atau shalat sepanjang malam sampai pagi selain bulan Ramadhan.”

Rasulullah senantiasa beriktikaf di 10 hari terakhir sampai beliau wafat. (HR Bukhari dan Muslim). Beliau beriktikaf untuk menggapai Lailatul Qadar, tekun secara total untuk menghidupkan malam-malamnya dalam munajat, zikir, dan berdoa. Beliau mengkhususkan tikar yang agak jauh dari yang lain agar lebih khusyuk. Amalan penting lainnya adalah tilawatul Quran dengan tadabur dan khusyuk. Beliau mengkhatamkan Alquran minimal dua kali pada bulan Ramadhan.

Apa yang dicontohkah Rasulullah SAW bisa kita terapkan apabila sunguh-sungguh untuk meraih ridha-Nya. Seperti diutarakan tadi, dalam sepakbola pun punya target. Misalnya, target menang lebih dari satu gol. Syukur-syukur bisa lima gol tanpa kebobolan. Target ini penting, karena akan menjadi tolak ukur seberapa besar perubahan ketimbang Ramadhan sebelumnya. Misalnya, Ramadhan tahun lalu, belum masuk agenda iktikaf di masjid. Nah, mulailah mencoba iktikaf di masjid. Ambil saja di akhir pekan, atau cari masjid dekat kantor sehingga keesokan harinya bisa berangkat kantor dengan mudah.

Juga jangan lupa berdoa agar mendapatkan kesempatan menikmati Lailatur Qadar. Rasulullah, dalam riwayat Ibnu Majah dari Anas bin Malik, bahkan menjadikan Lailatul Qadar sebagai barometer kesuksesan seseorang. Bila berhasil menggapai malam itu, ia sukses di bulan-bulan lainnya. Demikian juga sebaliknya. Jika terhalang, cacatlah hari-hari di luar Ramadhan.

Melihat dari begitu banyaknya keistimewaan di 10 hari terakhir Ramadhan, rasanya rugi sekali apabila kita melewatkannya. Bagi yang sudah nge-gas beribadah dari awal Ramadhan, penulis berharap bisa terus nge-gas hingga finish nanti. Bagi yang masih setengah-setengah mulai tancap gas. Bagi yang belum sama sekali, yuk mulai dengan apa yang kalian bisa. Yang terpenting mulailah dengan niat, bismillah.

Nantinya, ketika Ramadhan berakhir. Ketika hari kemenangan itu tiba, akan terlihat hasilnya. Ada yang menjadi lulusan terbaik Ramadhan dan ada yang sekedar lulus Ramadhan. Para lulusan ini akan menampilkan wajah yang berbeda pada 11 bulan berikutnya. Jadi, Anda lulusan yang mana?

*) Penulis adalah redaktur republika.co.id

*******

Republika.co.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here